MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Nur Kholis, mengajak umat Islam untuk memperkuat nilai amanah, kejujuran, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Pesan tersebut disampaikan dalam Khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (5/6).
Dalam khutbahnya, Nur Kholis menegaskan bahwa takwa tidak hanya diwujudkan melalui kesalehan ritual, tetapi juga melalui integritas dalam menjalankan amanah. Menurutnya, ketakwaan harus tercermin dalam perilaku yang bersih dari penyalahgunaan wewenang, jujur dalam menjalankan tugas, adil dalam mengambil keputusan, serta peduli terhadap kepentingan masyarakat.
Ia mengawali khutbah dengan mengutip firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 58 yang memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan setiap keputusan ditegakkan dengan keadilan. Ayat tersebut, menurutnya, sangat relevan untuk direnungkan di tengah berbagai persoalan kebangsaan yang menimbulkan kegelisahan di masyarakat.
“Masyarakat bertanya mengapa berbagai program yang seharusnya membantu rakyat sering dibayangi dugaan penyimpangan. Mengapa dana yang seharusnya sampai kepada anak-anak, pelajar, petani, buruh, dan masyarakat kecil justru kerap tersangkut kepentingan segelintir pihak,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Islam mengajarkan prinsip tabayun dan keadilan sehingga umat tidak boleh menuduh tanpa bukti. Namun, di sisi lain, umat Islam juga tidak boleh bersikap diam ketika amanah publik terancam oleh praktik-praktik yang merusak kehidupan bersama.
Menurut Nur Kholis, korupsi, penyalahgunaan jabatan, konflik kepentingan, dan pengabaian terhadap nasib rakyat bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga merupakan persoalan moral yang serius. Tindakan tersebut merusak kepercayaan publik, memperlemah negara, memiskinkan masyarakat, dan menghilangkan keberkahan kehidupan.
Ia kemudian mengutip Surah Al-Baqarah ayat 188 yang melarang memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Baginya, ayat tersebut seolah berbicara langsung kepada kondisi kontemporer. Harta negara bukanlah harta tanpa pemilik, melainkan titipan rakyat yang di dalamnya terdapat keringat para petani, pajak pedagang kecil, tenaga para buruh, harapan guru honorer, serta masa depan generasi bangsa.
Karena itu, setiap orang yang memperoleh amanah dalam urusan publik harus menyadari bahwa jabatan bukanlah sarana memperkaya diri, melainkan jalan untuk mengabdi. Kekuasaan bukan kesempatan mengambil lebih banyak, tetapi peluang untuk memberi manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
Mengutip hadis Nabi Muhammad saw., “Kullukum râ‘in wa kullukum mas’ûlun ‘an ra‘iyyatihi”, Nur Kholis menegaskan bahwa setiap orang adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diembannya. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berlaku bagi pejabat negara, tetapi juga bagi dosen, guru, mahasiswa, orang tua, pengelola masjid, pedagang, dan seluruh anggota masyarakat sesuai peran masing-masing.
Oleh karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak hanya mengecam korupsi dalam skala besar, tetapi juga berani mengoreksi berbagai bentuk ketidakjujuran kecil yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti manipulasi laporan, kelalaian dalam tugas, atau mengambil sesuatu yang bukan haknya.
“Bangsa yang bersih tidak lahir hanya dari pemimpin yang bersih, tetapi juga dari rakyat yang berakhlak, masyarakat yang kritis, kampus yang mencerahkan, dan keluarga yang menanamkan nilai kejujuran,” katanya.
Islam Berkemajuan dan Tanggung Jawab Sosial
Nur Kholis mengajak untuk membaca kondisi bangsa dengan perspektif Islam Berkemajuan. Menurutnya, Islam merupakan agama yang membawa rahmat, pencerahan, kemajuan, dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia.
Ia menegaskan bahwa Islam tidak menghendaki umatnya menjadi pasif. Kesalehan dalam Islam tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga harus diwujudkan dalam kehidupan sosial. Iman harus melahirkan ilmu, ilmu melahirkan amal, dan amal harus menghasilkan perbaikan kehidupan.
“Ketika bangsa menghadapi persoalan, umat Islam tidak cukup hanya mengeluh. Kita harus hadir dengan akhlak, ilmu, solusi, dan keberanian moral,” ujarnya.
Dalam khutbah tersebut, Nur Kholis menguraikan tiga sikap penting yang perlu dikembangkan oleh umat Islam dalam merespons berbagai persoalan bangsa.
Pertama, bersikap kritis tanpa kebencian. Ia menilai kegelisahan terhadap keadaan bangsa merupakan sesuatu yang wajar selama lahir dari kepedulian dan cinta kepada rakyat. Namun kritik tidak boleh berubah menjadi fitnah, caci maki, ataupun ujaran kebencian.
Menurutnya, kritik harus disampaikan dengan adab, ilmu, dan data yang memadai. Kritik bertujuan untuk meluruskan dan memperbaiki, bukan menjatuhkan atau mempermalukan pihak lain. Dalam konteks ini, ia mengingatkan hadis Nabi yang menyebutkan bahwa agama adalah nasihat.
Kedua, menuntut keadilan tanpa kehilangan ketenangan. Nur Kholis menegaskan bahwa keadilan merupakan napas kehidupan bangsa. Tanpa keadilan, hukum kehilangan wibawa, rakyat kehilangan kepercayaan, dan pembangunan kehilangan makna.
Meski demikian, perjuangan menegakkan keadilan harus tetap menghormati proses hukum, menjaga persatuan, dan mengedepankan akal sehat. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya maupun menjadikan media sosial sebagai ruang pelampiasan amarah tanpa tanggung jawab.
“Islam Berkemajuan mengajarkan umat untuk menjadi umat pencerah, bukan umat pemarah; menjadi umat pembangun, bukan umat perusak,” tegasnya.
Ketiga, membangun budaya amanah dimulai dari diri sendiri. Menurutnya, perbaikan bangsa tidak hanya dimulai dari para pemimpin, tetapi harus tumbuh dari rumah, sekolah, kampus, masjid, dan lingkungan kerja.
Anak-anak perlu melihat teladan kejujuran dari orang tua, mahasiswa belajar integritas dari dosen, masyarakat merasakan keteladanan dari para tokohnya, dan para pemimpin menunjukkan bahwa jabatan adalah amanah, bukan fasilitas kenikmatan.
Ia mengutip hadis Nabi, “Lâ îmâna liman lâ amânata lah,” yang berarti tidak sempurna iman seseorang yang tidak memiliki sifat amanah. Karena itu, setiap orang perlu terus mengoreksi dirinya, apakah telah amanah dalam mengelola waktu, pekerjaan, keluarga, ilmu, jabatan, harta, maupun ucapan.
Menjadikan Islam sebagai Kekuatan Peradaban
Menutup khutbahnya, Nur Kholis menegaskan bahwa kondisi bangsa harus direspons dengan kombinasi antara doa dan kerja nyata, kritik dan solusi, keberanian dan kesantunan, serta penegakan hukum yang adil dan pendidikan moral yang kuat.
Ia berharap nilai-nilai agama tidak hanya terdengar di mimbar, tetapi juga hidup dalam tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, dunia pendidikan, sektor ekonomi, dan berbagai kebijakan sosial.
Menurutnya, inilah tugas umat Islam dalam menghadirkan Islam sebagai rahmat dan kekuatan peradaban: Islam yang membela rakyat kecil, menjaga amanah publik, mendorong lahirnya pemimpin yang jujur, serta menghidupkan ilmu, akhlak, dan keadilan.
Dalam penutup khutbahnya, ia mengajak jamaah menjadikan masjid sebagai sumber kejernihan, kampus sebagai pusat pencerahan, keluarga sebagai sekolah kejujuran, dan setiap individu sebagai penjaga amanah di mana pun berada. Dengan demikian, bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh kekayaan sumber daya, tetapi terutama oleh kuatnya amanah dan integritas seluruh elemen masyarakat.






