Rabu, 7 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Muhammadiyah Dorong Paradigma Ilmu yang Tidak Memisahkan Agama dan Sains

Oleh ilham • • 4 Menit Min
Muhammadiyah Dorong Paradigma Ilmu yang Tidak Memisahkan Agama dan Sains

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ustadi Hamsah menilai integrasi Islam dan ilmu pengetahuan perlu dibangun dari kesadaran bahwa ilmu pada dasarnya merupakan satu kesatuan. Integrasi, menurutnya, jangan sampai justru mempertahankan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum dengan cara sekadar menggabungkan berbagai disiplin yang sebelumnya dianggap terpisah.

Hal itu disampaikan Ustadi dalam Seminar dan Sosialisasi Integrasi Islam dan Ilmu Pengetahuan yang diselenggarakan Center for Islamic Studies and Civilization (CISIC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (13/8).

Ustadi mengawali pandangannya dengan mengutip aforisme Ibnu Athaillah al-Iskandari dalam Al-Hikam, māżā wajada man faqadaka wa māllażī faqada man wajadaka. Menurutnya, ungkapan tersebut dapat dimaknai bahwa orang yang mencari Allah tidak akan kehilangan apa pun, sedangkan orang yang mencari selain Allah tidak akan memperoleh apa pun.

“Orang yang mencari Allah dia tidak akan kehilangan apa pun dan orang yang mencari selain Allah dia tidak akan mendapatkan apa pun,” ujarnya.

Dari gagasan tersebut, Ustadi melihat bahwa riset integratif semestinya memiliki arah yang lebih mendasar, yakni membawa manusia semakin dekat kepada Allah melalui proses pencarian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

“Riset integratif itu sebenarnya hanya mencari Allah. Maksudnya begitu, nanti arahnya,” katanya.

Menurut Ustadi, pemaknaan tersebut penting agar konsep integrasi tidak berhenti pada upaya menghubungkan satu disiplin ilmu dengan disiplin lainnya. Ia mengingatkan bahwa integrasi jangan sampai justru memperkuat anggapan bahwa ilmu sejak awal memang terpecah menjadi kedokteran, teknik, pertanian, agama Islam, dan berbagai bidang lainnya sebagai entitas yang berdiri sendiri.

“Konsep integrasi harus kita bangun bahwa ilmu itu tidak berserakan, ilmu itu tunggal,” tegasnya.

Ia menilai paradigma tersebut sejalan dengan spirit Muhammadiyah dan Majelis Tarjih. Dalam pandangan ini, tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Fikih, sejarah, psikologi, kedokteran, pertanian, fisika, hingga ekonomi merupakan bagian dari satu bangunan ilmu yang sama.

“Ilmu itu satu. Enggak ada mana ini ilmu akhirat, mana ini ilmu dunia. Semua ilmu itu ilmu Allah,” katanya.

Integrasi Bukan Hanya Menyatukan Ilmu yang Terpisah

Ustadi mengkritik kecenderungan yang memahami integrasi sebagai proses menyatukan berbagai bidang ilmu yang sebelumnya telah diposisikan sebagai entitas terpisah. Menurutnya, pendekatan semacam itu masih menyisakan dikotomi pada tingkat dasar.

Ia mengibaratkan integrasi semacam itu seperti sekumpulan lidi yang hanya disatukan secara fisik. Masing-masing tetap dipandang sebagai entitas yang berbeda. Padahal, yang diperlukan adalah perubahan paradigma bahwa ilmu sejak awal merupakan kesatuan.

“Jangan mempertegas dikotomi antarilmu kemudian disatukan. Dokter sendiri, pertanian sendiri, fikih sendiri, tafsir sendiri, tapi disatukan. Kita enggak seperti itu. Ulumul Islam itu ya satu ilmu,” ujarnya.

Karena itu, Ustadi mengusulkan istilah ulumul Islam sebagai salah satu kerangka untuk memahami integrasi keilmuan. Menurutnya, gagasan tersebut memiliki akar dalam tradisi intelektual Islam. Ia merujuk antara lain pada al-Farabi dan al-Ghazali yang telah membicarakan hubungan dan klasifikasi berbagai ilmu dalam karya-karya mereka.

Dalam kerangka tersebut, Islam tidak ditempatkan sebagai tambahan yang ditempelkan pada ilmu pengetahuan setelah ilmu itu selesai dikembangkan. Sebaliknya, seluruh proses pencarian ilmu dipahami sebagai bagian dari perjalanan manusia untuk mengenali kebesaran dan keagungan Allah.

Ustadi kemudian merujuk QS Fussilat ayat 53 yang menyebut tanda-tanda kekuasaan Allah pada cakrawala dan dalam diri manusia. Menurutnya, ayat tersebut dapat menjadi pijakan epistemologis untuk memahami sumber-sumber ilmu.

Ia membagi sumber ilmu ke dalam beberapa ranah, yakni sumber tekstual seperti Al-Qur’an dan hadis, alam semesta, sejarah atau berbagai peristiwa, serta manusia dengan seluruh dimensi psikologisnya.

“Al-Qur’an, sunah itu sebagai sumber ilmu. Dalamnya ada potensi keilmuan yang menyala-nyala,” jelasnya.

Alam semesta, menurut Ustadi, juga merupakan sumber ilmu yang dapat dikaji melalui berbagai disiplin sains. Demikian pula berbagai peristiwa yang terjadi dalam sejarah dan aspek-aspek dalam diri manusia yang melahirkan ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Dari pengkajian manusia, misalnya, berkembang psikologi, sosiologi, antropologi, sejarah, filsafat, dan ekonomi. Sementara dari pengkajian alam berkembang fisika, kimia, biologi, matematika, astronomi, kedokteran, dan berbagai disiplin lainnya.

Dengan demikian, ilmu-ilmu tersebut tidak perlu diberi label sebagai ilmu Islam atau bukan ilmu Islam. Semuanya merupakan bagian dari upaya manusia memahami ayat-ayat Allah.

“Tidak ada ilmu agama dan bukan agama. Dan itu spiritnya Muhammadiyah,” katanya.

Riset di Laboratorium Juga Bagian dari Pengabdian kepada Allah

Ustadi juga menekankan bahwa integrasi harus tercermin dalam praktik penelitian. Seorang peneliti Muslim tidak perlu memisahkan aktivitas riset di laboratorium dari kehidupan keberagamaannya.

“Riset di lab itu sama dengan menghadiri pengajian,” ujarnya.

Menurutnya, seorang dokter ketika meneliti pasien tidak cukup hanya melihat aspek medis. Kondisi pasien juga berkaitan dengan psikologi, ekonomi, dan lingkungan sosialnya. Demikian pula seorang ahli fikih atau tafsir tidak dapat mengabaikan pengetahuan sosial dan humaniora ketika menjelaskan persoalan yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

“Seorang dokter itu tidak bisa lepas dari psikologi, tidak bisa lepas dari sosial, tidak bisa lepas dari ekonomi. Maka perspektifnya harus tunggal,” jelasnya.

Ia mengutip gagasan Amin Abdullah mengenai ilmu sebagai semi-permeable membrane. Berbagai disiplin ilmu memiliki batas, tetapi batas tersebut bersifat terbuka sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran pada level epistemologi, materi, maupun aksiologi.

Karena itu, integrasi menurut Ustadi bukan sekadar mencantumkan ayat Al-Qur’an dalam sebuah penelitian. Ia menegaskan pentingnya menghindari praktik “ayatisasi”, yakni menjadikan ayat sebagai pembenaran terhadap temuan penelitian yang sebenarnya telah selesai dilakukan.

“Al-Qur’an, sunah itu sebagai sumber ilmu, bukan sebagai penjustifikasi,” katanya.

Dalam kerangka tersebut, Ustadi menilai materi, metode, dan teori penelitian harus saling berkaitan dan dapat dipertemukan melalui pendekatan bayani, burhani, dan irfani. Pendekatan irfani, misalnya, tidak semata-mata dipahami sebagai pengalaman spiritual untuk memperbaiki diri, tetapi juga sebagai kesadaran bahwa manusia memiliki keterhubungan dengan objek yang ditelitinya.

“Pasien yang saya suntik itu adalah saya. Udara, pasar yang kita riset itu bukan objek di luar kita, tapi saya. Itu irfani,” tuturnya.

Ustadi berharap gagasan tersebut dapat memperkuat arah pengembangan penelitian di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah. Baginya, integrasi ilmu harus menghasilkan cara pandang baru yang menghapus dikotomi keilmuan sekaligus menempatkan seluruh aktivitas pencarian pengetahuan sebagai bagian dari perjalanan manusia menuju pengenalan kepada Allah.

Ia kemudian mengingatkan kembali teladan para ilmuwan Muslim seperti Ibnu al-Haytham, al-Jahiz, al-Jazari, dan Jabir ibn Hayyan. Mereka tidak memisahkan matematika, fisika, biologi, teknologi, maupun kajian keislaman sebagai wilayah yang saling bertentangan.

“Mereka tidak mengatakan fisika, kimia, biologi, teknologi, robot itu bukan ilmu Islam. Itu ilmu Islam. Ekonomi ilmu Islam, keperawatan ilmu Islam,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan