MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai Saad Ibrahim mengajak umat Islam memahami lebih dalam makna ar-Rahman dan ar-Rahim yang berulang dalam Surah Al-Fatihah. Menurutnya, kedua nama tersebut menggambarkan keluasan rahmat Allah, tetapi memiliki cakupan dan konteks yang berbeda.
Hal itu disampaikan Saad Ibrahim dalam pengajian di TVMu pada Sabtu (15/08). Ia menjelaskan, kata ar-Rahman dan ar-Rahim terdapat dalam basmalah dan kembali disebut setelah ayat alhamdulillahi rabbil ‘alamin dalam Surah Al-Fatihah. Pengulangan tersebut menunjukkan pentingnya memahami dua nama Allah itu secara lebih mendalam.
Saad mengatakan, dalam bahasa Indonesia ar-Rahman dan ar-Rahim umumnya diterjemahkan sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Namun, penerjemahan tersebut belum sepenuhnya mampu menangkap keluasan makna bahasa Arab.
Menurutnya, bahasa Arab memiliki kekayaan kosakata yang sangat besar. Karena itu, terdapat sejumlah kata Arab yang ketika diterjemahkan ke bahasa lain mengalami penyempitan atau perubahan makna. Ia mencontohkan kata zalim yang telah menjadi bagian dari bahasa Indonesia, meskipun penggunaannya mengalami pergeseran dari makna dalam bahasa Arab.
Kekayaan bahasa Arab tersebut, kata Saad, menjadi salah satu konteks mengapa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an yang sesungguhnya adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., sedangkan teks dalam bahasa lain merupakan terjemahan atau penafsiran terhadap makna Al-Qur’an.
“Seluruh terjemahan dalam bahasa apa pun itu harus disebut sebagai terjemahan Al-Qur’an, bukan Al-Qur’an itu sendiri,” tegasnya.
Ar-Rahman, Rahmat Allah untuk Seluruh Makhluk
Saad kemudian menjelaskan bahwa ar-Rahman dan ar-Rahim merupakan bagian dari al-Asmaul Husna. Kedua nama tersebut mencerminkan sifat rahmat Allah, meskipun masing-masing memiliki cakupan yang berbeda.
Menurut Saad, ar-Rahman menggambarkan Allah sebagai Zat yang memiliki rahmat yang luas dan meliputi seluruh makhluk. Rahmat tersebut diberikan dalam kehidupan dunia kepada semua makhluk, baik mereka yang beriman maupun yang tidak beriman.
“Rahmat Allah itu dalam konteks diberikan kepada semua makhluk-Nya dalam kehidupan dunia ini,” ujarnya.
Ia menggambarkan keluasan rahmat tersebut melalui berbagai fenomena kehidupan. Kasih sayang seekor induk ayam kepada anaknya, misalnya, menurut Saad merupakan salah satu bentuk rahmat Allah yang ditanamkan dalam diri makhluk.
Ketika anak ayam baru menetas, induknya secara naluriah akan berhati-hati agar tidak menginjak anaknya. Perilaku tersebut menjadi salah satu gambaran sederhana tentang bagaimana rahmat Allah hadir dalam kehidupan makhluk.
Rahmat Allah di dunia, lanjut Saad, begitu luas sehingga manusia tidak akan mampu menghitung seluruh nikmat yang diterimanya. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 34, wa in ta‘uddu ni‘matallahi la tuhṣuha, yang menegaskan bahwa manusia tidak akan mampu menghitung nikmat Allah.
Nikmat berupa tubuh yang memungkinkan manusia bernapas, jantung yang terus bekerja, serta berbagai nikmat di luar diri manusia merupakan bagian dari rahmat Allah yang sering kali luput dari kesadaran manusia.
“Kalau kalian menghitung nikmat Allah, itu tidak mungkin kemudian orang bisa menghitungnya,” katanya.
Saad juga menjelaskan bahwa nama ar-Rahman secara khusus merupakan nama Allah sehingga tidak digunakan sebagai nama manusia secara langsung. Penggunaannya dapat hadir dalam bentuk nama seperti Abdurrahman, yang berarti hamba dari Ar-Rahman.
Ar-Rahim dan Rahmat Allah di Akhirat
Jika ar-Rahman menggambarkan rahmat Allah yang meliputi seluruh makhluk di dunia, Saad menjelaskan bahwa ar-Rahim memiliki cakupan yang lebih khusus. Ia mengaitkannya dengan rahmat Allah yang diberikan kepada orang-orang beriman, terutama dalam kehidupan akhirat.
Saad menyebut, jika rahmat Allah di dunia digambarkan secara kuantitatif, bagian tersebut hanya sekitar satu persen. Sementara sebagian besar rahmat Allah, yang ia gambarkan sebagai 99 persen, diperuntukkan bagi kehidupan akhirat.
“Ar-Rahim, Allah Maha Pengasih dengan rahmat-Nya yang sangat dahsyat itu dalam kehidupan akhirat,” jelasnya.
Rahmat tersebut, menurut Saad, berupa ampunan Allah, masuk surga, terbebas dari neraka, hingga kesempatan untuk bertemu dengan Allah. Karena itu, kehidupan seorang mukmin tidak berhenti pada pengalaman duniawi, tetapi memiliki orientasi pada rahmat Allah di akhirat.
Ia memberikan gambaran tentang dahsyatnya kehidupan akhirat. Seseorang yang selama hidupnya di dunia mengalami berbagai kesulitan, tetapi kemudian memperoleh ampunan Allah dan masuk surga, akan merasakan kenikmatan yang begitu besar hingga penderitaan dunia seolah tidak pernah dialaminya.
Saad mengutip gambaran bahwa ketika orang tersebut ditanya apakah pernah mengalami penderitaan di dunia, ia akan menjawab tidak pernah. Bukan karena ia benar-benar tidak pernah menderita, melainkan karena dahsyatnya kenikmatan surga membuat seluruh penderitaan dunia tidak lagi memiliki arti.
Sebaliknya, orang yang selama hidup di dunia menikmati kebahagiaan tetapi kemudian masuk neraka akan mengalami keadaan yang berlawanan. Kenikmatan dunia yang pernah dirasakannya seakan hilang dari ingatan karena dahsyatnya azab akhirat.
Dari penjelasan tersebut, Saad mengajak umat Islam mensyukuri nikmat iman. Menurutnya, iman memiliki kedudukan yang sangat penting karena menjadi jalan bagi seseorang untuk memperoleh rahmat Allah di akhirat.
“Berbahagialah kita yang beriman,” tuturnya.
Ia menegaskan, iman sekecil apa pun tetap memiliki nilai di hadapan Allah. Namun, keimanan tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan melalui amal saleh dan usaha untuk terus berbuat baik.
Karena manusia tidak luput dari kesalahan, Saad juga mengingatkan pentingnya istigfar dan memohon ampun kepada Allah. Ketika seorang mukmin melakukan kesalahan kemudian menyadarinya, bertobat, dan memohon ampun, ia memiliki harapan memperoleh ampunan dan rahmat Allah.
“Kalau kemudian kita berbuat tidak baik, lalu kita istigfar, minta ampun kepada Allah, lalu diampuni oleh Allah, maka urusan kita akan selesai,” ujarnya.






