Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Adakah Khutbah dalam Salat Istisqa?

Oleh ilham 3 Menit Min
Adakah Khutbah dalam Salat Istisqa?

Ketika membicarakan salat istisqa, pertanyaan yang sering muncul bukan hanya bagaimana salatnya dilakukan, tetapi juga apa yang terjadi setelah dua rakaat selesai. Apakah ada khutbah seperti dalam salat Jumat? Jika ada, berapa kali khutbahnya? Dan apakah khutbah dilakukan sebelum atau sesudah salat?

Dalam tuntunan Tarjih Muhammadiyah, jawabannya cukup jelas: ada khutbah dalam rangkaian istisqa. Namun, khutbah istisqa tidak sama dengan khutbah Jumat dalam jumlahnya. Khutbah istisqa dilakukan satu kali, dan dapat dilaksanakan setelah salat atau, berdasarkan riwayat tertentu, sebelum salat.

Setelah Salat Ada Khutbah

Putusan Tarjih Muktamar XX di Garut 1976 menuntunkan bahwa apabila istisqa dilakukan dengan salat, imam keluar bersama jamaah menuju tanah lapang setelah matahari terbit. Jamaah datang dengan pakaian sederhana, penuh kerendahan hati dan kekhusyukan. Setelah itu imam memimpin salat dua rakaat tanpa azan dan iqamah, dengan bacaan yang dinyaringkan.

Setelah salat, imam menyampaikan khutbah. Dalam khutbah tersebut, istighfar dan doa diperbanyak. Imam kemudian mengangkat kedua tangannya, menghadap kiblat dengan membelakangi jamaah, lalu berdoa. Setelah itu pakaian luarnya dibalik, bagian kanan ditempatkan di sebelah kiri dan bagian kiri di sebelah kanan.

Dasarnya antara lain hadis Abu Hurairah:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ู†ูŽุจููŠู‘ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ูŠูŽุณู’ุชูŽุณู’ู‚ููŠ ููŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุจูู†ูŽุง ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุจูู„ูŽุง ุฃูŽุฐูŽุงู†ู ูˆูŽู„ูŽุง ุฅูู‚ูŽุงู…ูŽุฉู ุซูู…ู‘ูŽ ุฎูŽุทูŽุจูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฏูŽุนูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุญูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู ู†ูŽุญู’ูˆูŽ ุงู„ู’ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉู ุฑูŽุงููุนู‹ุง ูŠูŽุฏูŽู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽู„ูŽุจูŽ ุฑูุฏูŽุงุกูŽู‡ู ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽูŠู’ู…ูŽู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูŽูŠู’ุณูŽุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽูŠู’ุณูŽุฑูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูŽูŠู’ู…ูŽู†ู

โ€œDari Abu Hurairah ra., bahwa dia berkata: Nabi Saw pada suatu hari keluar untuk melakukan istisqa, lalu ia salat mengimami kami dua rakaat tanpa azan dan tanpa iqamat. Kemudian ia berkhutbah dan berdoa kepada Allah, seraya menghadapkan mukanya ke arah kiblat, sambil mengangkat kedua tangannya, kemudian memutar jubahnya, sehingga ujung kanannya berada di sebelah kiri dan ujung kirinya berada di sebelah kanan.โ€

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad.

Hadis tersebut menunjukkan urutan yang sederhana: salat dua rakaat, kemudian khutbah dan doa.

Tetapi Khutbah Bisa Sebelum Salat

Apakah berarti khutbah harus selalu dilakukan setelah salat?

Tidak juga.

Riwayat โ€˜Aisyah memberikan gambaran yang berbeda. Ketika masyarakat mengeluhkan kekeringan, Nabi Saw memerintahkan agar mimbar disiapkan di tempat salat. Beliau kemudian keluar ketika matahari mulai tampak, duduk di atas mimbar, bertakbir dan memuji Allah, menyampaikan keadaan yang dialami masyarakat, kemudian berdoa. Beliau mengangkat kedua tangan, membalik pakaian, lalu menghadap kepada masyarakat dan turun dari mimbar untuk melaksanakan salat dua rakaat.

Riwayat ini menjadi dasar bahwa khutbah juga dapat dilakukan sebelum salat istisqa. Putusan Tarjih sendiri menyebut bahwa khutbah dapat dilakukan setelah salat, tetapi boleh pula dilakukan sebelum salat berdasarkan hadis โ€˜Aisyah tersebut.

Jadi, yang menjadi persoalan bukan apakah khutbah ada atau tidak, melainkan bagaimana urutannya.

Satu Khutbah, Bukan Dua

Lalu, apakah khutbah istisqa dilakukan dua kali seperti khutbah Jumat?

Sumber Tarjih menjelaskan bahwa tidak ada riwayat yang menyebut Nabi Saw melakukan dua khutbah dalam istisqa. Dalam hadis-hadis tentang istisqa juga tidak ditemukan keterangan mengenai adanya duduk di antara dua khutbah seperti dalam khutbah Jumat. Karena itu, khutbah istisqa dipahami sebagai satu kali khutbah.

Salah satu dasarnya adalah hadis Ibnu Abbas:

ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูุชูŽุจูŽุฐู‘ูู„ู‹ุง ู…ูุชูŽูˆูŽุงุถูุนู‹ุง ู…ูุชูŽุถูŽุฑู‘ูุนู‹ุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฒูŽุงุฏูŽ ุนูุซู’ู…ูŽุงู†ู ููŽุฑูŽู‚ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูู†ู’ุจูŽุฑู ุซูู…ู‘ูŽ ุงุชู‘ูŽููŽู‚ูŽุง ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฎู’ุทูุจู’ ุฎูุทูŽุจูŽูƒูู…ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฒูŽู„ู’ ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูุนูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽุถูŽุฑู‘ูุนู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽูƒู’ุจููŠุฑู ุซูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ูููŠ ุงู„ู’ุนููŠุฏู

โ€œRasulullah Saw berjalan dengan pakaian lusuh, dengan hati pasrah dan khusyuk hingga sampai ke lapangan tempat salat. โ€˜Utsman Ibn Abi Syaibah, salah seorang perawi dalam hadis ini, menambahkan, โ€˜lalu Rasulullah Saw naik ke atas mimbarโ€™. Kemudian kata-kata โ€˜Utsman dan an-Nufaili sama lagi. Beliau tidak berkhutbah seperti khutbah kamu ini, melainkan terus berdoa, khusyuk dan bertakbir, kemudian salat dua rakaat seperti salat dua hari raya.โ€

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Nasaโ€™i, dan al-Tirmidzi.

Syamsuddin Ibnu Qudamah memahami riwayat tersebut sebagai petunjuk bahwa khutbah istisqa adalah satu kali. Az-Zailaโ€™i juga menjelaskan bahwa Nabi Saw tidak pernah diriwayatkan melakukan dua khutbah dalam istisqa seperti khutbah Jumat.

Isi Khutbahnya Apa?

Khutbah istisqa pada dasarnya mengikuti bentuk khutbah pada umumnya. Perbedaannya terletak pada penekanannya. Khutbah ini memperbanyak istighfar dan doa, serta mengajak jamaah bertobat dan memohon ampun kepada Allah.

Di antara ayat yang dicantumkan dalam tuntunan khutbah adalah firman Allah melalui lisan Nabi Hud:

ุงุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููˆุง ุฑูŽุจู‘ูŽูƒูู…ู’ ุซูู…ู‘ูŽ ุชููˆุจููˆุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ูŠูุฑู’ุณูู„ู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู… ู…ูู‘ุฏู’ุฑูŽุงุฑู‹ุง ูˆูŽูŠูŽุฒูุฏู’ูƒูู…ู’ ู‚ููˆู‘ูŽุฉู‹ ุฅูู„ูŽู‰ูฐ ู‚ููˆู‘ูŽุชููƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุชูŽูˆูŽู„ู‘ูŽูˆู’ุง ู…ูุฌู’ุฑูู…ููŠู†ูŽ

โ€œMohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat kepadamu, menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.โ€

Jadi, ketika seseorang bertanya, โ€œAdakah khutbah dalam salat istisqa?โ€, jawabannya adalah ada. Dalam tuntunan Tarjih, khutbah itu satu kali, dapat dilakukan setelah salat atau sebelum salat. Isinya memperbanyak istighfar, doa, dan permohonan agar Allah menurunkan hujan yang membawa manfaat.

Catatan sumber

Tulisan ini disusun berdasarkan Salinan Keputusan Muktamar Tarjih XX di Garut tahun 1976, Berita Resmi Muhammadiyah No. 76 Tahun 1977, serta pembahasan โ€œKhutbah Istisqaโ€™โ€ dalam Suara Muhammadiyah No. 5 Tahun ke-84/1999.

Tinggalkan Balasan