Selasa, 29 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Muharam Bukan Bulan Wingit, Melainkan Bulan Kemuliaan dan Momentum Hijrah

Oleh ilham • • 4 Menit Min
Muharam Bukan Bulan Wingit, Melainkan Bulan Kemuliaan dan Momentum Hijrah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Memasuki Tahun Baru 1448 Hijriah, Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Masykur Azahri, mengajak umat Islam menjadikan bulan Muharam sebagai momentum memperbanyak amal saleh.

Pesan tersebut disampaikan dalam pengajian Ahad pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (21/6).

Dalam ceramahnya, Masykur mengawali dengan ucapan selamat Tahun Baru Hijriah seraya mendoakan agar umat Islam senantiasa memperoleh kesehatan, kesuksesan, ketenteraman, dan istiqamah dalam beribadah.

Menurutnya, Muharam merupakan salah satu dari empat bulan mulia yang mendapat keistimewaan khusus dari Allah Swt. Pada bulan ini, nilai pahala amal kebaikan dilipatgandakan, sementara dosa akibat kemaksiatan juga lebih besar dibanding bulan-bulan lainnya.

“Kalau seseorang berbuat maksiat pada bulan-bulan mulia, dosanya lebih besar. Sebaliknya, jika melakukan kebaikan dan ketaatan, pahalanya juga lebih banyak,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa umat Islam saat ini masih berada pada sepuluh hari pertama Muharam yang memiliki keutamaan tersendiri. Karena itu, kesempatan tersebut hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah, menghadiri majelis ilmu, memperbanyak sedekah, dan amal-amal kebajikan lainnya.

Hari Asyura dan Jejak Sejarah Para Nabi

Masykur menjelaskan bahwa banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi yang dikaitkan dengan tanggal 10 Muharam atau Hari Asyura. Di antaranya diterimanya tobat Nabi Adam a.s., diselamatkannya Nabi Yunus a.s. dari perut ikan, selamatnya Nabi Nuh a.s. dari banjir besar, terbebasnya Nabi Ibrahim a.s. dari api Raja Namrud, hingga kemenangan Nabi Musa a.s. atas Firaun.

Karena itu, menurutnya, Muharam adalah bulan yang sarat dengan kenangan pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Ia juga mengkritik berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat Jawa yang menganggap Muharam atau Suro sebagai bulan yang angker sehingga tidak baik digunakan untuk menikah, mengadakan hajatan, atau kegiatan penting lainnya.

“Bulan Muharam itu bulan yang dimuliakan Allah, bukan bulan wingit,” tegasnya.

Masykur kemudian mengaitkan tradisi masyarakat yang melakukan ritual tertentu pada bulan Suro dengan kebutuhan membangun “benteng kehidupan” yang sesungguhnya.

Menurutnya, keselamatan hidup tidak diperoleh melalui ritual-ritual simbolik, melainkan dengan memperkuat benteng spiritual dan sosial.

Benteng pertama adalah menjaga lisan. Ia mengutip ungkapan, “Salāmatul insān fī hifzhil lisān”, keselamatan seseorang sangat bergantung pada kemampuannya menjaga ucapan.

Benteng berikutnya adalah sedekah. Ia mengingatkan hadis yang populer di kalangan umat Islam bahwa sedekah dapat menolak bala. Selain itu, silaturahmi dan doa juga menjadi benteng penting yang menjaga seseorang dari berbagai keburukan.

“Kalau ingin hidup tenteram dan selamat, bangunlah benteng kehidupan dengan menjaga lisan, memperbanyak sedekah, mempererat silaturahmi, serta memperbanyak doa dan zikir kepada Allah,” katanya.

Keteladanan Rasulullah dalam Kesabaran

Pada bagian lain ceramahnya, Masykur mengulas perjuangan Rasulullah saw. selama di Makkah yang penuh dengan tekanan, penghinaan, dan intimidasi. Ia mencontohkan kisah seorang Yahudi yang setiap hari meludahi Nabi Muhammad saw. ketika beliau lewat.

Ketika suatu hari orang tersebut sakit dan tidak terlihat lagi, Rasulullah justru menjenguknya dengan membawa makanan. Sikap mulia itu membuat orang tersebut tersentuh hingga akhirnya memeluk Islam.

Menurut Masykur, kisah itu menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah dibangun di atas kesabaran, kasih sayang, dan kemampuan memaafkan.

Ia juga mengingatkan hadis Nabi tentang tiga golongan yang memperoleh derajat tinggi karena rahmat Allah, yaitu orang yang memberi kepada mereka yang tidak pernah memberi, menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan silaturahmi, dan memaafkan orang yang berbuat zalim kepadanya.

“Rasulullah tidak hanya mengajarkan itu, tetapi beliau sendiri yang pertama kali mempraktikkannya,” ujarnya.

Masykur juga menyinggung peristiwa wafatnya Abu Thalib, paman Nabi yang sangat mencintai dan melindungi Rasulullah tetapi tidak beriman hingga akhir hayatnya. Peristiwa itu menjadi pelajaran bahwa hidayah merupakan hak prerogatif Allah.

Ia mengutip firman Allah: “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Qashash: 56)

Karena itu, ia mengajak jamaah untuk terus mendoakan keluarga dan orang-orang yang dicintai agar mendapatkan hidayah dari Allah Swt.

Hijrah sebagai Perubahan Cara Hidup

Menjelang akhir ceramah, Masykur menjelaskan makna hijrah yang lebih luas daripada sekadar perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah.

Menurutnya, hijrah berarti berpindah dari kondisi yang menakutkan menuju kehidupan yang aman, dari lingkungan yang jauh dari nilai-nilai iman menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah.

Dalam konteks keluarga, hijrah berarti mengubah rumah menjadi tempat yang menenangkan seluruh anggota keluarga. Suami dan istri harus belajar saling menghormati, mengendalikan emosi, dan membangun suasana penuh kasih sayang.

Ia mencontohkan keteladanan Umar bin Khattab yang tetap sabar terhadap istrinya karena menyadari besarnya jasa seorang istri dalam kehidupan keluarga.

“Rumah adalah tempat latihan kesabaran yang paling nyata. Orang-orang di rumah menerima kita apa adanya. Karena itu mereka berhak mendapatkan kesabaran dan kasih sayang kita,” katanya.

Masykur menegaskan bahwa perjalanan hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah mengandung tiga pesan besar yang tetap relevan hingga sekarang.

Pertama, hijrah merupakan perjuangan mempertahankan akidah dan keimanan.

Kedua, hijrah adalah perjalanan ibadah. Hal ini tercermin dari langkah pertama Rasulullah yang membangun Masjid Quba dan kemudian Masjid Nabawi sebagai pusat kehidupan umat.

Ketiga, hijrah adalah upaya membangun ukhuwah dan persaudaraan. Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar serta membangun masyarakat yang harmonis meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda.

“Ketika keluar dari rumah, anggaplah kita sedang berhijrah. Niatkan untuk menjaga akidah, menjadikan setiap perjalanan bernilai ibadah, dan membangun persaudaraan, bukan mencari permusuhan,” pesannya.

Ia menutup ceramah dengan mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru 1448 Hijriah sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah, serta mempererat hubungan antarsesama demi terwujudnya kehidupan yang damai dan penuh keberkahan.

Tinggalkan Balasan