Senin, 21 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Guru SLB Harus Menjadi Penggerak Transformasi Digital Pendidikan Inklusif

Oleh timredaksi 3 Menit Min
Guru SLB Harus Menjadi Penggerak Transformasi Digital Pendidikan Inklusif

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BOGOR – Transformasi pendidikan inklusif tidak hanya menuntut tersedianya akses belajar bagi semua anak, tetapi juga penguatan kapasitas guru dalam menjawab tantangan perkembangan teknologi. Karena itu, guru Sekolah Luar Biasa (SLB) didorong menjadi penggerak transformasi digital agar peserta didik berkebutuhan khusus semakin mandiri dan siap menghadapi masa depan.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Program Peningkatan Kompetensi Guru SLB Bidang Keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang diselenggarakan Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (PMPK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Bogor, pada 14–17 Juli 2026.

Program ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat kompetensi guru pendidikan khusus, khususnya dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai media pembelajaran sekaligus sarana pengembangan keterampilan peserta didik berkebutuhan khusus.

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, Rita Pranawati, menegaskan bahwa guru SLB memiliki peran strategis dalam membuka ruang tumbuh bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Rita yang juga merupakan Bendahara Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah ini mengatakan, bahwa menjadi guru SLB bukan sekadar menjalankan profesi, melainkan bentuk pengabdian yang membutuhkan kepedulian, kesabaran, serta komitmen yang tinggi.

“Tidak banyak orang yang memilih mengabdikan diri di sekolah luar biasa. Karena itu, dedikasi para guru SLB merupakan sesuatu yang patut dihargai,” ujar Rita.

Ia berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi mampu melahirkan guru-guru yang menjadi motor inovasi pembelajaran di sekolah masing-masing.

“Guru harus mampu menjadi agen perubahan agar lahir berbagai praktik baik yang semakin berpihak kepada anak berkebutuhan khusus,” katanya.

Selain memperkuat kompetensi guru di bidang TIK, kegiatan ini juga menjadi momentum peluncuran Lalubi (Lapak Luar Biasa), sebuah platform digital yang dirancang sebagai ruang apresiasi bagi karya peserta didik berkebutuhan khusus dari berbagai daerah di Indonesia.

Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif Jamali, menjelaskan bahwa peningkatan kompetensi guru harus berjalan beriringan dengan pembangunan ekosistem pembelajaran yang memberi ruang lebih luas bagi peserta didik untuk menunjukkan kreativitas dan potensinya.

Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY menekankan bahwa selama ini banyak karya peserta didik berkebutuhan khusus yang hanya dikenal di lingkungan sekolah. Melalui Lalubi, karya-karya tersebut diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.

“Tujuan utama platform ini bukan hanya menjual produk, tetapi memberikan pengakuan bahwa anak berkebutuhan khusus mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan bernilai,” ujarnya.

Arif menambahkan, Lalubi akan dikembangkan sebagai etalase nasional yang menampilkan beragam karya peserta didik pendidikan khusus. Kehadiran platform ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri anak sekaligus memperlihatkan potensi besar yang mereka miliki.

Program peningkatan kompetensi ini juga diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai mitra, antara lain SEAMEO BIOTROP, Universitas Negeri Malang, Universitas Gunadarma, serta guru-guru SLB berprestasi yang berbagi praktik baik pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran pendidikan khusus.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan khusus yang tidak hanya berorientasi pada pembelajaran di kelas, tetapi juga pengembangan keterampilan vokasional untuk mendukung kemandirian peserta didik.

Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan Direktorat Guru PMPK, Ahmad Budidarma, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memastikan pemerataan kesempatan peningkatan kompetensi guru pendidikan khusus di seluruh Indonesia.

Sebanyak 855 guru SLB dari berbagai daerah mendaftarkan diri. Setelah melalui seleksi administrasi, 812 guru mengikuti pembelajaran daring. Dari jumlah tersebut, 30 peserta terbaik dipilih mengikuti pelatihan praktik secara langsung di Bogor berdasarkan hasil evaluasi akademik, keterwakilan wilayah, dan asal satuan pendidikan.

Menurut Ahmad, keberagaman peserta menjadi kekuatan tersendiri karena tidak hanya berasal dari wilayah perkotaan, tetapi juga dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk Pulau Morotai, Maluku Utara.

“Kami ingin memastikan peningkatan kompetensi guru pendidikan khusus tidak hanya dirasakan oleh guru di kota besar. Guru dari wilayah perbatasan juga harus mendapatkan kesempatan yang sama,” ujarnya.

Ia menilai pertemuan para guru dari berbagai daerah membuka ruang berbagi pengalaman serta praktik baik yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

Ahmad juga berharap kehadiran Lalubi mampu memperluas apresiasi masyarakat terhadap karya peserta didik berkebutuhan khusus.

“Kami berharap semakin banyak karya anak-anak berkebutuhan khusus yang dikenal masyarakat. Setiap apresiasi terhadap karya mereka merupakan bentuk penghormatan terhadap kreativitas, kemampuan, dan potensi yang dimiliki,” katanya.

Ia menambahkan, pelatihan ini juga melibatkan guru penyandang disabilitas sebagai peserta. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah hambatan untuk terus belajar, berinovasi, dan berkarya.

Tinggalkan Balasan