Jumat, 25 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kader Muhammadiyah di Saudi Soroti Keamanan Kawasan dan Peluang Pendidikan

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Kader Muhammadiyah di Saudi Soroti Keamanan Kawasan dan Peluang Pendidikan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA — Kerja sama pertahanan Arab Saudi, Pakistan, dan Turki menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan kader Muhammadiyah di Arab Saudi. Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi, Dicky Zulkarnain Tamy, menyebut kerja sama tersebut menjadi momentum penting bagi ketiga negara dalam memperkuat pertahanan dan keamanan kawasan.

Hal itu disampaikan Dicky dalam program Diaspora Muhammadiyah di TVMu, Rabu (23/9). Menurutnya, kerja sama yang sebelumnya berlangsung secara bilateral antara Arab Saudi dan Pakistan berkembang menjadi kerja sama trilateral dengan melibatkan Turki.

“Walaupun sifatnya kerja samanya itu belum seperti NATO, tapi kerja samanya itu saling bantu di bidang pertahanan,” kata Dicky.

Ia melihat ketiga negara memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Arab Saudi memiliki kekuatan ekonomi, Pakistan memiliki kekuatan pertahanan, sedangkan Turki memiliki teknologi yang dapat mendukung kerja sama pertahanan. Karena itu, menurut Dicky, kerja sama tersebut memiliki manfaat bagi masing-masing negara.

Dalam konteks Arab Saudi, Dicky menilai kerja sama pertahanan juga berkaitan dengan upaya memperkuat kemandirian keamanan negara. Menurutnya, pengalaman menghadapi ancaman terhadap kawasan membuat Arab Saudi perlu memperkuat pertahanan melalui kerja sama dengan negara lain, termasuk melalui pertukaran pengetahuan.

“Kita melihat langkah kerja sama pertahanan dari mulai bilateral sampai ini merupakan langkah yang mana Saudi mulai tidak bergantung terhadap negara-negara Barat,” ujarnya.

Dicky juga menjelaskan posisi geografis ketiga negara membuat kerja sama tersebut memiliki konteks strategis masing-masing. Pakistan berbatasan dengan Iran dan berkepentingan menjaga stabilitas kawasan. Turki memiliki kedekatan dengan kawasan Eropa dan NATO, sedangkan Arab Saudi berada di kawasan Timur Tengah yang berdekatan dengan sejumlah titik konflik.

Namun, ia menegaskan bahwa kerja sama tersebut tidak berarti setiap serangan terhadap satu negara secara otomatis membuat negara lain ikut melakukan serangan. Menurutnya, bentuk kerja sama lebih diarahkan pada penguatan pertahanan dan keamanan masing-masing negara.

Bagi warga Muhammadiyah yang tinggal di Arab Saudi, kondisi keamanan sejauh ini disebut relatif kondusif. Dicky mengatakan dirinya terus berkomunikasi dengan kader Muhammadiyah di sejumlah wilayah untuk memastikan kondisi mereka, termasuk ketika terjadi kabar mengenai serangan di beberapa daerah.

“Alhamdulillah semua dalam keadaan sehat walafiat,” katanya.

Menurut Dicky, situasi di Arab Saudi juga masih berjalan normal dari sisi kehidupan masyarakat dan ekonomi. Dampak konflik lebih terasa pada sektor tertentu, seperti penerbangan, ketika terjadi serangan atau kondisi yang berpotensi mengganggu perjalanan.

Di sisi lain, PCIM Arab Saudi mulai menyiapkan berbagai agenda untuk kader dan pelajar. Salah satunya persiapan tim haji untuk musim 1448 Hijriah. PCIM Arab Saudi akan melibatkan ranting-ranting Muhammadiyah yang tersebar di berbagai wilayah Saudi dalam kegiatan tersebut.

Perhatian PCIM Arab Saudi juga diarahkan pada meningkatnya minat kader Muhammadiyah untuk melanjutkan pendidikan di negeri tersebut. Dicky menyebut antusiasme calon pelajar cukup tinggi. Dalam masa liburan di Indonesia, ia bersama sejumlah kader bahkan melakukan safari madrasah dengan mengunjungi sekolah-sekolah di berbagai daerah untuk memperkenalkan peluang studi di Arab Saudi.

Menurutnya, kesempatan belajar di Arab Saudi kini semakin beragam. Perguruan tinggi di sana tidak hanya menyediakan program studi keagamaan, tetapi juga membuka berbagai bidang umum. Di Universitas Islam Madinah, misalnya, terdapat program studi bidang MIPA, komputer, dan teknik. Sementara kampus-kampus lain menawarkan pilihan program yang lebih beragam.

Untuk calon mahasiswa, Dicky menyarankan agar persiapan dilakukan sejak awal, terutama dalam melengkapi dokumen dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan melalui platform Study in Saudi. Kemampuan bahasa Arab menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan bagi calon mahasiswa program keagamaan. Sementara untuk program umum, kemampuan bahasa Inggris dan persyaratan akademik lainnya juga perlu dipersiapkan.

Ia juga menyebut rekomendasi sebagai salah satu bagian penting dalam proses pendaftaran. Namun, menurut Dicky, rekomendasi tersebut bukan jalur khusus untuk memasukkan seseorang ke perguruan tinggi. Seleksi tetap dilakukan oleh pihak perguruan tinggi atau pemerintah Arab Saudi.

“Jadi itu semua karena memang di Saudi sendiri kan enggak ada mengatasnamakan orang dan sebagainya ya. Jadi memang akreditasi sekolah itu sangat berpengaruh dan juga ikhtiar dan doa daripada masing-masing calon mahasiswa itu sangat penting sekali,” ujarnya.

Kesempatan studi tersebut juga terbuka bagi perempuan. Dicky menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir terdapat perubahan kebijakan yang membuat akses perempuan untuk belajar di Arab Saudi semakin terbuka. Ia juga menyebut keberadaan dosen perempuan serta pengaturan pendidikan yang memisahkan mahasiswa laki-laki dan perempuan.

Bagi kader Muhammadiyah, menurut Dicky, kesempatan belajar di Arab Saudi memiliki dimensi akademik sekaligus pengalaman keagamaan. Keberadaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para pelajar.

“Di Saudi salah satu poin utamanya adalah Haramain,” kata Dicky.

Tinggalkan Balasan