Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

PHIWM Dinilai Tetap Relevan Menjadi Pedoman Kehidupan Warga Muhammadiyah

Oleh timredaksi 4 Menit Min
PHIWM Dinilai Tetap Relevan Menjadi Pedoman Kehidupan Warga Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Nurwanto, mengajak warga Muhammadiyah untuk kembali menghidupkan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) sebagai panduan utama dalam menjalani kehidupan pribadi, bermasyarakat, hingga berbangsa.

Ajakan tersebut disampaikan dalam pengajian di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (21/7).

Menurut Nurwanto, PHIWM merupakan salah satu pedoman resmi Muhammadiyah yang diputuskan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta pada tahun 2000. Ia menilai pedoman tersebut tetap relevan untuk menjawab tantangan kehidupan umat karena memuat tuntunan praktis yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah.

Ia menjelaskan bahwa UMY juga telah mengembangkan pedoman serupa dalam lingkup kampus melalui Pedoman Hidup Islami Warga UMY yang merupakan turunan dari PHIWM. Langkah itu menjadi bagian dari upaya membumikan nilai-nilai Islam dalam seluruh aktivitas akademik dan kehidupan kampus.

Nurwanto juga mengenang upaya Muhammadiyah pada pertengahan tahun 2000-an dalam mengintegrasikan nilai-nilai PHIWM ke dalam pendidikan kewarganegaraan. Saat itu, melalui program pengembangan pendidikan kewarganegaraan berbasis nilai-nilai Islam, Muhammadiyah menyusun buku ajar yang menghubungkan pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan dengan prinsip-prinsip Islam.

Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Islam memiliki landasan nilai yang kuat dalam membangun kecintaan kepada bangsa dan negara, sekaligus menjadi pijakan dalam mengelola sumber daya nasional, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Ia mengingatkan bahwa kekayaan bangsa akan menjadi sia-sia apabila tidak dikelola secara amanah dan bertanggung jawab.

“Kalau sumber daya nasional salah urus, bahkan sampai terjadi malpraktik dalam pengelolaannya, maka masa depan bangsa bisa menjadi suram,” ujarnya.

Dalam paparannya, Nurwanto menjelaskan struktur PHIWM yang terdiri atas lima bagian, yakni pendahuluan, pandangan Islam tentang kehidupan, pedoman kehidupan Islami warga Muhammadiyah, tuntunan pelaksanaan, dan penutup. Bagian terbesar berisi pedoman kehidupan yang mencakup kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, organisasi, amal usaha, dunia usaha, profesi, kehidupan berbangsa dan bernegara, pelestarian lingkungan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga seni dan budaya.

Ia menilai buku tersebut sangat padat sehingga memerlukan pembacaan berulang dan pendalaman melalui berbagai referensi ideologis Muhammadiyah, termasuk Himpunan Putusan Tarjih serta berbagai pemikiran ulama Muhammadiyah.

Mengulas bagian “Pandangan Islam tentang Kehidupan”, Nurwanto menegaskan bahwa PHIWM terlebih dahulu mendefinisikan Islam secara komprehensif sesuai perspektif Muhammadiyah. Islam dipahami sebagai agama Allah yang diwahyukan kepada seluruh rasul sebagai petunjuk dan rahmat bagi umat manusia sepanjang zaman.

Menurutnya, pemahaman tersebut menegaskan bahwa ajaran Islam memiliki kesinambungan sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw. Esensi dakwah seluruh nabi, lanjutnya, bertumpu pada dua misi utama, yaitu tauhid dan amar makruf nahi mungkar.

“Tauhid harus tercermin dalam perjuangan menghadirkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Itulah misi seluruh nabi,” jelasnya.

Nurwanto juga mengingatkan bahwa perjuangan para nabi tidak selalu diikuti keberhasilan yang tampak secara lahiriah, bahkan banyak di antara mereka menghadapi penolakan dari lingkungan terdekat, termasuk keluarganya sendiri. Karena itu, keberhasilan dakwah menurut Islam tidak semata-mata diukur dari hasil, melainkan dari kesungguhan ikhtiar yang dilakukan.

Ia kemudian menjelaskan bahwa PHIWM memandang kehidupan dunia secara positif. Menurutnya, Muhammadiyah mengajarkan bahwa dunia bukan untuk ditinggalkan, melainkan menjadi ladang amal dalam membangun masyarakat yang lebih baik sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.

“Islam mengajarkan keseimbangan. Kita mengejar kebaikan dunia sekaligus mempersiapkan kehidupan akhirat karena dunia adalah tempat menanam amal untuk dipanen kelak di akhirat,” tuturnya.

Nurwanto juga menegaskan bahwa setiap amal seorang muslim harus berlandaskan iman kepada Allah. Menjadikan manusia, kelompok, organisasi, atau institusi sebagai sandaran utama hanya akan melahirkan kekecewaan, sedangkan Allah merupakan satu-satunya tempat bergantung yang hakiki.

Bayani, Burhani, Irfani

Dalam kesempatan tersebut, ia mengulas tiga pendekatan keilmuan yang menjadi karakter pemikiran Muhammadiyah, yaitu bayani, burhani, dan irfani. Pendekatan bayani berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah beserta perangkat ilmu-ilmu keislaman. Pendekatan burhani memanfaatkan ilmu pengetahuan empiris, baik ilmu alam maupun ilmu sosial, untuk memahami realitas secara kontekstual. Sementara pendekatan irfani menekankan pendalaman spiritual, keikhlasan, dan kebijaksanaan hati.

Menurutnya, ketiga pendekatan itu tidak boleh dipisahkan karena saling melengkapi dalam membangun cara pandang Islam yang utuh.

Ia mencontohkan bahwa pengembangan Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah juga dilakukan melalui kolaborasi para ahli tafsir bersama ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu agar pesan Al-Qur’an dapat dipahami secara lebih kontekstual sesuai perkembangan zaman. Upaya integrasi tersebut, lanjutnya, juga diwujudkan melalui keberadaan Center for Integrative Science and Civilization (CISIC) di UMY yang mengembangkan hubungan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Al-Qur’an serta Sunah.

Pada aspek irfani, Nurwanto menekankan pentingnya pembinaan spiritual yang melahirkan keikhlasan dan kepedulian sosial. Ia menilai latihan-latihan seperti Baitul Arqam perlu memberi ruang lebih luas bagi pembinaan kejiwaan dan tazkiyatun nafs agar nilai-nilai Islam tidak berhenti pada tataran teori.

Ia mengingatkan keteladanan KH Ahmad Dahlan yang mengajarkan Surah Al-Ma’un tidak hanya melalui hafalan, tetapi juga dengan mengajak murid-muridnya mempraktikkan kepedulian kepada kaum miskin dan anak-anak terlantar. Menurutnya, pengalaman langsung seperti itu merupakan cara efektif menumbuhkan dimensi irfani dalam kehidupan seorang muslim.

Menutup pengajiannya, Nurwanto mengajak seluruh warga Muhammadiyah menjadikan PHIWM sebagai instrumen evaluasi diri dalam kehidupan sehari-hari. Ia mendorong setiap warga untuk secara berkala menilai sejauh mana pedoman tersebut telah diwujudkan dalam perilaku pribadi, keluarga, maupun aktivitas sosial sehingga kualitas keimanan, ibadah, dan akhlak terus meningkat dari waktu ke waktu.

Tinggalkan Balasan