Rabu, 23 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kiai Saad Ibrahim: Islam Berkemajuan Tumbuh dari Sinergi Ilmu Agama dan Sains

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Kiai Saad Ibrahim: Islam Berkemajuan Tumbuh dari Sinergi Ilmu Agama dan Sains

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MEDAN — Kader Muhammadiyah didorong untuk memadukan pemahaman keislaman dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bagian dari semangat Islam Berkemajuan.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim pada Selasa (22/9) dalam Baitul Arqom bagi tenaga kependidikan (tendik), Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), di BBPPMPV BBL, Jalan Setia Budi Nomor 75, Helvet, Medan, Sumatera Utara.

Dalam paparannya, Kiai Saad Ibrahim menjelaskan bahwa pemahaman Islam dalam Muhammadiyah berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah Maqbulah. Pemahaman terhadap sumber ajaran tersebut juga membutuhkan perangkat keilmuan, seperti ilmu hadis, usul fikih, dan metode tarjih.

Karena itu, perbedaan dalam persoalan keagamaan perlu ditempatkan secara proporsional. Sikap terhadap hasil ijtihad juga perlu disertai kerendahan hati dan toleransi selama berada dalam wilayah yang memang terbuka terhadap perbedaan.

Kiai Saad kemudian menekankan bahwa pemahaman keislaman perlu berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Menurutnya, semangat tersebut telah ditunjukkan K.H. Ahmad Dahlan melalui model pendidikan yang memadukan pelajaran agama dengan berbagai ilmu pengetahuan umum.

Menurutnya, sejarah peradaban Islam juga menunjukkan bahwa kemajuan umat tumbuh ketika ilmu agama berkembang bersama sains dan teknologi. Karena itu, budaya ilmu, riset, dan pengembangan kapasitas perlu terus diperkuat di lingkungan Muhammadiyah.

Kader Muhammadiyah juga didorong untuk tidak berhenti pada aktivitas di lingkungan amal usaha. Mereka perlu memperluas jejaring, meningkatkan kompetensi, mengembangkan dakwah, serta berkontribusi di perguruan tinggi, lembaga sosial, dan berbagai ruang publik.

Mengacu pada Surah Ali Imran ayat 139, Kiai mengingatkan kader Muhammadiyah agar tidak merasa lemah dan bersedih. Kebanggaan terhadap Muhammadiyah harus diwujudkan melalui karya dan kontribusi nyata.

“Kebanggaan kita pada Muhammadiyah itu bukan dalam konteks sombong tapi dalam konteks kebanggaan kita itu harus menjadikan kita produktif menjadikan kita bukan orang yang lemah menjadikan orang yang punya orientasi ke depan dan sebagainya, tegas Kiai Saad.”

Baitul Arqom UMSU tersebut menjadi bagian dari penguatan pemahaman keislaman, ideologi Muhammadiyah, kapasitas keilmuan, serta karakter tenaga kependidikan agar mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan umat dan bangsa. (taufik)

Tinggalkan Balasan