MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti menekankan pentingnya membangun budaya ilmiah dan penelitian di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti pada Jumat (25/9) dalam pembukaan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Mu’ti menerangkan bahwa perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan budaya penelitian. Menurutnya, kemudahan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), dapat mendorong ketergantungan apabila tidak disertai kemampuan berpikir kritis.
“Teknologi itu menjadi salah satu capaian dari kemajuan sains dan teknologi, tapi pada sisi yang lain teknologi yang memberikan berbagai kemudahan itu bisa menimbulkan budaya kemalasan,” ujar Mu’ti.
Ia menjelaskan, sains tidak hanya berfungsi untuk mendeskripsikan dan menjelaskan berbagai fenomena. Sains juga harus mampu memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Mu’ti mencontohkan perubahan iklim dan berbagai persoalan lingkungan yang membutuhkan penelitian. Menurutnya, penjelasan ilmiah harus diikuti perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Penjelasannya saintifik, sangat ilmiah, tetapi solusinya budaya. Kita harus mengubah perilaku kita,” ungkapnya.
Selanjutnya ia juga mendorong pengembangan sains dan teknologi yang berpijak pada kekayaan alam Indonesia. Potensi tersebut, menurutnya, perlu dikembangkan melalui riset agar memiliki nilai tambah.
“Kita punya laut yang luar biasa luas. 70 persen wilayah kita adalah lautan. Tapi seberapa banyak isi laut yang sudah dijelaskan oleh para ilmuwan kita?” ujarnya.
Mu’ti menilai penguasaan sains dan teknologi juga penting dalam mengembangkan sumber daya alam menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
“Potensi alam yang luar biasa melimpah ruah ini akan memiliki nilai ekonomi yang tinggi kalau kita mengelolanya dengan sains dan teknologi,” katanya.
Dalam pendidikan, Mu’ti mendorong pembelajaran sains yang mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menumbuhkan nalar, kreativitas, dan rasa ingin tahu peserta didik.
“Riset tidak harus selalu ekspensif kalau kita kaitkan dengan alam di mana murid-murid kita itu hidup,” jelasnya.
Ia juga menekankan peran perguruan tinggi dalam membangun ekosistem pendidikan dan penelitian. Menurutnya, penguatan kualitas guru perlu berjalan bersama dengan penguatan perguruan tinggi.
“Kalau ingin murid-muridnya belajar hebat, gurunya harus hebat. Kalau gurunya ingin hebat, ya perguruan tingginya harus hebat,” tuturnya.
Mu’ti berharap budaya penelitian dapat melahirkan generasi muda yang mencintai ilmu pengetahuan dan mampu mengembangkan sains untuk menjawab berbagai persoalan bangsa.
“OPSI ini dapat menjadi opsi untuk kita melahirkan saintis-saintis muda,” pungkasnya. (taufik)






