MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Bulan Kemerdekaan Indonesia yang sudah 81 kali dilewati masih menyisakan banyak pekerjaan rumah besar, salah satunya ketimpangan pendidikan di tiap wilayah. Indonesia sebagai negara yang sangat luas tentu tidak semudah membalikan telapak tangan untuk mengentaskan tiap-tiap masalahnya, termasuk masalah di bidang pendidikan.
Oleh karena itu, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib berharap, cita-cita besar Indonesia masuk lima besar ekonomi dunia harus dimulai dari urusan yang sangat mendasar yakni pendidikan.
“Namun di lapangan, narasi megah ini seketika runtuh menabrak tembok tebal ketimpangan wilayah,”tulis Irwan pada Selasa (11/8). Ketimpangan pendidikan berbasis wilayah ini menurutnya menjadi pertanyaan besar, tentang bagaimana mengembangkan urgensi coding, robotika, sampai dengan pengembangan Akal Imitasi (AI).
Irwan menyoroti tak hanya fisik sekolah yang perlu diperbaiki, namun juga aksesibilitas penunjang seperti jalan, jembatan, hingga layanan transportasi yang menurutnya masih jadi PR besar Indonesia merdeka.
“Mendorong kurikulum berbasis STEM tanpa pemerataan infrastruktur digital dan fisik adalah ilusi yang berbahaya. Kebijakan ini justru berisiko memperlebar jurang pemisah,”ungkapnya.
Guru Besar Bidang Pendidikan Matematika ini mendorong adanya koreksi radikal terhadap distribusi akses, ambisi teknologi hanya akan melahirkan kasta baru dalam sistem pendidikan Indonesia merdeka.
“Elit digital yang melesat ke masa depan, dan mayoritas marginal yang tertinggal di masa lalu,”imbuhnya.
Melahirkan Generasi Digital, tanpa Meninggalkan Kemanusiaan
Pada saat yang bersamaan, menurut Irwan, jika fokus terlalu kaku pada nalar teknis– matematis STEM berpotensi melahirkan manusia mekanis yang mahir teknologi digital, tapi gagap merawat kemanusiaan.
“Kita tidak sedang memesan generasi robot yang pintar secara logika namun miskin empati, buta etika, dan asing terhadap realitas sosial di sekitarnya. Teknologi tanpa kompas moral adalah distopia,”tuturnya.
Baginya pendidikan yang menguatkan nalar STEM harus diseimbangkan dengan ilmu sosial dan humaniora. Sehingga teknologi jadi mesin menggerakkan masa depan, maka Soshum jadi kendali etis supaya tidak menabrak kemanusiaan.
Irwan meyakinkan bahwa mengintegrasikan STEM dengan seni, sastra, sejarah, dan filsafat bukanlah langkah mundur. Dengan itu, diharapkan dengan AI peserta didik dapat merangcang keadilan sosial– tak sekadar memburu efisiensi industri.
Menengahkan Posisi Guru: Jangan Ditaruh di Tepi
Ketimpangan wilayah baru merupakan satu sisi mata uang. Sisi lain yang tidak kalah memprihatinkan adalah nasib para guru.
“Sangat mustahil mengharapkan lahirnya generasi emas jika para arsitek peradaban ini terus diposisikan di margin kesejahteraan dan didera kecemasan esensial: bagaimana cara menyambung hidup esok hari,”ungkapnya.
Fakta di berbagai tempat, masih banyak kehidupan guru yang jauh dari kata sejahtera. Gaji guru per bulan hanya Rp. 500 ribu, yang jauh lebih rendah dari upah buruh harian kasar.
Di tengah tuntutan administratif yang kian menjerat dan beban kurikulum yang terus berganti, guru dipaksa menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dalam arti yang paling peyoratif,katanya.
Kita tidak bisa membangun menara ambisi Visi Indonesia Emas 2045 jika fondasi utamanya kesejahteraan dan kualitas guru dibiarkan rapuh dan keropos,imbuhnya.
Namun demikian, Irwan tetap mengapresiasi respon yang diberikan Kemendikdasmen untuk masalah ini dengan mengusung program Pendidikan Bermutu untuk Semua. Meski program yang masih beliaini belum sepenuhnya tuntas dilakukan.
Oleh karena itu, perayaan HUT ke-81 RI tahun ini tidak boleh berhenti pada seremonial visual belaka, tetapi harus hadir memberi jawaban atas berbagai ketimpangan yang ada,katanya.
Irwan berharap kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran tidak boleh hanya menjadi pemanis di lembar pidato kenegaraan atau hiasan spanduk di tepi jalan.






