Senin, 21 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Salat Adalah Ibadah yang Tidak Bisa Ditinggalkan dalam Kondisi Apa Pun

Oleh ilham 5 Menit Min
Salat Adalah Ibadah yang Tidak Bisa Ditinggalkan dalam Kondisi Apa Pun

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Jaya Putra, menegaskan bahwa salat merupakan satu-satunya kewajiban dalam Islam yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apa pun selama seseorang masih memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melaksanakannya.

Hal tersebut disampaikan dalam pengajian bertema Rahasia Salat Lima Waktu yang berlangsung di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Senin (1/6).

Menurutnya, berbeda dengan ibadah lain yang memiliki keringanan dalam kondisi tertentu, salat tetap wajib ditunaikan meskipun seseorang sedang sakit, dalam perjalanan, atau menghadapi berbagai keterbatasan fisik.

“Kalau tidak mampu berdiri maka duduk, tidak mampu duduk maka berbaring, tidak mampu berbaring dapat menggunakan isyarat. Bahkan ketika lupa atau tertidur, salat tetap harus ditunaikan ketika sudah ingat atau terbangun,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kewajiban salat hanya gugur dalam kondisi tertentu, seperti seseorang yang belum balig, perempuan yang sedang haid atau nifas, atau ketika seseorang telah meninggal dunia.

Salat Berarti Doa dan Selawat

Dalam pemaparannya, Budi Jaya Putra mengawali kajian dengan menjelaskan makna salat secara bahasa dan istilah.

Secara etimologis, kata salat berasal dari kata ash-shalah yang berarti doa. Karena itu, hampir seluruh bacaan dalam salat pada hakikatnya berisi doa, mulai dari doa iftitah, Surah Al-Fatihah, bacaan rukuk, sujud, hingga tahiyat dan salam.

Selain bermakna doa, kata salat juga berkaitan dengan makna selawat sebagaimana disebutkan dalam firman Allah pada Surah Al-Ahzab ayat 56 yang menjelaskan bahwa Allah dan para malaikat berselawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, selawat Allah kepada Nabi bukan berarti Allah melakukan salat sebagaimana manusia, melainkan menunjukkan curahan rahmat dan kemuliaan yang diberikan kepada Rasulullah SAW.

“Ketika kita berselawat kepada Nabi, itu bukan karena Nabi membutuhkan doa akibat kesengsaraan, tetapi sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas kemuliaan beliau,” jelasnya.

Adapun secara istilah, salat merupakan serangkaian perkataan dan perbuatan tertentu yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Salat Harus Dipelajari, Tidak Cukup Hanya Meniru

Budi Jaya Putra menyoroti fenomena sebagian umat Islam yang menjalankan salat hanya berdasarkan kebiasaan melihat orang lain tanpa pernah mempelajari tata caranya secara mendalam.

Padahal, menurutnya, salat merupakan ibadah yang memiliki aturan dan tuntunan yang jelas sehingga tidak boleh dilakukan secara sembarangan atau berdasarkan kreativitas pribadi.

“Salat itu bukan sekadar meniru gerakan yang pernah dilihat. Kita wajib mempelajari bacaan, gerakan, rukunnya, dan tata caranya sesuai tuntunan Nabi,” katanya.

Ia mencontohkan berbagai kesalahan yang sering dijumpai di tengah masyarakat, mulai dari bacaan yang tidak tepat hingga gerakan salat yang tidak sesuai tuntunan syariat.

Karena itu, hadis Nabi “Shallu kama ra’aitumuni ushalli” atau “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat” harus dipahami melalui proses belajar dan pengkajian terhadap sunnah Rasulullah SAW.

“Kalau hanya melihat orang salat, sementara orang yang kita lihat juga hanya melihat orang sebelumnya, maka kesalahan itu bisa terus diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Salat Lima Waktu Perintah Langsung dari Allah

Dalam kesempatan tersebut, Budi Jaya Putra juga menjelaskan sejarah diwajibkannya salat lima waktu yang menurut mayoritas ulama terjadi pada peristiwa Isra Mikraj.

Ia mengingatkan bahwa berdasarkan hadis sahih riwayat Imam Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi, pada awalnya Rasulullah SAW menerima perintah salat sebanyak 50 kali sehari semalam.

Namun setelah beberapa kali memohon keringanan atas saran Nabi Musa AS, jumlah tersebut akhirnya menjadi lima waktu dengan pahala yang tetap setara.

“Kalau lima waktu saja masih banyak yang meninggalkan, apalagi kalau tetap lima puluh kali sehari semalam,” katanya.

Ia menegaskan bahwa salat memiliki kedudukan istimewa karena merupakan ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW, berbeda dengan sebagian syariat lain yang disampaikan melalui perantaraan Malaikat Jibril.

Selain itu, perintah salat juga berulang kali disebut dalam Al-Qur’an, salah satunya melalui firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 43: “Wa aqimush-shalata wa atuz-zakata warka’u ma’ar-raki’in” (Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk).

Ayat tersebut, menurutnya, sekaligus menjadi bantahan terhadap pandangan yang menganggap salat cukup dimaknai sebagai “mengingat Allah” tanpa perlu menjalankan gerakan dan tata cara ibadah sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.

“Al-Qur’an secara tegas menyebut adanya rukuk dan sujud. Karena itu salat bukan hanya persoalan mengingat Allah di dalam hati, tetapi ibadah yang memiliki tata cara yang jelas,” tegasnya.

Amalan Pertama yang Dihisab

Lebih lanjut, Budi Jaya Putra menjelaskan sejumlah keutamaan salat dalam kehidupan seorang Muslim.

Pertama, salat merupakan amalan yang pertama kali dihisab pada Hari Kiamat. Ia mengutip hadis yang menjelaskan bahwa apabila salat seseorang baik, maka baik pula seluruh amalnya. Sebaliknya, jika salatnya rusak, maka amal-amal lainnya ikut terpengaruh.

“Yang pertama kali diperiksa bukan harta, bukan puasa, bukan zakat, dan bukan pula haji, tetapi salat,” ujarnya.

Karena itu, ia menyarankan agar kualitas salat menjadi salah satu ukuran utama dalam menilai kesalehan seseorang.

Bahkan dengan nada berseloroh, ia mengatakan bahwa ketika mencari calon menantu, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kualitas salatnya, bukan sekadar faktor-faktor lain yang bersifat lahiriah.

Pembeda Muslim dan Non-Muslim

Budi Jaya Putra juga mengutip hadis riwayat Muslim yang menyatakan bahwa pembeda antara seorang Muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah salat.

Menurutnya, identitas keislaman seseorang tercermin dari komitmennya dalam menjaga salat lima waktu.

“Perbedaan paling mendasar antara Muslim dan non-Muslim adalah salat. Seorang Muslim dipanggil untuk menghadap Tuhannya lima kali setiap hari,” katanya.

Selain menjadi identitas seorang Muslim, salat juga berfungsi sebagai benteng moral yang menjaga seseorang dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Ankabut ayat 45.

“Salat yang dijaga dengan baik akan membentuk kesadaran untuk menjauhi kemaksiatan dan berbagai perbuatan tercela,” ujarnya.

Penghapus Dosa-Dosa Kecil

Keutamaan lain yang disampaikan dalam pengajian tersebut adalah fungsi salat sebagai penghapus dosa-dosa kecil.

Mengutip hadis riwayat Muslim, ia menjelaskan bahwa salat lima waktu, salat Jumat ke salat Jumat berikutnya, serta Ramadan ke Ramadan berikutnya menjadi sarana pengampunan dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.

Dengan demikian, setiap salat yang ditunaikan menjadi momentum penyucian diri dan perbaikan spiritual yang terus berulang sepanjang kehidupan seorang Muslim.

Di akhir pengajian, Budi Jaya Putra mengajak seluruh jamaah untuk semakin menjaga salat serta menanamkan kesadaran tersebut di lingkungan keluarga.

Ia mengingatkan pentingnya kerja sama antara ayah dan ibu dalam membimbing anggota keluarga agar senantiasa menjaga salat sebagai bagian dari upaya melaksanakan perintah Allah dalam menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka.

“Marilah kita senantiasa menjaga salat kita dan saling mengingatkan dalam keluarga agar tetap istiqamah menjalankan kewajiban yang menjadi tiang agama ini,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan