MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Dakwah membutuhkan kemampuan membaca kondisi masyarakat. Perbedaan tingkat pemahaman keagamaan membuat pendekatan dakwah perlu disesuaikan agar pesan Islam dapat diterima secara tepat dan menghadirkan kemaslahatan.
Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Gita Danu Pranata menyampaikan hal itu dalam Pengajian Malam Selasa pada Senin (07/09). Ia menjelaskan bahwa umat memiliki tingkat pemahaman dan pengamalan Islam yang beragam.
Gita menggambarkan setidaknya empat tingkatan. Pertama, Muslim yang memiliki identitas keislaman, tetapi belum memahami tujuan Islam secara mendalam dan masih kuat dipengaruhi lingkungan. Kedua, Muslim yang menjalankan ibadah dasar. Ketiga, Muslim yang memahami Islam secara lebih komprehensif. Keempat, Muslim yang mampu menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Perbedaan tersebut, menurutnya, perlu menjadi pertimbangan dalam berdakwah. Cara menyampaikan pesan kepada seseorang yang baru mengenal dasar-dasar Islam tentu berbeda dengan pendekatan kepada orang yang telah memiliki pemahaman keagamaan yang lebih luas.
Gita mengibaratkan kondisi itu seperti dunia pendidikan. Cara mengajar siswa sekolah dasar berbeda dengan cara mengajar mahasiswa. Dakwah pun membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kemampuan dan keadaan orang yang menjadi sasaran dakwah.
Karena itu, dakwah perlu dimulai dengan membaca keadaan. Perintah iqra dalam Surah al-‘Alaq menurutnya dapat dipahami dalam konteks yang lebih luas, termasuk membaca persoalan lingkungan dan masyarakat.
“Membaca keadaan problematika lingkungan sesuai levelnya masing-masing,” ujarnya.
Kemampuan membaca keadaan tersebut berkaitan dengan karakter Islam berkemajuan yang mengedepankan ilmu dan amal. Pengetahuan tentang kondisi masyarakat menjadi dasar untuk menentukan tindakan dakwah yang tepat.
Gita juga mengingatkan pentingnya keseimbangan dalam menjalankan peran sebagai ‘Abdullah dan khalifatullah. Manusia memiliki tanggung jawab kepada Allah sekaligus tanggung jawab dalam mengelola kehidupan di bumi.
Ia memberikan ilustrasi sederhana tentang seseorang yang hendak pergi ke masjid untuk salat, tetapi di perjalanan melihat seorang anak menangis dan membutuhkan pertolongan. Dalam kondisi tertentu, membantu anak tersebut dapat menjadi tindakan yang lebih tepat daripada mengabaikan keadaan demi segera sampai ke masjid.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa keberagamaan membutuhkan kemampuan memahami konteks. Praktik keislaman perlu ditempatkan dalam keseluruhan tujuan syariat dan kemaslahatan kehidupan.
Pendekatan yang sama berlaku dalam amar makruf nahi mungkar. Gita menjelaskan bahwa upaya mencegah kemungkaran dapat dilakukan dengan menciptakan kondisi yang mendorong kebaikan.
“Hal-hal yang menyebabkan kemungkaran itu kita buat, kita kondisikan agar tidak memacu kepada kemungkaran. Dengan apa? Bilruf, dengan cara yang baik,” katanya.
Dakwah juga perlu mengedepankan keteladanan dan kebaikan. Menurut Gita, pendekatan yang bijaksana dapat membuat masyarakat menerima pesan dakwah dengan lebih baik.
“Dengan keteladanan dengan kebaikan justru mereka akan takzim kepada kita,” tuturnya.
Pada titik ini, prinsip wasatiah menjadi penting. Gita menilai kehidupan masyarakat memiliki banyak situasi yang membutuhkan keluwesan dalam menentukan sikap. “Di situ yang namanya wasatiah tadi rahmatan lil alamin akan muncul. Oh, ternyata ada fleksibilitasnya dalam kehidupan ini. Tidak bisa ekstrem, tidak bisa hitam putih,” jelasnya.
Dakwah yang membaca keadaan masyarakat pada akhirnya diarahkan untuk menghadirkan Islam sebagai rahmat. Pendekatan tersebut membutuhkan ilmu, kebijaksanaan, keteladanan, serta kesediaan memahami keragaman kondisi umat.
Bagi Gita, dakwah juga perlu menggembirakan dan membuka ruang kerja sama. Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam berbagai ruang kehidupan, termasuk masjid. Masjid, menurutnya, perlu menjadi pusat kegiatan yang memberi manfaat bagi masyarakat. Fungsinya dapat dikembangkan sebagai ruang pemberdayaan dan berbagai kegiatan kebaikan.
“Masjid kita itu namanya makmur. Bukan hanya untuk salat fardu, bukan hanya untuk salat jemah, tapi memang untuk pemberdayaan, untuk kebaikan,” pungkasnya.






