MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Milad ke-24 Lazismu harus menjadi momentum untuk memperkuat profesionalisme, konsolidasi organisasi, serta meningkatkan dampak pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS).
Amanat tersebut disampaikan Haedar melalui tayangan video dalam Resepsi Milad Lazismu yang ke-24 pada Rabu, (29/7) yang berlangsung di Aula lantai 4 Perpusnas, Gambir, Jakarta Pusat
Menurut Haedar, peringatan milad bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi ruang muhasabah untuk meneguhkan komitmen membesarkan Lazismu sebagai salah satu pilar penting dalam mengorganisasikan sekaligus mendayagunakan zakat, infak, dan sedekah di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.
Ia juga berpesan agar konsolidasi organisasi dilakukan secara menyeluruh, termasuk di lingkungan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM). Menurutnya, seluruh proses kerja, sistem organisasi, dan tujuan Lazismu harus berjalan dalam satu kesatuan langkah sehingga semakin memperkokoh keberadaan lembaga sebagai pelaksana fungsi ZIS Persyarikatan.
Selain penguatan organisasi, Haedar mendorong Lazismu terus melakukan langkah-langkah yang progresif dalam penghimpunan dana zakat, infak, dan sedekah. Penghimpunan tersebut, menurutnya, tidak hanya menyasar warga Muhammadiyah, tetapi juga menjangkau umat Islam secara lebih luas melalui pendekatan yang proaktif, simpatik, dan mampu membangun kepercayaan masyarakat.
“Lakukan dinamisasi langkah-langkah yang semakin progresif dan luas, bukan hanya dalam hal pengumpulan di sisi internal warga Muhammadiyah, tetapi juga di lingkungan umat Islam secara lebih luas, yang tentu meniscayakan langkah-langkah yang proaktif, simpatik, dan menciptakan trust atau kepercayaan dari masyarakat luas sehingga mereka mau menitipkan amanah ZIS-nya kepada Lazismu,” tuturnya.
Lebih lanjut, Haedar mengingatkan bahwa penguatan penghimpunan harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pendayagunaan dana ZIS. Ia meminta agar penyaluran tidak semata-mata didasarkan pada proposal yang masuk, tetapi disusun berdasarkan pemetaan kebutuhan jamaah, amal usaha, dan komunitas yang benar-benar membutuhkan sehingga tercipta pemerataan dan keadilan dalam pemanfaatan dana.
“Aktivitas pentasyarufan dan pemanfaatan dana ZIS harus dilakukan secara lebih teratur, berdasarkan pemetaan jamaah, lembaga, dan komunitas yang memang memerlukan, sehingga terjadi proses pemerataan dan keadilan dalam penggunaan dan pemanfaatannya. Jangan sampai ada tempat, komunitas, atau lembaga yang sangat memerlukan tetapi belum tersantuni oleh dana ZIS,” ujarnya.
Menutup amanatnya, Haedar mengajak Lazismu untuk terus memperluas jejaring dan kolaborasi dengan berbagai pihak sebagai upaya meningkatkan kapasitas penghimpunan dana secara lebih luas dan akumulatif. Ia optimistis, dengan organisasi yang semakin solid, tata kelola yang profesional, serta kolaborasi yang semakin kuat, Lazismu akan mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi Persyarikatan, umat, dan masyarakat luas. (taufik)






