Minggu, 4 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Siapkan Mental dan Spiritualitas Sejak Dini, Wujudkan Lansia Bahagia, Sehat, dan Berdaya

Oleh ilham • • 4 Menit Min
Siapkan Mental dan Spiritualitas Sejak Dini, Wujudkan Lansia Bahagia, Sehat, dan Berdaya

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Bahiroh, menegaskan bahwa menjadi tua merupakan kepastian yang akan dialami setiap manusia. Namun, menjalani masa lanjut usia (lansia) dengan bahagia, sehat, dan tetap berdaya merupakan sebuah pilihan yang harus dipersiapkan sejak dini, baik dari sisi mental, fisik, maupun spiritual.

Hal tersebut disampaikan Siti Bahiroh dalam podcast Indahnya Cahaya Islam bersama host Adib Sofia pada Senin (29/6). Dalam kesempatan itu, ia mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap masa tua, bukan sebagai fase yang menakutkan, melainkan sebagai tahapan kehidupan yang dapat dijalani secara bermakna.

Menurutnya, bertambahnya angka harapan hidup masyarakat menyebabkan jumlah lansia terus meningkat, baik di Indonesia maupun di berbagai negara. Kondisi tersebut menuntut perhatian yang lebih besar dari keluarga maupun masyarakat agar mampu menciptakan lingkungan yang ramah terhadap lansia.

Siti Bahiroh menjelaskan bahwa kesiapan mental merupakan fondasi utama dalam menghadapi masa lanjut usia. Seseorang yang telah mempersiapkan diri akan lebih mampu menerima berbagai perubahan yang lazim terjadi ketika memasuki usia senja, seperti berkurangnya kekuatan fisik, pensiun dari pekerjaan, kehilangan teman sebaya, hingga ditinggal pasangan hidup.

“Ketika memasuki usia lansia, seseorang akan menghadapi berbagai kehilangan. Karena itu, sejak sekarang kita perlu mempersiapkan mental sekaligus memperkuat spiritualitas agar tidak mudah resah maupun gelisah,” ujarnya.

Ia menambahkan, kedekatan kepada Allah melalui doa, zikir, dan ibadah menjadi sumber ketenangan batin yang mampu membantu seseorang melewati fase kehidupan tersebut dengan lebih ikhlas dan damai.

Siti Bahiroh mengingatkan bahwa proses penuaan merupakan sunatullah yang telah dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Yasin ayat 68 yang menerangkan bahwa manusia yang dipanjangkan usianya akan mengalami kemunduran kondisi fisik dari kuat menjadi lemah.

Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap manusia pasti mengalami proses penuaan sehingga yang perlu dipersiapkan bukan sekadar usia panjang, melainkan bagaimana mengisinya dengan kualitas hidup yang baik.

Ia mengutip ungkapan populer yang menyatakan bahwa tua merupakan kepastian, sedangkan kedewasaan adalah pilihan. Namun, menurutnya, ungkapan tersebut dapat diperkaya menjadi, “Tua itu pasti, tetapi tua dengan bahagia, sehat, dan berdaya adalah pilihan.”

Silaturahmi Menjadi Kunci Kebahagiaan Lansia

Salah satu ikhtiar penting agar lansia tetap bahagia adalah memperbanyak silaturahmi. Menurut Siti Bahiroh, hubungan sosial yang baik memberikan dampak positif terhadap kondisi psikologis seseorang.

“Lansia yang tetap aktif bersosialisasi akan merasa dirinya masih dibutuhkan, dihargai, dan memiliki makna dalam kehidupan,” jelasnya.

Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan ajaran Islam yang menganjurkan silaturahmi. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaknya mempererat tali silaturahmi. Selain bernilai ibadah, silaturahmi juga terbukti memberikan manfaat bagi kesehatan mental serta kualitas hidup seseorang.

Selain menjaga hubungan sosial, Siti Bahiroh menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. Menurutnya, kebiasaan berjalan kaki, tidak berlebihan dalam makan, serta menjaga pola konsumsi merupakan bagian dari gaya hidup yang relevan bagi semua usia, terutama lansia.

Ia mengingatkan bahwa kemampuan fisik lansia sudah tidak sama seperti ketika muda sehingga diperlukan pengaturan pola makan yang lebih bijaksana. Mengonsumsi makanan secukupnya dan menghentikan makan sebelum kenyang menjadi salah satu prinsip yang dapat membantu menjaga kesehatan.

Tidak hanya kesehatan fisik, lansia juga perlu memahami perubahan psikologis yang terjadi seiring bertambahnya usia. Sensitivitas yang meningkat merupakan bagian dari proses penuaan sehingga diperlukan kemampuan mengelola perasaan agar tidak mudah tersinggung atau merasa diabaikan.

Menurutnya, tidak semua bentuk kurangnya perhatian dari orang lain berarti hilangnya kasih sayang. Cara berpikir yang positif akan membantu lansia menjalani kehidupan dengan lebih tenang.

Lansia Harus Tetap Berdaya dalam Keluarga

Dalam kesempatan tersebut, Siti Bahiroh juga menolak anggapan bahwa lansia identik dengan beban keluarga. Ia menegaskan bahwa lansia tetap memiliki peran penting melalui pengalaman hidup, kebijaksanaan, serta nasihat yang dimilikinya.

“Lansia tetap memiliki kekuatan dalam keluarga, bukan semata-mata kekuatan fisik, tetapi kekuatan berupa pengalaman dan ilmu yang tidak dimiliki generasi muda,” katanya.

Karena itu, ia tidak menganjurkan agar lansia dipisahkan dari keluarga selama tidak ada kondisi yang mengharuskannya. Menurutnya, lingkungan keluarga yang hangat justru menjadi tempat terbaik bagi lansia untuk tetap merasa dihargai dan dicintai.

Ia menambahkan bahwa keberadaan lansia dalam keluarga seharusnya tetap dilibatkan dalam berbagai musyawarah maupun pengambilan keputusan. Pengalaman mereka merupakan aset yang berharga sehingga tidak selayaknya diabaikan.

Siti Bahiroh menegaskan bahwa pemberdayaan lansia dimulai dari lingkungan keluarga melalui pengamalan nilai birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua.

Ia menekankan bahwa penghormatan kepada orang tua maupun mertua tidak boleh dibedakan. Keduanya berhak memperoleh perhatian, penghormatan, serta dilibatkan dalam kehidupan keluarga.

Selain itu, keluarga juga perlu memperhatikan kebutuhan fisik lansia, termasuk ketika membangun atau merenovasi rumah. Desain rumah, akses tangga, hingga fasilitas umum hendaknya dibuat lebih ramah terhadap lansia agar mereka dapat menjalani aktivitas dengan aman dan nyaman.

Menurutnya, lansia merupakan kelompok rentan yang membutuhkan perhatian lebih. Oleh karena itu, sebelum berbicara mengenai pemberdayaan lansia secara luas, keluarga seharusnya terlebih dahulu memastikan bahwa orang tua mereka sendiri telah memperoleh perhatian dan penghormatan yang layak.

Persiapan Menuju Masa Tua

Menutup perbincangan, Siti Bahiroh mengajak seluruh masyarakat untuk mempersiapkan masa tua sejak usia produktif. Persiapan tersebut mencakup menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan bergizi secara seimbang, memperbanyak aktivitas fisik ringan, memperkuat spiritualitas melalui doa dan zikir, serta menjaga silaturahmi dengan keluarga maupun masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa meningkatnya jumlah lansia harus direspons dengan pembangunan peradaban yang semakin ramah terhadap kelompok usia lanjut. Menurutnya, keberadaan lansia perlu dihargai, dilibatkan, dan diberi ruang untuk terus berkontribusi sesuai kemampuan mereka.

“Lansia yang bahagia, sehat, dan berdaya bukan hanya menjadi tanggung jawab dirinya sendiri, tetapi juga merupakan tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan seluruh pihak agar mereka tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan