Senin, 21 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Haedar Nashir Ungkap Karakter Kepemimpinan di Muhammadiyah

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Haedar Nashir Ungkap Karakter Kepemimpinan di Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Berproses di Muhammadiyah itu berjenjang, lalui prosesnya dengan menjadi anggota terlebih dahulu, belajar dan terus nikmati proses yang dilalui, sebab kepemimpinan di Muhammadiyah itu mengalir.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Sabtu (29/8) dalam Wisuda dan Pelepasan Thalabah Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Menjadi pimpinan di Muhammadiyah, kata Haedar merupakan proses yang mengalir– tanpa paksaan. Situasi tersebut yang menjadikan pemilihan kepemimpinan di Muhammadiyah berjalan lancar dan matang.

“Karena setiap orang tidak punya hasrat ke situ. Tapi sekali hasrat itu tumbuh dan ditumbuhkan, dan merasa bisa, di situlah mulai awal perebutan jabatan. Soal ilmu, soal kepercayaan diri, soal kemampuan itu hasil pergumulan,” ungkapnya.

Di sisi lain kader juga jangan takut di tempatkan di Cabang maupun Ranting Muhammadiyah, termasuk di luar negeri. Sebab di semua tempat kader harus berperan, karena Muhammadiyah tidak hanya di Pusat saja.

“Muhammadiyah ini besar karena juga dibesarkan oleh mereka yang ada di ranting, di jemaah, di cabang, di pelosok-pelosok terjauh yang kerjanya mungkin terbatas, tapi doanya dengan ikhlas menembus langit,” imbuhnya.

Haedar juga berpesan supaya pimpinan Muhammadiyah di segala jenjang atau tingkatan harus tunduk pada sistem organisasi. Jika ada pimpinan yang hanya dominan pada kehendaknya sendiri, sama saja dia menyempal dari Muhammadiyah.

“Kita harus punya prinsip ideologi yang membingkai kita. Apalagi jadi pimpinan,” tegas Haedar.

Sistem organisasi ini menurutnya menjadi keunggulan akan hebatnya Muhammadiyah. Sistem ini tidak hanya dimiliki Pusat, tapi juga sampai pada Ranting, Cabang, Daerah, sampai Wilayah Muhammadiyah.

Sistem tersebut tidak kemudian menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang kaku. Sebab jika ada pandangan baru– baik tentang keagamaan, sosial, ekonomi, dan seterusnya bisa dibawa ke ruang musyawarah.

Tinggalkan Balasan