MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat (LSB PP) Muhammadiyah resmi ditutup pada Sabtu malam (11/7) di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Jakarta Pusat.
Penutupan Rakernas menandai lahirnya sejumlah rekomendasi strategis sebagai arah pengembangan seni dan budaya di lingkungan persyarikatan.
Ketua LSB PP Muhammadiyah, Gunawan Budiyanto, mengatakan Rakernas menghasilkan berbagai rekomendasi yang berorientasi pada penguatan potensi seni dan kebudayaan Muhammadiyah. Menurutnya, pengembangan sektor tersebut tidak dapat dilakukan oleh LSB semata, melainkan memerlukan kolaborasi dengan berbagai institusi yang memiliki perhatian terhadap bidang seni dan budaya.
“Tentu dalam pengembangan sektor ini, LSB tidak bisa bekerja sendiri, tetapi harus bekerja sama dengan berbagai institusi yang menekuni seni dan budaya,” ujar Gunawan.
Ia menjelaskan, LSB PP Muhammadiyah berupaya menyusun arsitektur pengembangan seni dan budaya yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam Berkemajuan yang menjadi landasan gerakan Muhammadiyah.
“LSB mencoba menyusun arsitektur seni budaya modern yang tetap berlandaskan nilai-nilai seni budaya yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam Berkemajuan. Arsitektur seni budaya modern itu seperti apa, inilah yang menjadi tugas kita bersama,” katanya.
Dan salah satu rekomendasi yang dinilai strategis dalam Rakernas ini adalah mendorong berdirinya fakultas maupun program studi seni dan budaya di Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA). Menurut Gunawan, rekomendasi tersebut merupakan bentuk ikhtiar untuk memperkuat pengembangan keilmuan seni dan budaya di lingkungan Muhammadiyah.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa rekomendasi tersebut tidak bersifat mengikat. Keputusan untuk membuka fakultas atau program studi tetap berada di tangan masing-masing PTM sesuai dengan kesiapan institusi dan kewenangan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah.
“Kami memberikan rekomendasi. Bagi PTM yang sudah mampu, silakan menyiapkan kurikulum serta berbagai aspek pengorganisasiannya. Namun keputusan sepenuhnya berada di PTM. Kami tidak menarasikan ini sebagai sebuah kewajiban,” ungkapnya.
Gunawan menambahkan, pengembangan seni dan budaya di perguruan tinggi tidak harus langsung diwujudkan dalam bentuk fakultas atau program studi. PTM dapat memulainya melalui pusat studi, kajian akademik, maupun menjadikan seni budaya sebagai muatan lokal atau bagian dari penguatan kurikulum.
“Bisa dimulai dalam bentuk kajian, pusat studi, atau menjadikan seni budaya sebagai muatan lokal. Setelah berkembang dan dinilai siap, baru dapat ditingkatkan. Jadi ini bukan sebuah keharusan, melainkan tahapan pengembangan,” jelas Gun menambahkan.
Di akhir Rakernas, LSB PP Muhammadiyah juga menegaskan komitmennya untuk terus menyusun strategi kebudayaan sebagai panduan pengembangan seni dan budaya di seluruh tingkatan organisasi.
Sebagai bagian dari arah kebijakan tersebut, LSB telah menyusun blueprint pengembangan yang berpijak pada tiga pilar utama, yakni: penguatan arena kebudayaan, pengembangan seni dan budaya di perguruan tinggi Muhammadiyah, serta perumusan posisi Muhammadiyah dalam arena ekonomi-politik kebudayaan. Blueprint itu juga mencakup penyusunan fikih kebudayaan dan petunjuk teknis resmi sebagai pedoman implementasi.
Melalui berbagai langkah tersebut, Gunawan berharap wajah Muhammadiyah semakin dikenal bukan hanya sebagai gerakan Islam Berkemajuan, tetapi juga sebagai gerakan yang memiliki kontribusi nyata dalam pengembangan kebudayaan.
“Harapan saya, ke depan kita tidak hanya melihat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Berkemajuan, tetapi juga menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan budaya berkemajuan,” tandasnya. (Bhisma)






