MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perubahan teknologi. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto mendorong kader, terutama generasi muda, untuk menguasai teknologi tersebut dan menggunakannya secara maksimal untuk kemaslahatan.
Hal itu disampaikan Agung dalam Lensamu Podcast pada Ahad (20/09). Menurutnya, perkembangan teknologi tidak mungkin dihindari. Karena itu, generasi muda Muhammadiyah perlu memiliki kemampuan untuk mengikuti perubahan teknologi agar tidak tertinggal.
“Anak-anak muda harus menguasai teknologi modern, termasuk AI,” ujar Agung.
Ia menilai penguasaan teknologi perlu ditempatkan sebagai bagian dari semangat Islam Berkemajuan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, menurutnya, merupakan bagian dari dorongan Islam agar manusia terus belajar, mengembangkan peradaban, dan memberikan manfaat kepada kehidupan.
Namun, Agung mengingatkan bahwa penggunaan AI juga memiliki persoalan yang perlu diperhatikan, terutama berkaitan dengan validitas informasi. Informasi yang dihasilkan teknologi tidak selalu dapat diterima begitu saja sehingga perlu diperiksa dan diverifikasi.
“AI itu ada kelemahannya, terutama mengenai validitas informasi,” katanya. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi perlu disertai kecakapan untuk memeriksa informasi yang diperoleh.
Bagi Agung, penguasaan teknologi juga perlu berjalan bersama dengan etika. Ia menempatkan moral dan akhlak sebagai fondasi kehidupan manusia, termasuk dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Menurutnya, kecerdasan tanpa etika dapat digunakan untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok. Pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seseorang justru dapat digunakan untuk “minteri” orang lain apabila tidak disertai nilai moral.
Karena itu, pendidikan akhlak perlu menjadi dasar dalam pengembangan manusia. Kemampuan intelektual, teknologi, dan pengetahuan seharusnya diarahkan pada kepentingan masyarakat luas.
Gagasan tersebut ia hubungkan dengan semangat Islam Berkemajuan. Agung mengatakan Islam mendorong umat untuk membaca, belajar, meneliti, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Ia menjadikan perintah Iqra sebagai salah satu dasar penting dalam tradisi keilmuan Islam. Pengetahuan yang diperoleh manusia diharapkan meningkatkan keimanan sekaligus memberikan manfaat kepada orang lain.
“Ilmu itu harus menambah iman dan memberikan manfaat kepada orang lain,” tuturnya.
Agung juga mengaitkan semangat tersebut dengan posisi manusia sebagai khalifah dan pembawa rahmat bagi kehidupan. Menurutnya, ukuran kemajuan tidak berhenti pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada sejauh mana ilmu dan teknologi menghasilkan manfaat.
Karena itu, agama tidak semestinya dipahami sebatas urusan ketenangan pribadi. Islam Berkemajuan, menurut Agung, harus mendorong umat untuk ikut memajukan kehidupan dan menghadirkan manfaat bagi manusia serta lingkungan sekitarnya.
Dalam konteks generasi muda, Agung juga mengingatkan perubahan pola hidup akibat perkembangan teknologi digital. Ia mengutip ungkapan, “setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya.”
Menurutnya, perubahan generasi merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perubahan tersebut perlu tetap memiliki pijakan identitas. Manusia tetap harus memahami dirinya sebagai makhluk yang diciptakan Allah dengan tujuan beribadah sekaligus menghadirkan manfaat dan rahmat.
Dunia digital yang semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari juga tidak semestinya membuat generasi muda sepenuhnya hidup di ruang digital. Interaksi sosial secara langsung, aktivitas fisik, olahraga, dan perhatian terhadap kesehatan tetap diperlukan.
Agung melihat tantangan generasi muda ke depan adalah bagaimana menggabungkan penguasaan teknologi dengan nilai-nilai Islam. Teknologi dapat terus berubah, tetapi orientasi penggunaannya perlu diarahkan pada kemaslahatan.






