MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Marak pembahasan kesehatan mental, Islam jauh-jauh waktu sudah mendefinisikan bahwa manusia bukan hanya dilihat dari fisik saja, tapi manusia terdiri dari unsur fisik dan ruh.
Pemahaman ini disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman pada (10/8) dalam Kajian Malam Selasa di Masjid Husnul Khotimah, Peleman, Tamantirto, Kasihan, Kabupaten Bantul.
Maka dalam Islam isu kesehatan mental sebenarnya bukan suatu yang asing, sebab dalam Islam diajarkan untuk memelihara fisik maupun ruh– mental dan spiritual. Sehingga yang kesehatannya perlu dijaga adalah kedua unsur itu.
“Maka kalau ingin hidupnya itu utuh, itu unsur fisiknya dibenahi, unsur mentalnya dibenahi, unsur spiritual juga diurus,” ungkapnya.
Menjaga kesehatan mental, imbuhnya, dalam tradisi Islam tidak hanya dilakukan dengan membangun kesalihan personal, namun juga membangun dan menjaga relasi sosial untuk kebaikan.
Meski menurut WHO ada sekitar 28 juta warga bangsa Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Namun, masalah mental tidak bisa dinilai secara sembarangan hanya dengan menengarai dari ciri-ciri fisik.
Dalam pengalamannya, dr. Agus menceritakan ada pasien yang dalam diagnosa dokter tidak memiliki sakit yang mengharuskan pasien tersebut opname di rumah sakit, tapi si pasien selalu merasa tubuhnya sakit dan ingin diopname di rumah sakit.
Setelah diobservasi secara menyeluruh, ternyata pasien itu pernah mengalami kehilangan kendaraan bermotor, serta usaha ekonomi untuk keluarganya rugi dan sampai gulung tikar.
“Maka obatnya itu harus mendekat ke Allah Swt, karena Islam mengajarkan barang siapa yang ingat kepada Allah Swt hatinya akan tenteram,” ungkapnya.
Memakai tafsir progresif, dr. Agus menjelaskan ingat tak sebatas di kepala, melainkan harus disertai usaha-usaha untuk menyelesaikan masalah, sebab ujian dan cobaan yang didapatkan telah disesuaikan takarannya dengan kemampuan menyelesaikannya.






