إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نبينا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَتَقْوَى اللَّهِ فَوْزٌ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita merenungkan kembali tentang hakikat diri kita sebagai manusia. Kita adalah ciptaan Allah yang begitu kompleks, yang tidak hanya terdiri dari jasad fisik, melainkan juga memiliki dimensi jiwa.
Di zaman modern ini, kita sering kali mendefinisikan kesehatan atau kebahagiaan hanya dari apa yang tampak di luar, atau berdasarkan standar-standar keduniawian semata. Namun, Al-Qur’an dan tradisi para ulama klasik terdahulu telah memberikan kita sebuah model cetak biru yang utuh mengenai struktur jiwa manusia.
Manusia yang sehat dan selamat adalah manusia yang mampu menyelaraskan tiga elemen utama dalam dirinya: yaitu Qalb (hati), ‘Aql (akal), dan Nafs (jiwa/dorongan nafsu).
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Elemen pertama dan yang paling utama adalah Qalb. Dalam psikologi Islam, Qalb bukanlah sekadar segumpal daging pembuluh darah, melainkan pusat spiritual tempat bersemayamnya kesadaran akan Allah (God-consciousness) dan tempat di mana fitrah kesucian manusia berada. Qalb adalah jembatan yang menghubungkan diri kita dengan Ruh yang ditiupkan Allah. Melalui Qalb, kita bisa merasakan mana yang benar dan mana yang salah secara intuitif.
Al-Qur’an memberikan perhatian besar kepada hati. Hati bukan sekadar organ tubuh, tetapi pusat keimanan dan kesadaran manusia. Karena itu keselamatan seseorang pada hari kiamat sangat ditentukan oleh keadaan hatinya.
Allah Swt berfirman:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 88–89)
Hati yang bersih adalah hati yang dipenuhi tauhid, ikhlas, cinta kepada Allah, takut kepada-Nya, dan tunduk kepada petunjuk-Nya. Sebaliknya, hati yang kotor dipenuhi kesombongan, kedengkian, kemunafikan, dan kecintaan berlebihan kepada dunia.
Karena pentingnya hati, Rasulullah Saw bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh sebab itu, seorang muslim harus senantiasa menjaga kebersihan hati melalui zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, bertaubat, dan memperbanyak amal saleh.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Elemen kedua adalah ‘Aql atau akal pikiran. Akal adalah kecerdasan yang Allah berikan kepada manusia untuk menganalisis data eksternal, berpikir logis, dan merencanakan sesuatu. Menurut Imam Al-Ghazali, akal yang sehat seharusnya terhubung langsung dan tunduk di bawah arahan Qalb.
Ketika akal dipandu oleh hati yang mengingat Allah, maka akal akan menghasilkan hikmah (kebijaksanaan) dan melihat realitas dunia ini dengan jujur serta objektif. Namun, jika akal terputus dari hati, ia akan menjadi alat pembenaran atas segala perilaku buruk kita.
Dengan akal itulah manusia dibedakan dari makhluk lainnya. Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 190)
Karena itu Islam tidak menghendaki umatnya menjadi umat yang malas berpikir. Islam mendorong umatnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, melakukan penelitian, membaca, dan mengkaji alam semesta.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Elemen ketiga adalah Nafs, yang dapat dipahami sebagai energi atau dorongan kehidupan di dalam diri kita. Islam memandang nafsu secara berbeda dengan tradisi agama lain yang cenderung ekstrem menyuruh untuk mematikan nafsu. Dalam Islam, dorongan biologis seperti makan, minum, dan syahwat adalah bagian penting untuk bertahan hidup di dunia, asalkan dikendalikan dengan baik.
Di zaman sekarang, ketika godaan begitu mudah diakses, kemaksiatan dipromosikan secara terbuka, dan hawa nafsu sering dijadikan pedoman hidup, ayat ini menjadi peringatan yang sangat penting. Seorang muslim harus mampu mengendalikan hawa nafsunya agar tetap berada dalam koridor syariat Allah.
Allah berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at [79]: 40–41)
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Dari ayat-ayat yang telah kita renungkan, dapat dipahami bahwa seorang muslim yang ideal adalah muslim yang menjaga tiga hal sekaligus: hatinya hidup dengan iman, akalnya hidup dengan ilmu, dan jiwanya terjaga dari hawa nafsu yang menyesatkan.
Jika hati bersih, akal tercerahkan, dan jiwa terkendali, maka akan lahir pribadi yang jujur, amanah, adil, disiplin, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Inilah karakter mukmin yang menjadi cita-cita Islam.
Sebaliknya, ketika hati keras, akal tidak digunakan untuk memahami petunjuk Allah, dan hawa nafsu menjadi penguasa kehidupan, maka lahirlah berbagai kerusakan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bangsa.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Lantas, bagaimana cara kita menjaga agar ketiga elemen ini tetap seimbang di tengah gempuran fitnah zaman modern?
Pertama, perbanyak dzikrullah (mengingat Allah). Hati hanya akan hidup dan terbuka jika disiram dengan dzikir dan ibadah. Ibadah yang konsisten akan memurnikan hati kita.
Kedua, menjaga konsumsi pikiran dan makanan. Apa yang kita pelajari (ilmu) dan apa yang kita makan sangat memengaruhi liarnya nafsu dan kejernihan akal kita. Konsumsilah hal-hal yang halal dan baik secara fisik maupun maknawi.
Ketiga, melatih diri (riyadhah). Melatih nafsu agar terbiasa patuh pada aturan syariat. Jangan manjakan Nafs Ammarah kita, melainkan didiklah ia agar bisa naik kelas menjadi Nafs Mutmainnah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengaruniakan kepada kita hati yang bersih, akal yang cerdas dan bijaksana, serta jiwa yang tenang yang kelak dipanggil oleh Allah dalam keadaan ridha dan diridhai-nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَـٰلَمِينَ وَصَلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
عِبَادَ اللَّهِ اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Marilah kita tutup ibadah Jumat kita hari ini dengan berdoa kepada Allah Swt.






