Senin, 5 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Sikola Dilao’, Ikhtiar ‘Aisyiyah Menyalakan Asa Pendidikan di Wilayah Pesisir Muna Barat

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Sikola Dilao’, Ikhtiar ‘Aisyiyah Menyalakan Asa Pendidikan di Wilayah Pesisir Muna Barat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SULAWESI TENGGARA – Laut menjadi sahabat sekaligus tantangan bagi warga Desa Santiri, Pulau Balu, sebuah pulau kecil di Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Dari pulau yang dikelilingi hamparan biru itu, menempuh pendidikan hingga jenjang menengah bukan perkara sederhana.

Selama bertahun-tahun, anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah ke SMA atau SMK harus menyeberangi laut menuju Pelabuhan Tondasi. Setelah itu, perjalanan masih berlanjut melalui jalur darat beberapa kilometer menuju sekolah terdekat, SMK Negeri 2 Muna Barat yang berjarak kurang dari 2 km, dan SMA Negeri 1 Tiworo Tengah yang berjarak lebih dari 8 km. Jarak dan biaya yang tidak sedikit membuat pendidikan menjadi kemewahan yang sulit dijangkau sebagian warga.

Tak heran jika angka putus sekolah di kawasan pesisir ini cukup tinggi. Banyak remaja akhirnya memilih bekerja membantu keluarga daripada meneruskan pendidikan. Sebagian lainnya terjebak dalam perkawinan usia anak, sebuah persoalan yang kerap muncul ketika kesempatan belajar semakin terbatas.

Namun, Di Tengah Keterbatasan Itu, Sebuah Harapan Mulai Tumbuh.

Harapan itu bernama PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Sikola Dilao’. Dalam bahasa setempat, Sikola Dilao’ berarti “Sekolah di Laut”. Lembaga pendidikan nonformal di bawah naungan ‘Aisyiyah yang berdiri pada 2025 tersebut hadir sebagai jawaban atas kerinduan masyarakat Pulau Balu untuk memperoleh akses pendidikan yang lebih dekat dan lebih ramah terhadap kondisi kehidupan mereka.

Bagi warga Desa Santiri dan sekitarnya, kehadiran Sikola Dilao’ bukan sekadar berdirinya sebuah sekolah. Ia menjadi simbol bahwa pendidikan tidak harus berhenti karena keadaan yang membatasi.

Dalam wawancara eksklusif, Guru PKBM Sikola Dilao’, Julaika atau yang kerap disapa Ika, menuturkan bahwa sekolah ini memang dirancang untuk menjangkau mereka yang selama ini sulit mengakses pendidikan formal.

“Jadi ini berbeda dengan sekolah formal pada umumnya. PKBM Sikola Dilao’ hadir dengan pendekatan yang fleksibel untuk memfasilitasi sebagian besar peserta didik yang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab keluarga,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (22/6).

Karena sebagian besar peserta didik bekerja atau membantu keluarga pada siang hari, proses pembelajaran dilaksanakan pada sore hingga malam hari. Fleksibilitas itulah, ungkap Ika, yang membuat banyak warga yang sebelumnya putus sekolah kembali berani melanjutkan pendidikan.

Meski berstatus pendidikan nonformal, proses pembelajaran tetap mengacu kepada Kurikulum Merdeka yang disesuaikan untuk jalur kesetaraan, sebagaimana diatur dalam Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024. Saat ini Sikola Dilao’ menyelenggarakan Program Paket A untuk peserta usia 10–16 tahun, Paket B bagi warga belajar berusia 18–58 tahun, dan Paket C yang diikuti peserta berusia 19–46 tahun.

Di ruang-ruang belajar sederhana itu, beragam generasi duduk berdampingan mengejar tujuan yang sama: “memperoleh kesempatan untuk belajar.”

“Saat ini, sebanyak 46 peserta didik tercatat aktif mengikuti pembelajaran. Mereka terdiri atas 10 peserta Paket A, 9 peserta Paket B, dan 27 peserta Paket C,” sebut Ika.

Jumlah tersebut mungkin tidak seberapa jika dibandingkan sekolah-sekolah besar di perkotaan. Namun di Pulau Balu, angka itu menyimpan cerita yang jauh lebih besar. Di balik setiap peserta didik terdapat kisah tentang mimpi yang sempat terhenti, lalu kembali menemukan jalannya.

Meski Demikian, Perjuangan Sikola Dilao’ Masih Panjang.

Hingga saat ini, lembaga tersebut belum memiliki gedung sendiri. Aktivitas belajar mengajar masih menumpang di bangunan sekolah negeri melalui skema pinjam pakai. Selain itu, pengurusan izin operasional dan Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) juga masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

“Kami berharap ke depan PKBM Sikola Dilao’ bisa memiliki sarana dan prasarana yang memadai serta diberikan kemudahan dalam pengurusan izin operasional,” kata Ika.

Sebagai seorang guru, Ia menyimpan harapan besar agar jaringan pendidikan Muhammadiyah semakin berkembang di Muna Barat. Saat ini daerah tersebut baru memiliki PAUD/TK Aisyiyah serta Institut Teknologi, Bisnis, dan Kesehatan Muhammadiyah (ITBKM). Belum terdapat SD, SMP, maupun SMA Muhammadiyah yang dapat menjadi pilihan masyarakat.

Harapan itu mungkin masih berupa cita-cita. Namun sebagaimana PKBM Sikola Dilao’ yang lahir dari kebutuhan dan gotong royong masyarakat, setiap perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil. Dari ruang belajar sederhana yang berdiri di tengah keterbatasan, dunia pendidikan di wilayah itu seakan kembali menemukan prinsip inklusifitasnya. Dan dari sana, harapan untuk masa depan yang lebih cerah terus dinyalakan bagi siapa pun yang selama ini tertinggal oleh jarak dan keadaan.

Penulis: Bhisma Rahaditya Handoko

Tinggalkan Balasan