MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah kembali menggelar Pengajian Bulanan bertema “Pengasuhan dan Ketahanan Keluarga: Membangun Generasi Maju di Era Digital” pada Jum’at malam (31/7) di Aula KH Ahmad Dahlan, Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta.
Pengajian kali ini dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman, Sekretaris Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra, serta Ketua PP ‘Aisyiyah Rohimi Zamzam.
Dalam pengantarnya, Agus Taufiqurrahman menyampaikan bahwa perkembangan teknologi merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Karena itu, keluarga perlu membimbing anak agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa kehilangan nilai-nilai keimanan dan akhlak.
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak mengajarkan penolakan terhadap teknologi. Sebaliknya, umat didorong untuk memahami dan memanfaatkannya sebagai sarana menghadirkan kemaslahatan.
Pada sesi pemaparan materi pertama, Jasra Putra memaparkan berbagai tantangan pengasuhan di era digital. Menurutnya, ancaman terhadap anak semakin kompleks, mulai dari paparan media sosial hingga menurunnya kualitas komunikasi dalam keluarga.
Ia menekankan bahwa kehadiran orang tua tidak cukup hanya secara fisik. Orang tua juga perlu membangun kedekatan emosional, komunikasi yang sehat, dan memperkuat fungsi keluarga sebagai lingkungan pertama dalam perlindungan anak.
Jasra juga menyoroti fenomena fatherless serta meningkatnya persoalan kesehatan mental anak. Ia mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip-prinsip perlindungan anak, seperti non-diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak hidup dan tumbuh kembang, serta partisipasi anak dalam setiap keputusan yang menyangkut dirinya.
Sementara itu, Rohimi Zamzam pada materi kedua menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter dan ketahanan anak. Tingginya penggunaan gawai dan media sosial, menurutnya, harus diimbangi dengan penguatan tauhid, komunikasi yang hangat, serta keteladanan orang tua.
“Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari,” ujarnya.
Rohimi juga memperkenalkan Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak sebagai salah satu upaya memperkuat pengasuhan. Gerakan ini melibatkan keluarga, lembaga pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai majelis di lingkungan Persyarikatan.
Ia menegaskan bahwa pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai elemen masyarakat.
Melalui Pengajian Bulanan ini, PP Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang kajian yang membahas isu-isu strategis keumatan dan kebangsaan. Penguatan keluarga, pendidikan berbasis nilai-nilai Islam, serta pemanfaatan teknologi secara bijak diharapkan menjadi fondasi dalam membangun generasi yang berkarakter, tangguh, dan berkemajuan. (taufik)






