MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG — Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah menempatkan pelayanan sosial sebagai bagian penting dari gerakan dakwah. Rumah sakit, klinik, rumah yatim, hingga pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan lahir dari semangat menghadirkan agama dalam tindakan nyata.
Salah satu tokoh yang berada di balik perkembangan awal gerakan tersebut adalah K.H. Muhammad Sudja.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat Dikdik Dahlan Lukman dalam Gerakan Subuh Mengaji, Selasa (11/8). Dalam kajiannya, Dikdik mengungkap kiprah K.H. Muhammad Sudja yang selama ini lebih dikenal sebagai tokoh Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), tetapi memiliki peran yang jauh lebih luas dalam sejarah Muhammadiyah.
Menurut Dikdik, K.H. Muhammad Sudja lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 2 Agustus 1882. Ia merupakan salah satu putra Haji Hasyim Ismail, yang seluruh keluarganya kemudian menjadi bagian dari kader awal Kiai Ahmad Dahlan. Sejumlah saudaranya kelak juga menjadi tokoh penting Muhammadiyah, seperti Haji Fakhruddin dan Ki Bagus Hadikusumo.
Kiprah Muhammad Sudja semakin menonjol ketika Kiai Ahmad Dahlan membagi tugas dalam kepemimpinan Muhammadiyah pada 1920. Saat itu, Haji Muhammad Hisyam dipercaya menangani bagian sekolah, Haji Muhammad Fakhruddin memimpin bagian tabligh, Haji Muhammad Mukhtar menangani Taman Pustaka, sedangkan Haji Muhammad Sudja dipercaya memimpin bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem atau PKO.
Dari PKO inilah kemudian berkembang berbagai bentuk pelayanan sosial Muhammadiyah. Ketika berbicara tentang rumah sakit dan klinik PKU, pelayanan yatim piatu, serta rumah miskin, nama Muhammad Sudja menurut Dikdik hampir selalu muncul karena ia turut membidani lahirnya berbagai amal usaha tersebut.
Salah satu tonggaknya adalah pendirian klinik PKO Muhammadiyah pada 1923. Menariknya, gagasan tersebut berawal dari penggalangan dana untuk membantu korban letusan Gunung Kelud. Ketika bantuan untuk korban bencana dinilai telah mencukupi, dana yang terkumpul kemudian digunakan sebagai modal awal pendirian klinik PKO Muhammadiyah. Klinik itu bahkan pada awalnya beroperasi di rumah Muhammad Sudja sendiri.
Muhammadiyah juga mengembangkan rumah yatim dan rumah miskin. Dikdik menjelaskan, model pelayanan sosial tersebut pada masa awal memang bersentuhan dengan praktik misi dan zending Kristen yang ketika itu telah mendirikan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Namun, Muhammadiyah memberikan landasan teologisnya sendiri melalui pemaknaan terhadap Surah Al-Ma’un yang kemudian berkembang menjadi teologi Al-Ma’un.
Bagi Dikdik, hal tersebut menunjukkan bahwa pelayanan sosial Muhammadiyah sejak awal diarahkan untuk menjawab kebutuhan konkret masyarakat. Menolong tidak dimaknai sebatas memberikan bantuan kepada orang miskin, tetapi juga memastikan setiap orang memperoleh hak dan pelayanan yang semestinya.
Prinsip tersebut kemudian dirumuskan Dikdik sebagai ri’āyat al-maṣlaḥah, yakni pemeliharaan dan perlindungan kemaslahatan publik. Konsep itu pada akhirnya bermuara pada tujuan syariat atau maqāṣid al-syarī’ah. Karena itu, amal usaha Muhammadiyah semestinya hadir berdasarkan kebutuhan umat, kepentingan persyarikatan, dan kebutuhan dakwah.
Dikdik mengingatkan agar pendirian amal usaha tidak dilakukan secara spontan dan sporadis hanya karena muncul persoalan sesaat. Amal usaha harus direncanakan dengan baik, dikelola secara profesional, berkelanjutan, serta berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
“Pendirian sebuah amal usaha harus didasari oleh hajat persyarikatan, ada hajat umat, hajat dakwah,” ujarnya.
Menurutnya, prinsip tersebut telah diperlihatkan Kiai Ahmad Dahlan dan para kader awal Muhammadiyah. Keberanian membaca persoalan masyarakat, kemudian mengubah kepedulian tersebut menjadi lembaga pelayanan yang terorganisasi, menjadi salah satu ciri penting gerakan Muhammadiyah sejak masa awal.






