Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Dari Kegelisahan Menjadi Kepakaran, Begini Perjalanan Intelektual Prof. Syamsul Anwar

Oleh timredaksi 4 Menit Min
Dari Kegelisahan Menjadi Kepakaran, Begini Perjalanan Intelektual Prof. Syamsul Anwar

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Prof. Syamsul Anwar dikenal sebagai intelektual sekaligus ulama Muhammadiyah yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan pemikiran Islam dan hukum Islam di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.

Kiprahnya dalam bidang keilmuan dan tarjih mengantarkannya pada berbagai amanah penting di Muhammadiyah. Selama 22 tahun, sejak 2000 hingga 2022, ia dipercaya sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kini, ia mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027.

Namun, perjalanan panjang tersebut tidak lahir begitu saja. Justru, di balik perjalanan karir dan intelektualnya, terdapat sejumlah kegelisahan yang perlahan mendorongnya untuk terus belajar, mendalami ilmu, dan menemukan jalan pengabdiannya di Muhammadiyah.

Kisah tersebut disampaikan Syamsul dalam Talkshow Peluncuran Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran: 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar, Senin (31/8). Buku yang memuat tulisan sejumlah penulis itu merekam perjalanan kehidupan, kiprah, pemikiran, serta kesaksian kerabat dan murid mengenai sosok Syamsul Anwar.

Dalam talkshow tersebut, terungkap bahwa tradisi merawat keilmuan merupakan salah satu karakter yang melekat kuat pada diri Syamsul. Baginya, semangat belajar bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang terus berlangsung.

Syamsul mengaku, sejak awal menempuh pendidikan di tingkat SMP, ia telah memiliki ketertarikan untuk terus belajar. Namun, ia sama sekali tidak pernah membayangkan perjalanan tersebut akan membawanya menjadi guru besar dalam bidang hukum Islam, terlebih dipercaya memimpin Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

“Dulu saya tidak pernah membayangkan menjadi guru besar dalam hukum Islam. Apalagi sampai menjadi Ketua Majelis Tarjih,” ujarnya.

Ditunjuk Buya Syafi’i, Mengemban Amanah Ketua Majelis Tarjih

Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam perjalanan Syamsul adalah ketika ia ditunjuk oleh Prof. Ahmad Syafi’i Ma’arif untuk mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Alih-alih merasa senang, amanah tersebut justru sempat membuatnya diliputi kegelisahan. Ia mengaku selama dua bulan tidak dapat tidur dengan tenang karena memikirkan tanggung jawab besar yang berada di hadapannya.

Salah satu hal yang membuatnya khawatir adalah persoalan haji. Ketika ditunjuk sebagai Ketua Majelis Tarjih, Syamsul belum menunaikan ibadah haji. Ia khawatir suatu saat harus menjawab pertanyaan mengenai haji, sementara dirinya belum pernah menunaikan ibadah tersebut karena keterbatasan ekonomi.

“Saat ditunjuk Prof. Syafi’i Ma’arif, saya bahkan dua bulan tidak bisa tidur siang malam. Ditunjuk sebagai Ketua Tarjih, tapi saat itu saya belum berhaji. Saya takut pada saat itu ketika ditanya perihal haji karena belum mengalaminya secara langsung,” ungkap Syamsul.

“Mau haji tidak cukup, karena uang belum cukup dan gaji untuk makan saja tidak cukup,” tuturnya menambahkan.

Dalam kondisi tersebut, Syamsul kemudian memutuskan pulang ke kampung halamannya di Riau setelah 18 tahun lamanya tidak kembali. Kepulangannya itu didasari atas keinginannya menjenguk orang tuanya yang sedang sakit sekaligus juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi diri.

Bagai pepatah yang pernah mengatakan “Rezeki tidak akan pernah tertukar”, Syamsul Anwar ketika setelah melalui pulang kampungnya dan kembali ke Yogyakarta, tiba-tiba mendapat panggilan khusus dari PP Muhammadiyah untuk menunaikan ibadah haji melalui undangan dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud di Arab Saudi.

“Saya langsung dipanggil PP untuk membuat paspor, tiga hari harus jadi. Ternyata saya diberangkatkan haji karena ada undangan dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud,” kata Syamsul.

Dari Kegelisahan Menuju Kepakaran

Kisah lain yang tidak kalah berkesan bagi Syamsul adalah ketika ia mulai berhadapan dengan persoalan hisab rukyat.

Sebagai seorang yang berlatar belakang Fakultas Syariah, ia memang pernah mendapatkan pembelajaran mengenai ilmu tersebut. Namun, ia mengakui bahwa ketika mulai mendapatkan berbagai pertanyaan tentang hisab dan rukyat, pengetahuannya masih sangat terbatas.

“Pengetahuan saya terkait hisab rukyat saat itu bahkan bisa dikatakan nol,” ungkapnya.

Alih-alih menghindari pertanyaan tersebut, Syamsul justru menjadikannya sebagai pemantik untuk belajar lebih serius. Berbagai buku dan artikel dikumpulkannya, dibeli, bahkan difotokopi untuk dipelajari secara mandiri.

Proses tersebut tidak berlangsung singkat. Ia harus melalui perjalanan panjang untuk memahami ilmu hisab dan rukyat. Salah satu metode yang digunakannya adalah cara belajar yang pernah diterapkan ketika menempuh studi S2 Aqidah dan Filsafat, yakni memahami berbagai konsep melalui tulisan-tulisan singkat, ringkas, dan bantuan berbagai kamus.

“Walaupun susah, tapi lama-lama saya paham. Kurang lebih prosesnya tiga tahun. Bahkan saya sempat mengikuti perkuliahan bersama murid-murid di PUTM selama satu semester,” tuturnya.

Selanjutnya, perjalanan belajar tersebut kemudian berkembang menjadi kontribusi yang lebih luas. Setelah sekitar tujuh tahun berada di Majelis Tarjih, pada periode 2000–2007, Syamsul bersama tim Majelis Tarjih mulai mengembangkan agenda intelektual yang lebih luas dalam bidang kalender Islam dengan menggelar simposium internasional mengenai kalender Islam internasional yang kemudian berkembang menjadi salah satu agenda khusus di lingkungan Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Setahun kemudian, pada 2008, Syamsul mulai berani tampil sebagai pemateri dalam berbagai forum internasional yang membahas ilmu falak. Perjalanan itu menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam kehidupan intelektualnya. Apa yang pada awalnya hadir sebagai kegelisahan karena keterbatasan ilmu dan tuntutan amanah, perlahan justru berubah menjadi jalan menuju kepakaran.

Bagi Syamsul, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan pengetahuan tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti. Sebaliknya, sebuah pertanyaan yang belum mampu dijawab dapat menjadi pintu untuk membuka ruang belajar yang lebih luas.

Dari sana, semangat belajar tidak hanya membentuk dirinya sebagai seorang akademisi, tetapi juga menjadi bekal dalam menjalankan amanah keulamaan dan amanah di persyarikatan.

“Jadi, itulah pengalaman saya yang berkesan dalam pengalaman intelektual saya,” pungkas Syamsul. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan