MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Rohima Zamzam, menegaskan bahwa pengasuhan anak di era digital telah memasuki fase yang tidak lagi sekadar penting, tetapi sudah berada pada kondisi yang mendesak.
Menurutnya, keluarga Indonesia sedang menghadapi tantangan serius akibat derasnya arus teknologi digital, sehingga diperlukan gerakan bersama untuk memperkuat ketahanan keluarga dan kualitas pengasuhan anak.
Hal tersebut disampaikannya dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta pada Jumat (31/7).
Rohima menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru bagi keluarga. Banyak orang tua harus membagi waktu antara tanggung jawab publik dan pengasuhan anak, sementara pola asuh kerap melibatkan kakek dan nenek yang memiliki cara pandang berbeda. Kondisi tersebut menuntut adanya pendekatan baru dalam membangun keluarga yang sehat.
Karena itu, ia mengungkapkan bahwa Muktamar ‘Aisyiyah telah memberikan mandat agar persyarikatan menggerakkan program parenting secara masif hingga ke tingkat ranting.
“Mandatori yang diberikan di muktamar sebagai sebuah program, terutama di ‘Aisyiyah, yaitu gerakan parenting secara masif, pengasuhan anak dari ranting sampai ke ranting. Tapi enggak cukup kita ‘Aisyiyah sendiri, enggak bisa. Butuh kolaboratif, butuh orang banyak,” ujarnya.
Menurut Rohima, pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Ia mengibaratkan bahwa membesarkan seorang anak membutuhkan perhatian satu kampung, bukan hanya keluarganya sendiri.
Ia mengingatkan bahwa kondisi anak-anak Indonesia saat ini tidak bisa lagi dipandang biasa. Berbagai data yang dirilis lembaga perlindungan anak menunjukkan meningkatnya persoalan yang dihadapi anak sehingga keluarga harus segera mengambil langkah nyata.
“Saya suka katakan pengasuhan itu bukan hanya penting, tetapi genting. Sudah enggak bisa lagi bilang kita sedang baik-baik saja. Enggak. Kita sedang tidak baik-baik. KPAI sudah memberikan sinyal bahwa kita sedang di lampu merah, enggak lagi kuning,” tegasnya.
Sebagai pakar psikologi anak, Rohima menjelaskan bahwa ilmu neurosains menunjukkan pentingnya hubungan emosional yang hangat antara orang tua dan anak. Komunikasi positif, kasih sayang, serta sentuhan fisik berupa pelukan akan memperkuat perkembangan otak anak sejak usia dini.
“Dalam teori neurosains dikatakan bahwa hubungan yang erat, komunikasi positif, dan kasih sayang itu memperkuat sinaps otak. Ketika pelukan dilakukan sejak anak lahir sampai usia dini, maka attachment atau kelekatan antara orang tua dan anak akan terbangun,” jelasnya.
Pentingnya Kehadiran Sosok Ayah
Ia secara khusus menyoroti pentingnya kehadiran seorang ayah dalam proses pengasuhan. Menurutnya, banyak penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berpengaruh terhadap kemampuan anak mengambil keputusan, bersikap tegas, sekaligus memiliki kestabilan emosi.
“Saya kira sudah enggak saatnya lagi meremehkan peran ayah. Kehadiran ayah itu luar biasa,” katanya.
Rohima bahkan mengutip pesan gurunya, psikolog Elly Risman, bahwa laki-laki seharusnya dipersiapkan menjadi ayah sebelum menjadi suami.
“Jadi ayah dulu, baru jadi suami. Ini penting didudukkan,” ujarnya.
Dalam menghadapi era digital, Rohima menilai larangan semata tidak akan menyelesaikan persoalan penggunaan gawai oleh anak. Yang lebih dibutuhkan adalah regulasi yang disepakati dan ditegakkan di dalam keluarga.
Ia menceritakan kisah seorang ayah yang meminta seluruh anggota keluarganya meletakkan telepon genggam saat berkumpul di rumah sebagai bentuk keteladanan dan pengendalian penggunaan gawai.
Menurutnya, kepemimpinan ayah dalam keluarga memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam sebagaimana pesan Al-Qur’an kepada orang tua agar menjaga keluarganya dari berbagai keburukan.
Lebih jauh, Rohima mengingatkan bahwa ketahanan keluarga merupakan hasil dari pola pengasuhan yang baik. Keluarga yang mampu berdialog, menyelesaikan persoalan bersama, dan saling menguatkan akan melahirkan anak-anak yang tangguh menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
Ia menjelaskan bahwa setelah pandemi Covid-19, keluarga dituntut lebih adaptif terhadap perubahan sosial dan teknologi. Jika gagal beradaptasi, tekanan psikologis akan semakin besar.
Rohima juga memaparkan sejumlah data mengenai tingginya penggunaan media digital oleh anak-anak. Berdasarkan data yang ia kutip, hampir seluruh anak mengakses internet melalui telepon pintar sejak usia sangat dini.
“Ada enggak hasil penelitian yang mengatakan kalau anak pegang gadget dia cerdas? Kalau ada, saya pengin sekali dapat informasi itu,” katanya.
Ia menilai penggunaan gawai tanpa pendampingan membuka peluang anak mengakses berbagai konten yang tidak sesuai usia, termasuk pornografi, yang berdampak terhadap pembentukan karakter dan moral.
“Bencana itu enggak hanya di hutan. Kebakaran itu ada di tangan kita. Situasinya sudah genting,” ujarnya.
Menurut Rohima, banyak orang tua memberikan gawai kepada anak hanya agar anak berhenti menangis atau tidak mengganggu tamu. Padahal, kebiasaan tersebut justru membentuk ketergantungan sejak usia dini.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa anak belajar terutama melalui keteladanan orang tua. Mengutip teori Social Learning dari Albert Bandura, ia menjelaskan bahwa perilaku anak merupakan hasil dari apa yang mereka lihat setiap hari di rumah.
“Children see, children do. Anak belajar bukan hanya mendengar, tetapi karena melihat,” katanya.
Karena itu, ia menekankan bahwa fondasi utama pengasuhan dalam Islam adalah penanaman tauhid sebelum keterampilan akademik. Ia mengutip nasihat Luqman kepada putranya agar tidak menyekutukan Allah sebagai dasar pendidikan karakter.
“Penanaman tauhid itu lebih dahulu daripada keterampilan akademik. Iman menjadi kompas hidup anak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa berbagai penelitian internasional juga menunjukkan tingkat religiositas keluarga berkorelasi positif dengan perilaku prososial, empati, kemampuan mengendalikan diri, serta rendahnya perilaku agresif pada anak.
Membangun Komunikasi dengan Anak
Rohima juga mengingatkan pentingnya membangun komunikasi yang efektif dalam keluarga. Orang tua, menurutnya, perlu menyampaikan kekhawatiran dengan bahasa yang lembut agar anak memahami perasaan orang tuanya, bukan merasa dimarahi.
“Komunikasi efektif itu menjadi penting. Sampaikan dengan bahasa positif. Misalnya, ‘Mama khawatir karena kamu belum pulang,’ bukan langsung memarahi anak,” tuturnya.
Sebagai tindak lanjut mandat organisasi, Rohima menjelaskan bahwa ‘Aisyiyah mengembangkan Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak (GACA) yang melibatkan keluarga, sekolah, lembaga pendidikan, pesantren, hingga berbagai majelis di lingkungan ‘Aisyiyah. Program tersebut diharapkan menjadi gerakan bersama untuk memperkuat pengasuhan anak di tengah tantangan zaman.
Menutup pemaparannya, Rohima mengajak seluruh keluarga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah kembali menjadikan keluarga sebagai pusat pendidikan utama bagi anak.
“Back to nature, back to family. Kembali ke rumah. Jangan sampai HP menjadi bencana di rumah kita sendiri,” pesannya.
Ia berharap Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terus menjadi pelopor dalam membangun keluarga yang tangguh sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat secara fisik, kuat secara mental, serta kokoh dalam keimanan di tengah derasnya arus digitalisasi.






