Selasa, 29 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Dana Abadi Jadi Strategi PTMA Menuju Kemandirian Pembiayaan

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Dana Abadi Jadi Strategi PTMA Menuju Kemandirian Pembiayaan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Membangun dana abadi (endowment fund) menjadi salah satu agenda strategis yang didorong Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah guna memperkuat kemandirian pembiayaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA).

Gagasan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) I Program KONEKSI yang mempertemukan regulator, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan tinggi pada Senin (6/7) di SM Tower.

Forum tersebut menggarisbawahi bahwa sebagian besar perguruan tinggi swasta di Indonesia masih bergantung pada pendapatan dari uang kuliah mahasiswa. Karena itu, diperlukan sumber pembiayaan jangka panjang yang berkelanjutan melalui pengembangan dana abadi yang dikelola secara profesional.

Penelitian dalam Program KONEKSI dilaksanakan oleh konsorsium lintas institusi yang menggabungkan keahlian di bidang pendidikan tinggi, filantropi, hukum, dan tata kelola. Tim peneliti diketuai Amika Wardana dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, dengan anggota Fitri Arofiati dan Lukman Hakim dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Muhammad Hilali Basya dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), serta Satria Unggul Wicaksana dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya). Penelitian ini juga berkolaborasi dengan Griffith Institute for Educational Research, Griffith University, Australia.

Ketua Tim Peneliti KONEKSI, Amika Wardana, menjelaskan bahwa tantangan utama dalam membangun dana abadi tidak hanya terletak pada kemampuan menghimpun dana, tetapi juga menciptakan tata kelola yang profesional agar dana tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Dana abadi harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan perguruan tinggi. Prinsipal dana harus tetap dijaga, sedangkan hasil pengembangannya dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan, riset, beasiswa, maupun inovasi,” ujarnya.

FGD tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Badan Wakaf Indonesia (BWI), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI), serta perwakilan perguruan tinggi berbasis keagamaan dari berbagai latar belakang.

Dalam forum itu dipaparkan sejumlah praktik baik pengelolaan dana abadi dan wakaf produktif. Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor dan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), misalnya, mengembangkan model penguatan dana umat melalui wakaf produktif dan badan wakaf yang menopang keberlanjutan institusi.

Badan Wakaf Unissula juga menyampaikan bahwa pengembangan konsep dana abadinya dilakukan melalui berbagai studi banding, termasuk belajar dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan sejumlah lembaga nadzir lainnya sebagai upaya memperkuat tata kelola.

Sementara itu, Badan Wakaf Indonesia menjelaskan bahwa konsep dana abadi memiliki kedekatan dengan wakaf produktif yang telah berkembang dalam tradisi Islam. Salah satu instrumen yang dinilai potensial adalah Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS), yang mampu memberikan manfaat bagi dunia pendidikan sekaligus menawarkan skema investasi yang relatif aman.

Praktik menarik juga disampaikan Majelis Pendidikan Tinggi Kristen Indonesia melalui program “Sekolah Membantu Sekolah”. Program tersebut mengedepankan solidaritas antarlembaga pendidikan, di mana sekolah dan perguruan tinggi yang telah berkembang mendukung institusi yang masih bertumbuh. Pendanaan diperoleh melalui penggalangan dana tahunan dari kalangan pengusaha, dukungan korporasi, serta koperasi pendidikan.

Dari komunitas Buddha, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa memberikan perspektif mengenai pengelolaan dana yayasan yang didasarkan pada prinsip etika dan nilai spiritual. Setiap keputusan investasi tidak hanya mempertimbangkan aspek keuntungan ekonomi, tetapi juga kemanfaatan dan kesesuaiannya dengan nilai-nilai moral.

Di lingkungan PTMA sendiri, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) telah mulai mengembangkan dana abadi melalui kombinasi sisa anggaran, filantropi, dukungan alumni, serta investasi. Dana tersebut dimanfaatkan untuk mendukung beasiswa, pengembangan dosen, dan pembangunan infrastruktur kampus.

Forum juga menekankan pentingnya tata kelola yang baik dalam pengelolaan dana abadi. Perwakilan KPK mengingatkan bahwa transparansi, akuntabilitas, independensi, serta pengendalian konflik kepentingan merupakan prasyarat utama untuk membangun kepercayaan publik terhadap pengelolaan dana tersebut.

Bagi Muhammadiyah, pengembangan dana abadi tidak semata-mata berkaitan dengan aspek pembiayaan pendidikan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan gerakan filantropi Islam yang selama ini menjadi karakter Persyarikatan. Tradisi wakaf, zakat, infak, sedekah, dan kepedulian sosial diharapkan dapat terus dikembangkan melalui tata kelola yang modern, profesional, dan berkelanjutan.

Melalui Program KONEKSI, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah bersama mitra dari Indonesia dan Australia akan menyusun model pengelolaan dana abadi yang dapat menjadi rujukan bagi PTMA maupun perguruan tinggi berbasis keagamaan lainnya. Luaran penelitian ini meliputi model implementasi, toolkit, modul pelatihan, serta policy brief yang diharapkan mampu memperkuat kemandirian pembiayaan pendidikan tinggi di Indonesia.

Tinggalkan Balasan