Senin, 21 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kemajuan Umat Harus Dimulai dari Masjid, Keluarga, dan Kemandirian Ekonomi

Oleh ilham 3 Menit Min
Kemajuan Umat Harus Dimulai dari Masjid, Keluarga, dan Kemandirian Ekonomi

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Kemajuan umat Islam perlu dibangun dari kehidupan yang paling dekat dengan masyarakat, yakni keluarga, kemandirian ekonomi, dan masjid. Ketiga hal tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban Islam yang kuat sekaligus mampu menjawab persoalan kehidupan masyarakat.

Hal itu disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Waluyo dalam Pengajian Ahad Kliwon di Yogyakarta, Ahad (20/9). Menurutnya, kemajuan umat tidak cukup dibangun melalui gagasan besar, tetapi perlu dimulai dari keyakinan yang kemudian diwujudkan dalam amal nyata.

Waluyo menyampaikan gagasan pengembangan pusat bisnis berbasis masjid. Salah satu rencana yang sedang diupayakan adalah pembangunan supermarket yang diharapkan menjadi pusat kegiatan ekonomi masjid.

Menurutnya, rencana tersebut merupakan bagian dari cita-cita agar masjid dapat berperan lebih luas dalam meningkatkan kesejahteraan jamaah. Ia juga menyebut rencana menghadirkan kafe dan ruang berkumpul yang dapat menjadi tempat interaksi masyarakat, khususnya generasi muda.

“Kita punya mimpi, punya cita-cita, dan punya kemauan untuk mendirikan pusat bisnis berbasis masjid,” katanya.

Ia menjelaskan, ruang-ruang tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif tempat berkegiatan bagi anak muda. Menurutnya, perubahan kebiasaan generasi muda perlu dipahami oleh para orang tua dan pengelola masjid.

Waluyo menilai anak muda saat ini membutuhkan ruang untuk berinteraksi, belajar, dan berkegiatan. Karena itu, menurutnya, masjid perlu menghadirkan suasana yang menarik dan positif bagi mereka.

“Biarkan mereka bergaul, tapi pergaulannya yang positif,” ujarnya.

Ia bahkan mengusulkan agar pada malam tertentu tersedia makan gratis atau makanan ringan bagi anak muda yang berkumpul di sekitar masjid. Gagasan tersebut diharapkan dapat membuat masjid menjadi ruang sosial yang menyenangkan sekaligus tetap memiliki orientasi keagamaan.

“Dakwah itu yang menyenangkan, menggembirakan bagi mereka yang sudah punya problem hidup yang sangat luar biasa,” katanya.

Menurut Waluyo, pendekatan tersebut penting karena masyarakat, terutama generasi muda, menghadapi berbagai persoalan ekonomi dan sosial. Ia mencontohkan persoalan harga rumah dan tanah, lapangan pekerjaan, serta biaya pendidikan yang dapat menjadi beban tersendiri bagi keluarga.

Karena itu, ia mendorong masjid dan lembaga dakwah untuk membaca persoalan konkret yang dihadapi masyarakat. Dakwah, menurutnya, perlu hadir dengan pendekatan yang menggembirakan, mencerahkan, sekaligus memberdayakan.

Keluarga sebagai Titik Awal Peradaban

Selain ekonomi, Waluyo menekankan bahwa pembangunan peradaban harus dimulai dari keluarga. Ia mengutip QS. At-Tahrim ayat 6 tentang kewajiban menjaga diri dan keluarga dari api neraka.

“Yang paling penting itu adalah menjaga dirimu dan keluargamu dari api neraka,” ungkapnya.

Menurut Waluyo, keluarga memiliki posisi penting karena hubungan keluarga tidak berhenti pada kehidupan dunia. Karena itu, membangun keluarga yang baik menjadi bagian dari persiapan kehidupan akhirat.

Ia mengingatkan agar orang tua berusaha membentuk anak-anak yang saleh dan salehah. Pendidikan keluarga, menurutnya, menjadi investasi amal yang dapat memberikan manfaat hingga kehidupan akhirat.

“Kita harus membangun peradaban ini dari keluarga,” tegasnya.

Dalam konteks kehidupan rumah tangga, Waluyo juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan antara suami dan istri. Ia menyebut perceraian sebagai salah satu hal yang harus dihindari karena dampaknya tidak hanya dirasakan pasangan, tetapi juga anak-anak.

Ia mengajak suami dan istri untuk saling memahami karakter masing-masing. Menurutnya, persoalan rumah tangga sering kali bermula dari hal-hal kecil yang tidak dikelola dengan baik.

“Pentingnya kita mengelola rumah tangga,” katanya.

Waluyo juga menekankan pentingnya suasana yang menyenangkan di dalam keluarga. Ia menyinggung perlunya perhatian sederhana antara suami dan istri, termasuk menyambut pasangan dengan sikap yang baik.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan hadis yang menggambarkan ciri perempuan salehah, di antaranya yang menyenangkan suaminya ketika dipandang dan taat dalam perkara yang baik.

Menurutnya, saling memahami karakter antara suami dan istri menjadi bagian penting untuk menjaga keutuhan keluarga. “Bapak-bapak pun harus mengerti dengan karakter ibu-ibu,” ujarnya.

Mendorong Kemandirian Ekonomi Umat

Waluyo kemudian mengajak masyarakat untuk membangun kemandirian ekonomi. Ia menegaskan bahwa setiap orang perlu berusaha sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Islam, menurutnya, tidak membedakan kemuliaan seseorang berdasarkan pekerjaan. Buruh, pedagang, maupun pegawai sama-sama memiliki kedudukan terhormat selama bekerja secara halal dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup.

“Mau kita buruh, mau kita pedagang, mau kita pegawai, asalkan kita mau berusaha itu dihargai mulia oleh agama Islam,” tuturnya.

Ia juga mengutip hadis tentang seseorang yang membawa kayu bakar untuk dijual sebagai bentuk usaha mencari nafkah yang lebih baik daripada meminta-minta.

Semangat tersebut, menurut Waluyo, perlu diterjemahkan pula dalam kehidupan organisasi. Ia mendorong Muhammadiyah untuk mengembangkan ekonomi berjamaah melalui berbagai unit usaha yang terhubung dengan masjid.

“Target kita akan kita dirikan minimarket atau toko-toko kecil atau unit-unit usaha yang lain yang itu tujuan utamanya adalah agar jemaah sekitar itu bisa sejahtera,” jelasnya.

Ia membayangkan model ekonomi tersebut dapat dikembangkan di masjid-masjid Muhammadiyah di berbagai daerah. Dengan begitu, masjid dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus pemberdayaan ekonomi jamaah.

Tinggalkan Balasan