Minggu, 4 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Hidup Hanya Sekali, Gunakan Waktu untuk Amal yang Bermakna

Oleh timredaksi • • 4 Menit Min
Hidup Hanya Sekali, Gunakan Waktu untuk Amal yang Bermakna

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Kehidupan manusia memiliki waktu yang terbatas. Karena itu, setiap waktu yang diberikan Allah SWT perlu diarahkan pada amal yang bermakna dan bernilai di hadapan-Nya. Pertanyaan tentang tujuan hidup menjadi penting agar kesibukan sehari-hari memiliki arah yang jelas.

Hal tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Talqis Nurdianto dalam kajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Kamis (10/09). Kajian tersebut mengangkat refleksi dari buku Pelajaran KH Ahmad Dahlan: 7 Falsafah dan 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an, yang salah satu pembahasannya mengajak jamaah merenungkan pertanyaan, “Untuk apa kita hidup?”

Talqis mengajak jamaah melihat kembali usia yang telah diberikan Allah. Menurutnya, panjang usia bukan ukuran kehebatan seseorang. Nilai kehidupan justru ditentukan oleh kualitas amal yang dilakukan selama waktu tersebut.

Ia mengutip hadis yang menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. “Jadi kemudian kualitas itu, kualitas hidup ditentukan dengan seberapa berkualitas amal ibadah yang dikerjakan,” ujarnya.

Gambaran singkatnya kehidupan manusia juga dapat dilihat melalui perbandingan waktu dunia dan akhirat. Talqis menyebut usia 100 tahun dalam kehidupan dunia sangat singkat jika dibandingkan dengan gambaran waktu dalam Al-Qur’an. Karena itu, persoalannya bukan semata panjang usia, melainkan bagaimana usia tersebut digunakan.

“Yang singkat ini bagaimana menjadi bermanfaat,” katanya.

Empat Bekal Agar Tidak Merugi

Talqis kemudian mengajak jamaah merenungkan kandungan Surah Al-‘Ashr. Dalam surah tersebut, manusia disebut berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat dalam kebenaran, dan saling berwasiat dalam kesabaran.

Menurutnya, keempat hal tersebut menjadi satu kesatuan dalam kehidupan seorang Muslim. Iman berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah, sedangkan amal saleh menunjukkan hubungan manusia dengan sesama. Keduanya perlu berjalan bersama dan dilengkapi dengan komitmen terhadap kebenaran serta kesabaran.

“Untuk apa kita hidup? Menggunakan kehidupan dengan amal saleh, memadatkan waktu dengan beramal saleh,” tuturnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat memiliki jadwal yang padat karena kuliah, bekerja, membangun karier, mencari harta, atau membangun relasi. Namun, kesibukan tersebut perlu diperiksa kembali arahnya.

Talqis mengingatkan agar seseorang sesekali kembali ke majelis ilmu untuk melakukan refleksi dan muhasabah. Menurutnya, majelis ilmu dapat menjadi ruang untuk mengingat kembali tujuan hidup ketika seseorang mulai terbawa oleh berbagai kesibukan.

“Kita sibuk boleh, tapi jangan sampai kehilangan arah,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa popularitas di dunia tidak menjadi ukuran keberhasilan seseorang di hadapan Allah. Ada orang yang dikenal luas oleh manusia, tetapi amalnya tidak menjadi bekal bagi kehidupan akhirat. Sebaliknya, ada orang yang tidak dikenal masyarakat, tetapi memiliki kedudukan karena amal salehnya.

Talqis mencontohkan Uwais al-Qarni sebagai sosok yang dikenal karena baktinya kepada sang ibu. Pesannya, kesibukan dan pencapaian dunia perlu tetap diarahkan pada amal yang bernilai di hadapan Allah.

Hidup Sekali sebagai Taruhan

Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan salah satu falsafah KH Ahmad Dahlan bahwa hidup hanya sekali sebagai taruhan. Karena kesempatan hidup di dunia hanya satu kali, kehidupan perlu dijalani dengan kesadaran terhadap tujuan dan pertanggungjawaban di akhirat.

“Hiduplah yang berarti karena kita itu hidup sekali,” kata Talqis.

Menurutnya, kehidupan dunia merupakan kesempatan untuk menentukan masa depan manusia di akhirat. Karena itu, seseorang perlu bertanya kepada dirinya tentang apa yang telah dipersiapkan untuk kehidupan setelah kematian.

Talqis mengajak jamaah mengukur keberhasilan dari sudut pandang Allah. Pertanyaan pentingnya bukan sekadar apa yang terlihat membanggakan di hadapan manusia, tetapi amalan apa yang dapat dipersembahkan kepada Allah dengan ikhlas.

“Prestasi apa yang membanggakan di hadapan Allah? Kita menilainya, bukan di hadapan manusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kehidupan manusia juga perlu memiliki target perbaikan. Muhasabah dapat dilakukan dengan melihat kebiasaan yang perlu dikurangi, hak orang lain yang mungkin telah terambil, serta kesalahan yang belum diselesaikan.

Tujuannya agar kehidupan tidak berjalan tanpa arah. Setiap hari perlu menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri dan menambah amal yang bermanfaat.

Ibadah Meliputi Seluruh Aktivitas

Talqis kemudian menjelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah sebagaimana disebut dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56. Ibadah dalam pengertian luas mencakup perkataan dan perbuatan yang dicintai serta diridai Allah.

Karena itu, ibadah memiliki cakupan yang luas. Salat, puasa, dan membaca Al-Qur’an merupakan ibadah. Membantu orang lain, mengangkat barang milik orang lain, menjaga kebersihan masjid, belajar, bekerja, dan berbagai aktivitas bermanfaat juga dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar karena Allah.
“Jadi kemudian ibadah tidak hanya sekadar ritual,” jelasnya. “Belajarnya kita, bekerjanya kita, berprestasinya putra-putri Bapak Ibu, dan menolong orang lain itu termasuk ibadah jika diniatkan karena Allah dengan niat yang benar.”

Meski demikian, banyaknya aktivitas belum cukup menjadi ukuran. Talqis menekankan pentingnya kualitas amal. Ia mengaitkannya dengan QS Al-Mulk ayat 2 yang menyebut kehidupan dan kematian sebagai ujian untuk melihat siapa yang paling baik amalnya.

“Bukan sekadar siapa yang paling banyak aktivitasnya, tapi kualitas selalu mengalahkan kuantitas,” katanya.

Kesibukan Perlu Tetap Berorientasi Akhirat

Talqis juga mengajak jamaah mengevaluasi penggunaan waktu sehari-hari. Dari 24 jam yang dimiliki, setiap orang perlu bertanya berapa banyak waktu yang diarahkan menjadi bekal akhirat.

Ia mencontohkan waktu untuk bekerja, tidur, maupun menggunakan media sosial. Aktivitas tersebut tetap dapat dijalankan, tetapi perlu disertai kesadaran agar kehidupan sehari-hari tetap terhubung dengan tujuan ibadah.

“Sambil nyetir bisa beribadah, ibu-ibu sambil masak bisa beribadah. Berzikir, istigfar, subhanallah, walhamdulillah, walailahaillallah, wallahu akbar,” tuturnya.

Menurut Talqis, seorang Muslim juga perlu siap menghadapi ujian. Keberhasilan maupun kesulitan sama-sama dapat menjadi ujian keimanan. IPK yang tinggi, prestasi, uang, jabatan, dan keberhasilan organisasi dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, tetapi dapat pula menjadi sumber kesombongan apabila tidak dikelola dengan benar.

Begitu pula kegagalan akademik, tekanan ekonomi, maupun kesulitan hidup dapat menjadi ujian yang menguji keteguhan seseorang. Karena itu, setiap kondisi perlu dihadapi dengan kesadaran bahwa seluruh amal akan diperhitungkan.

Tinggalkan Balasan