MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALUKU — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Maluku menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) Agen dan Verifikator SatuMu (Satu Data Muhammadiyah) bagi jajaran PWM dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Provinsi Maluku.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 23–24 Agustus 2026, ini dikembangkan oleh LabMu sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas pengelolaan dan verifikasi data Muhammadiyah secara berjenjang, mulai dari tingkat wilayah hingga ranting.
Melalui SatuMu, proses pengelolaan data diharapkan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi, akurat, dan mudah ditelusuri. Sistem ini juga menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah memperkuat tata kelola organisasi melalui pemanfaatan teknologi digital.
Salah satu pendekatan yang diterapkan dalam SatuMu adalah pembagian peran antara agen dan verifikator pada setiap jenjang organisasi. Agen memiliki peran dalam melakukan input dan pembaruan data, sementara verifikator melakukan pemeriksaan serta persetujuan terhadap data yang diajukan.
Dengan mekanisme tersebut, proses validasi tidak hanya bertumpu pada tingkat pusat, tetapi melibatkan struktur organisasi yang lebih dekat dengan sumber data. Pola ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi sekaligus menjaga konsistensi data Muhammadiyah di setiap jenjang.
Model verifikasi berjenjang menjadi penting mengingat Muhammadiyah memiliki struktur organisasi yang luas, mulai dari pimpinan wilayah, daerah, cabang, hingga ranting. Keterlibatan setiap jenjang dalam pengelolaan data menjadi bagian penting untuk memastikan data yang tersaji tetap mutakhir dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ketua PCM Sirimau sekaligus Ketua LPCR PM PWM Maluku, Husin Mamang, S.IP., mengatakan bahwa peserta ToT tidak hanya dipersiapkan untuk mengelola data di tingkat masing-masing, tetapi juga menjadi pelatih dan pendamping bagi pengelola data pada jenjang di bawahnya.
“Peserta ToT ini diharapkan tidak hanya mampu mengelola data di tingkatnya masing-masing, tetapi juga dapat menjadi pelatih dan mendampingi operator data sampai ke tingkat ranting,” ujar Husin.
Menurutnya, pola train the trainer menjadi salah satu strategi untuk memperluas kemampuan pengelolaan data di lingkungan Muhammadiyah. Dengan demikian, proses digitalisasi tidak hanya berlangsung di tingkat wilayah atau daerah, tetapi dapat diteruskan hingga struktur organisasi paling bawah.
Kapasitas tersebut diharapkan membuat setiap jenjang organisasi mampu melakukan pembaruan dan menjaga kualitas data secara berkelanjutan.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan alur pengelolaan data yang terintegrasi, mulai dari migrasi data anggota, pembaruan data, hingga penerbitan e-Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (e-KTAM).
Integrasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan basis data Muhammadiyah yang lebih tertata dan konsisten. Data yang terkelola dengan baik selanjutnya dapat menjadi salah satu fondasi dalam mendukung perencanaan program, pelayanan anggota, serta pengambilan keputusan di lingkungan Persyarikatan.
Pelaksanaan ToT di Maluku menjadi bagian dari upaya memperluas kapasitas pengelolaan data Muhammadiyah secara berjenjang. Melalui SatuMu, transformasi digital diharapkan tidak hanya ditopang oleh sistem di tingkat pusat, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia di setiap jenjang organisasi.
Dengan penguatan kapasitas agen dan verifikator, pengelolaan data diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan hingga tingkat ranting, sehingga Muhammadiyah memiliki data yang semakin akurat, terintegrasi, dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kemajuan Persyarikatan.






