Rabu, 30 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Benarkah Muhammadiyah Tidak Bermazhab? Ini Penjelasan Majelis Tarjih

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Benarkah Muhammadiyah Tidak Bermazhab? Ini Penjelasan Majelis Tarjih

MUHAMMADIYAH.OR.ID, KLATEN – Pendapat yang mengatakan bahwa Muhammadiyah tidak bermazhab itu keliru, melainkan yang benar adalah Muhammadiyah tidak terikat pada salah satu mazhab fikih.

Hal itu ditekankan oleh Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Rofiq Muzakir pada (14/8) dalam Kajian Tarjih oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Klaten.

“Tidak bermazhab itu artinya tidak mengikatkan diri kepada salah satu mazhab tetapi memilih yang paling kuat. Muhammadiyah yang tidak bermazhab itu juga satu bentuk pembaruan sendiri,” katanya.

Rofiq menjelaskan, memang pada masa awal pendirian Majelis Tarjih tahun 1927 pandangan tidak terikat pada salah satu mazhab masih kontroversial. Namun seiring berjalannya waktu, pandangan seperti ini mulai umum diikuti pihak lain.

“Tapi hari ini perlahan-lahan pandangan tidak bermazhab itu diikuti oleh yang lain. Jadi hari ini umat Islam di manapun yang hidup di zaman modern itu secara praktikal itu beragama tanpa terikat secara ketat dengan mazhab fikih,” ungkapnya.

Dia berseloroh, bahwa semua umat Islam di seluruh dunia ini perlahan-lahan akan menjadi Muhammadiyah pada waktunya. Sebab sifat pembaruan yang dimiliki Muhammadiyah ini akan menemukan relevansi dengan perkembangan zaman.

Pembaruan ini menurutnya telah diwariskan oleh Kiai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah. Sang Kiai merupakan sosok arsitek gerakan Muhammadiyah yang relevan dengan zaman, karena tidak sama sekali menolak ilmu pengetahuan.

Menjaga Substansi Pembaruan Warisan Kiai Dahlan

Menceritakan kisah pembaruan yang dilakukan Kiai Dahlan dengan mendirikan Muhammadiyah, Rofiq menyebut, bahwa Kiai Dahlan mendirikan Muhammadiyah di usia yang relatif mudah yakni sekitar 40 an tahun.

Kiai Ahmad Dahlan sebelum itu juga menempuh pendidikan di Mekkah, berguru ke beberapa ulama besar dunia. Jalan ini diambil Kiai Dahlan supaya mampu menjawab berbagai pertanyaan umat yang masih tertinggal.

“Gerakan pembaruan ini menjawab problem-problem yang dihadapi oleh umat Islam saat itu. Itu adalah ketertinggalan, angka buta huruf yang tinggi. Dan tantangan Kiai Ahmad Dahlan pada saat itu adalah tantangan di bidang akidah,” imbuhnya.

Rofiq menekankan, bahwa meskipun Kiai Dahlan sebagai sosok ulama yang aktif memerangi penjajahan dengan berbagai amal kebajikan, seperti mendirikan sekolah, rumah sakit, dan lain sebagainya. Namun semua itu dilakukan bukan untuk keduniaan, melainkan untuk kehidupan setelah kematian atau akhirat.

Tinggalkan Balasan