MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Akhmad Arif Rifan mengingatkan bahwa salah satu penyebab sulitnya mewujudkan masyarakat Islam yang ideal adalah semakin melemahnya budaya saling melindungi, saling menghormati, dan saling menolong di tengah umat.
Pesan itu disampaikan dalam Pengajian Malam Selasa Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Senin (3/8), ketika membahas konsep iwa’ sebagai salah satu unsur pembentuk al-ummah al-muslimah.
Menurut Arif, konsep iwa’ yang terdapat dalam QS Al-Anfal ayat 74 jauh lebih luas daripada sekadar menyediakan tempat tinggal. Berdasarkan penelusuran terhadap berbagai penggunaan kata tersebut dalam Al-Qur’an, ia menjelaskan bahwa iwa’ memiliki beragam makna yang seluruhnya berkaitan dengan terciptanya kehidupan sosial yang aman dan penuh kasih.
Makna itu, katanya, meliputi tempat tinggal yang layak, sambutan hangat, penghormatan, perlindungan, pengasuhan, perhatian, rasa aman, kenyamanan psikologis, dukungan, hingga keberadaan sandaran ketika seseorang menghadapi kesulitan.
Ia mencontohkan bagaimana masyarakat Ansar menyambut kaum Muhajirin ketika tiba di Madinah. Mereka bukan sekadar menerima para pendatang, tetapi rela berbagi harta, membuka rumah, bahkan menawarkan berbagai bentuk bantuan agar saudara seimannya dapat memulai kehidupan baru.
Menurut Arif, sikap itulah yang kemudian melahirkan masyarakat yang kokoh karena dibangun di atas solidaritas, bukan persaingan.
“Kalau syarat-syarat ini tidak terpenuhi, sulit mewujudkan umat yang ideal,” ujarnya.
Ia mengajak jamaah membandingkan kondisi tersebut dengan realitas umat Islam saat ini yang, menurutnya, sering kali lebih sibuk bersaing daripada saling menguatkan.
“Apakah sekarang kita saling menolong atau justru saling bersaing?” tanyanya kepada jamaah.
Arif menambahkan bahwa Rasulullah telah memberikan teladan konkret mengenai praktik iwa’. Di Madinah, beliau menyediakan tempat tinggal bagi Ahlus Suffah, memenuhi kebutuhan mereka, serta membangun budaya berbagi melalui pemberian makanan, salam, dan penghormatan kepada sesama.
Ia mengutip sabda Rasulullah ketika ditanya tentang praktik Islam terbaik. Nabi menjawab bahwa di antaranya adalah memberi makan dan menyebarkan salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal.
Menurutnya, ajaran tersebut menunjukkan bahwa persaudaraan Islam dibangun melalui tindakan nyata, bukan sekadar slogan.
Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan sosial sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para sahabat. Dalam masyarakat Madinah, kata Arif, tidak boleh ada orang yang dibiarkan terzalimi tanpa pembelaan. Bahkan persoalan utang orang yang meninggal dunia pun memperoleh perhatian melalui sistem tanggung jawab keluarga hingga Baitul Mal.
Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya memperkuat hubungan kekeluargaan dan silaturahmi sebagai bagian dari budaya saling menopang. Menurutnya, masyarakat modern justru mulai kehilangan kedekatan dengan keluarga besarnya sehingga jaringan sosial yang dahulu menjadi kekuatan umat semakin melemah.
Pada bagian akhir kajian, Arif mengajak warga Muhammadiyah menjadikan lima unsur pembentuk al-ummah al-muslimah sebagai karakter organisasi. Ia berharap budaya saling menyayangi, saling menghormati, saling membantu, dan saling menguatkan semakin tampak dalam kehidupan Persyarikatan.
Ia optimistis nilai-nilai tersebut tetap dapat diwujudkan meski situasi zaman tidak mudah. Justru, menurutnya, ujian yang berat merupakan kesempatan untuk membuktikan kualitas keimanan dan kekuatan persaudaraan.
“Kalau kita mampu melewati masa yang paling sulit, di situlah karunia Allah akan memberikan sesuatu yang paling besar,” katanya.






