Foto itu beredar ke seluruh dunia bahkan sebelum Final FIFA World Cup 2026 ditentukan. Sebuah foto yang memperlihatkan seorang bayi berusia lima bulan sedang dimandikan oleh legenda Argentina dan Barcelona, Lionel Messi dalam sesi pemotretan amal Barcelona bersama UNICEF di tahun 2007. Ya, ajaibnya, bayi itu adalah Lamine Yamal.
Banyak orang kemudian menghubungkan kedua peristiwa tersebut sebagai sebuah “takdir yang telah ditulis”. Narasi bahwa “bayi yang pernah dimandikan sang legenda akhirnya tumbuh menjadi juara dunia” pun menyebar luas dan memancing berbagai respons. Ada yang menganggapnya sekadar kebetulan yang indah, ada pula yang melihatnya sebagai simbol estafet kejayaan sepak bola.
Namun, jika direnungkan lebih dalam, kisah ini sebenarnya bukan semata tentang foto bersejarah atau rangkaian kebetulan yang menakjubkan. Ada pelajaran yang juga penting, yakni tentang hubungan antara ikhtiar manusia, takdir Allah, dan sikap tawakal seorang hamba.
Saat foto itu diambil, Lionel Messi baru berusia 20 tahun. Meski telah mulai mencuri perhatian dunia dengan gaya sepak bola mudanya, ia belum menjadi sosok yang hari ini dikenal sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Semua pencapaian besarnya masih berada di masa depan.
Seiring berjalannya waktu, Messi kemudian membuktikan bahwa bakat saja tidak pernah cukup. Ia perlu meniti karir dengan disiplin, konsistensi, dan kerja keras yang luar biasa. Sosok Messi pun pernah mengalami titik terendahnya dalam sepak bola. Salah satunya adalah pasca Final Copa America 2016 setelah Argentina tumbang secara menyakitkan dari Chile. Hal itu sempat membuatnya terpukul dan menyatakan untuk “pensiun”. Namun, Ia menarik keputusannya itu dan kembali membela Tim Nasional Argentina hingga meraih juara Piala Dunia 2022 dan kini menjadi runner up Piala Dunia 2026.
Bertahun-tahun ia menjaga performa di level tertinggi hingga akhirnya mengoleksi berbagai gelar bergengsi, seperti delapan Ballon d’Or, Piala Dunia, dua Copa América, serta berbagai penghargaan individual dan trofi di level klub. Tak heran jika banyak orang kemudian menjulukinya sebagai Greatest of All Time (GOAT).
Di sisi lain, bayi yang ada dalam foto itu juga menjalani perjalanan hidupnya sendiri. Tidak ada yang dapat memastikan bahwa Lamine Yamal akan menjadi pesepak bola profesional. Ia bisa saja tumbuh menjadi siapa saja, bahkan mungkin dengan profesi yang jauh dari “sepak bola”.
Namun takdir dan keputusan Yamal berkata lain, Yamal memilih jalan sepak bola. Ia bergabung dengan akademi La Masia, bekerja keras mengasah kemampuannya, menjaga konsistensi penampilannya, hingga akhirnya dipercaya memperkuat Barcelona dan Tim Nasional Spanyol.
Hingga pada akhirnya, tepatnya di MetLife Stadium Amerika, (19/7) pada usia 19 tahun yang terhitung masih sangat muda, ia berhasil mengukir prestasi yang diimpikan jutaan pemain sepak bola: menjadi juara dunia bersama negaranya Spanyol, sekaligus mengalahkan Tim Nasional Argentina yang dibela oleh Lionel Messi, seniornya di Barcelona sekaligus sosok yang pernah melakukan sesi pemotretan bersamanya di tahun 2007.
Apakah Semua Itu Hanya Kebetulan? Ataukah Memang Takdir?
Dalam Islam, keduanya tidak perlu dipertentangkan. Seorang muslim diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah SWT.
Allah berfirman Dalam Qs. An Najm Ayat 39:
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang sangat menghargai usaha. Keberhasilan tidak lahir dari angan-angan, melainkan dari kerja keras, kesungguhan, kesabaran, dan ketekunan yang terus dijaga.
Baik Messi maupun Yamal bukan mencapai puncaknya di Final Piala Dunia 2026 hanya karena sebuah foto. Mereka sampai di sana karena ribuan jam latihan, pengorbanan, disiplin, kerjasama tim dan konsistensi yang dijalani selama bertahun-tahun.
Dari situ kita belajar bahwa pengorbanan dan kerja keras memang sangat dibutuhkan. Namun, terdapat satu hal lagi yang diajarkan dalam Islam. Bahwasannya dari kerja keras dan suratan takdir tersebut ada benang merah yang menjadi jalan tengahnya yaitu: “Tawakal” atau percaya terhadap hasil akhir hanya kepada kehendak Allah semata.
Allah berfirman:
ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِى ٱلْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ فَقَدَّرَهُۥ تَقْدِيرًا
“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Qs. Al Furqan Ayat 2).
Ayat ini mengingatkan bahwa segala sesuatu telah berada dalam takaran, ilmu dan ketetapan Allah. Termasuk perjalanan hidup seseorang, rezekinya, keberhasilannya, bahkan pertemuan-pertemuan kecil yang baru dipahami maknanya bertahun-tahun kemudian.
Mungkin tidak ada seorang pun pada tahun 2007 yang membayangkan bayi dalam pelukan Messi kelak akan berdiri di panggung tertinggi sepak bola dunia bersamanya. Tetapi Allah telah mengetahui seluruh perjalanan itu jauh sebelum manusia menyadarinya.
Di sinilah letak keseimbangan ajaran Islam. Kita tidak diajarkan menjadi fatalis, menyerah sepenuhnya kepada nasib dan takdir atau percaya dengan hanya menunggu takdir tanpa usaha. Lebih jauh bahkan Islam juga mengajarkan kita untuk tidak menjadi sombong seolah-olah seluruh keberhasilan adalah hasil kerja keras semata.
Ikhtiar dan Tawakal adalah Dua Sisi yang Tidak Dapat Dipisahkan
Karena itu, kisah Messi dan Lamine Yamal sesungguhnya bukanlah cerita tentang “sentuhan ajaib” yang mengubah nasib seseorang. Foto itu hanyalah sepotong momen dalam perjalanan panjang kehidupan. Yang menentukan adalah bagaimana masing-masing menjalani hidupnya dengan kerja keras, kesungguhan, dan keteguhan untuk terus berkembang.
Jika kemudian Allah menghendaki keduanya sama-sama menjadi juara dunia, maka itulah bagian dari takdir-Nya yang terbaik.
Pada akhirnya, setiap keduanya memiliki “Piala Dunia”-nya masing-masing. Messi mendapatkannya terlebih dahulu di tahun 2022. Sedangkan Lamine Yamal, menyusul dengan mengalahkan tim nasional Argentina yang di bela Messi di tahun 2026.
Maka, pelajaran terbesar dari kisah Messi dan Lamine Yamal bukanlah bahwa seorang bayi pernah dimandikan oleh seorang GOAT. Pelajaran terbesarnya adalah bahwa setiap impian membutuhkan ikhtiar, setiap hasil adalah ketetapan Allah, dan setiap langkah harus diiringi dengan tawakal.
Sebab, manusia hanya diwajibkan berusaha. Adapun hasil akhirnya, Allah-lah sebaik-baik Penentu takdir.
Penulis: Bhisma Rahaditya Handoko
Sumber Foto: Joan Monfort / UNICEF






