MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir sampaikan tahniah atas pengukuhan guru besar Wakil Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) PP Muhammadiyah, Mahli Zainuddin pada Sabtu (1 /8) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Maka bersama bersama guru besar lain di kampus UMY, dan di seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah, saudara Profesor Mahli Zainuddin akan menjadi barisan yang kokoh untuk terus menggerakkan dunia pendidikan ke arah yang lebih unggul,harap Haedar.
Oleh karena itu, dia berharap kepangkatan tertinggi akademik ini bukan menjadi kebangga semu, tetapi menjadi kebangga yang sejati, yang membawa tanggung jawab dan peran dalam berbagai aspek untuk peradaban bangsa yang maju.
Dalam sambutannya secara daring, Haedar Nashir juga menyoroti tentang masalah yang melingkupi dunia akademik di Indonesia secara umum, yakni plagiarisme yang masih terjadi di lingkungan akademik.
Menurutnya, plagiarisme merupakan masalah yang krusial untuk segera diselesaikan, dan pangkal dari masalah ini adalah hilangnya nurani dan kejujuran dari akademisi yang hanya kenyang intelektual namun dahaga spiritual.
Sementara itu, secara personal Mahli bagi Haedar bukan sosok yang jauh. Mereka telah saling membangun relasi sejak di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), yakni di Asrama Mas Mansur, Ketanggungan, Jogja yang dikelola PP IPM.
Dulu kita juga bersama allahuyarham Profesor Yunahar Ilyas sering menjadi tempat bertanya, menjadi tempat mengadu saudara Mahli Zainuddin sebagai junior,ungkapnya.
Mengenang masa lalu di Asrama Mas Mansur, Haedar mengenal Mahli Zainuddin sebagai siswa yang memiliki suara merdu ketika mengaji, bahkan sesekali menggantikannya sebagai imam salat di Masjid Nuhawwin, Ketanggungan.
Perjuangan dia begitu gigih, dan mau belajar kepada siapapun, dan mau melakukan apapun yang itu bermanfaat dan memberi makna. Saya tidak pernah membayangkan saudara Mahli Zainuddin yang dulu menjadi junior kami kemudian pada hari ini meraih kepangkatan akademik tertinggi,ungkapnya.
Selaras dengan itu, Mahli dalam Orasinya juga menyinggung masa-masa indah ketika di Asrama Mas Masnur Ketanggungan, di mana dirinya mengenal dan banyak belajar dari Haedar Nashir, Siti Noordjannah Djohantini, dan senior IPM lainnya masa itu.
Terima kasih IPM yang telah mengajarkan penulis dasar-dasar berorganisasi. Juga kepada para senior yang menjadi mentor saya untuk kemudian saya menjadi aktivis mengikuti beliau-beliau,tuturnya.
Di asrama itu Mahli remaja tekun menjalani dunia aktivis, yang kemudian mengantarnya menjadi saat ini. Dunia Mahli tak sebatas di ruang-ruang dan meja akademik, sebab dirinya dibesarkan oleh tantangan dan gulungan gelombang.
Sebagai anak kampung dari Kerinci, Mahli berterima kasih sebab diberi kepercayaan sampai pada level PP Muhammadiyah. Dirinya saat ini tercatat sebagai Wakil MPW PP Muhammadiyah, yang sebelumnya pernah menjabat di Lazismu, Majelis Tabligh, Lembaga Pustaka dan Dokumentasi, serta di MPI PP Muhammadiyah.
Sebagai informasi tambahan, Mahli Zainuddin Tago berorasi ilmiah untuk Guru Besarnya dengan judul Etnisitas dan Integrasi Sosial Orang Kerinci di Malaysia. Tema ini sangat dia kuasai, sebab Kerinci adalah tempat dirinya lahir dan dari situ falsafah hidupnya di bawah untuk menaklukkan dunia.






