Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Dari Frobel School hingga TK ABA Semesta, Jejak Pembaruan Pendidikan Nyai Walidah

Oleh timredaksi 3 Menit Min
Dari Frobel School hingga TK ABA Semesta, Jejak Pembaruan Pendidikan Nyai Walidah

Perkembangan teknologi digital membuka berbagai peluang sekaligus menghadirkan tantangan baru dalam dunia pendidikan anak. Arus informasi yang bergerak tanpa batas membuat anak-anak semakin mudah mengakses beragam konten melalui gawai. Di sisi lain, meningkatnya durasi screen time berpotensi memengaruhi cara berpikir, perilaku, hingga pembentukan karakter mereka.

Anak menjadi kelompok yang paling rentan di tengah derasnya arus informasi digital. Tanpa pendampingan yang memadai, berbagai informasi dapat diterima begitu saja tanpa proses penyaringan. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan pengawasan, tetapi juga perlu membangun kemampuan anak untuk berpikir kritis sekaligus memiliki fondasi moral yang kokoh.

Dalam konteks tersebut, pendidikan anak usia dini dituntut terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Penanaman nilai-nilai Islam sejak dini menjadi fondasi penting agar anak tumbuh sebagai pribadi yang berkarakter, berakhlak mulia, sekaligus mampu menghadapi tantangan era digital.

Melanjutkan Warisan Pembaruan Nyai Siti Walidah

Gagasan menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap perubahan sejatinya telah dirintis lebih dari satu abad lalu oleh Nyai Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan. Bersama KH Ahmad Dahlan, ia menghadirkan pembaruan pendidikan Islam di tengah situasi kolonial yang memisahkan pendidikan agama dan pendidikan umum.

Saat itu, pendidikan modern cenderung mengesampingkan nilai-nilai agama, sementara pendidikan pesantren memandang ilmu-ilmu umum dengan penuh kehati-hatian. Melihat kondisi tersebut, KH Ahmad Dahlan dan Nyai Siti Walidah menawarkan pendekatan baru dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.

Gagasan tersebut menjadi tonggak penting lahirnya pendidikan Islam modern di Indonesia. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter, spiritualitas, dan kepedulian sosial.

Selain menjadi pelopor pembaruan pendidikan, Nyai Siti Walidah juga dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan kemajuan perempuan melalui gerakan ‘Aisyiyah. Kiprahnya membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan sekaligus berperan aktif dalam kehidupan masyarakat.

Semangat itu diwujudkan melalui pendirian Frobel School pada 1919 yang kemudian berkembang menjadi TK ‘Aisyiyah Busthanul Athfal (ABA). Hingga kini, TK ABA tumbuh menjadi salah satu jaringan pendidikan anak usia dini terbesar di Indonesia, bahkan telah hadir di berbagai negara sebagai bagian dari dakwah pendidikan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Menjawab Tantangan Zaman

Lebih dari seabad kemudian, semangat pembaruan tersebut terus dilanjutkan. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah berupaya menghadirkan pendidikan anak usia dini yang mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam Berkemajuan.

Salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan melalui pendirian TK ABA Semesta di Mejing Kidul, Ambarketawang, Gamping, Sleman. Lembaga yang mulai beroperasi pada 13 Juli 2026 itu dirancang sebagai pendidikan anak usia dini yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan pendekatan pembelajaran modern.

TK ABA Semesta menerapkan kurikulum holistik integratif yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan kognitif, tetapi juga memperhatikan aspek emosional, sosial, spiritual, serta pembentukan karakter peserta didik. Orang tua juga ditempatkan sebagai mitra utama sekolah dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Pembelajaran dikembangkan melalui berbagai pusat aktivitas (learning stations) yang memberikan pengalaman belajar yang beragam setiap pekan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kreativitas, kemandirian, kemampuan berpikir kritis, sekaligus membangun akhlak mulia sejak usia dini.

Menyiapkan Generasi Berkemajuan

Kehadiran TK ABA Semesta menjadi salah satu bentuk nyata komitmen Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam memperkuat pendidikan anak di era digital. Pendidikan dipandang bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan proses membentuk manusia yang utuh, memiliki kecakapan hidup, karakter kuat, dan nilai-nilai keislaman yang membimbing setiap langkahnya.

Melalui berbagai inovasi pendidikan yang terus dikembangkan, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah berupaya menyiapkan generasi yang mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Dengan fondasi akidah, akhlak, dan ilmu pengetahuan yang seimbang, era digital dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan peluang untuk berdakwah, berkarya, serta memberikan kemaslahatan yang lebih luas bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. (syafa)

Referensi

Mu’thi A, Mulkhan A, Marihandono D. (2015). K.H. Ahmad Dahlan (1868 – 1923)

Nasution, H. D., Nahar, S., & Sinaga, A. I. (2019). Studi Analisis Pemikiran Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) dalam Pendidikan Perempuan. Ihya al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Arab5(2), 130-139.

Suara ‘Aisyiyah. (2025, 22 Agustus). Warisan Pencerahan Nyai Walidah: Seabad Lebih TK ABA Membangun Generasi. Retrieved from https://suaraaisyiyah.id/warisan-pencerahan-nyai-walidah-seabad-lebih-tk-aba-membangun-generasi/

Muhammadiyah. (2022. 13 April). Sejarah Gerakan Perempuan Muhammadiyah dan Lahirnya ‘Aisyiyah. Retrieved from: https://muhammadiyah.or.id/2022/04/sejarah-gerakan-perempuan-muhammadiyah-dan-lahirnya-aisyiyah/

Tinggalkan Balasan