MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Wakil Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf Muhammadiyah, Mahli Zainuddin Tago, menegaskan bahwa kemurnian konsep ketuhanan atau tauhid merupakan salah satu keunggulan paling mendasar dalam ajaran Islam.
Pesan tersebut disampaikan dalam Khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Jumat (12/06).
Dalam khutbahnya, Mahli mengawali dengan mengutip firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 33 yang sering dibacakan dalam berbagai ceramah dan khutbah.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ
“Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya atas seluruh agama.”
Menurutnya, manusia hidup di tengah keragaman agama dan sistem kepercayaan yang sangat luas. Secara politik, Indonesia mengakui enam agama resmi, tetapi secara akademik terdapat begitu banyak bentuk kepercayaan yang berkembang di berbagai belahan dunia.
Di tengah keragaman tersebut, umat Islam patut bersyukur karena memperoleh ajaran yang memiliki landasan wahyu yang autentik, komprehensif, dan selaras dengan perkembangan peradaban manusia.
Empat Keunggulan Islam
Mahli menjelaskan sedikitnya empat alasan mengapa Islam memiliki kedudukan istimewa dibandingkan sistem kepercayaan lainnya.
Pertama, sumber ajaran Islam, yakni Al-Qur’an, merupakan wahyu Allah yang otentik dan bukan hasil ciptaan manusia. Kedua, Islam menghadirkan ajaran yang menyeluruh karena mengatur hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus hubungan antarsesama manusia.
Ketiga, Islam memiliki kesesuaian dengan perkembangan zaman. Nilai-nilai yang menjadi ciri masyarakat maju seperti kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, rasionalitas, dan sikap progresif justru mendapatkan tempat yang kuat dalam ajaran Islam.
Keempat, Islam menawarkan konsep ketuhanan yang paling tinggi dan paling murni dibandingkan berbagai sistem kepercayaan yang berkembang dalam sejarah umat manusia.
“Konsep ketuhanan Islam adalah konsep yang paling tinggi. Karena itu, memahami tauhid secara benar menjadi fondasi penting bagi kehidupan seorang muslim,” ujarnya.
Untuk menjelaskan kemurnian tauhid, Mahli menguraikan hasil kajian para antropolog dan sosiolog agama mengenai perkembangan konsep ketuhanan dalam berbagai masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa bentuk keyakinan paling sederhana dikenal sebagai dinamisme dan animisme, yaitu kepercayaan bahwa benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib atau roh yang dapat memengaruhi kehidupan manusia. Dalam keyakinan seperti ini, benda-benda tertentu, hewan, atau simbol-simbol tertentu dianggap memiliki kekuatan supranatural yang perlu dihormati atau dipuja.
Pada tahap berikutnya berkembang politeisme, yakni keyakinan kepada banyak dewa yang masing-masing memiliki fungsi dan kekuasaan tertentu, seperti dewa matahari, dewa bulan, atau dewi kesuburan.
Setelah itu muncul henoteisme, yaitu keyakinan yang mengakui banyak dewa tetapi memberikan penghormatan lebih besar kepada satu dewa tertentu dibandingkan dewa-dewa lainnya.
Menurut Mahli, perkembangan pemikiran manusia pada akhirnya mengarah kepada kesimpulan bahwa konsep ketuhanan yang paling rasional adalah monoteisme, yakni keyakinan bahwa Tuhan hanya satu.
“Tidak mungkin ada dua penguasa tertinggi dalam satu wilayah yang sama. Karena itu, Tuhan Yang Mahakuasa tidak mungkin lebih dari satu,” jelasnya.
Islam Membawa Monoteisme Murni
Mahli menegaskan bahwa Islam menghadirkan bentuk monoteisme yang paling murni. Hal itu tercermin dalam kalimat syahadat yang diawali dengan penafian terhadap seluruh sesembahan selain Allah.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.”
Menurutnya, syahadat bukan sekadar pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan, tetapi juga penolakan terhadap segala bentuk pengkultusan, pemujaan, dan penghambaan kepada selain Allah.
Ia mengingatkan bahwa kemurnian tauhid harus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Seorang muslim tidak cukup hanya mengakui keesaan Allah dalam salat dan ibadah ritual, tetapi juga harus menjauhkan diri dari berbagai bentuk keyakinan yang mengarah pada kesyirikan.
Mahli menyoroti masih adanya sebagian masyarakat yang memadukan keyakinan kepada Allah dengan kepercayaan terhadap kekuatan gaib tertentu, benda-benda keramat, maupun sosok-sosok yang dianggap memiliki kekuasaan supranatural.
Padahal, menurutnya, praktik-praktik semacam itu dapat mengurangi kemurnian tauhid yang menjadi inti ajaran Islam.
Syirik Dosa yang Harus Dijauhi
Dalam khutbahnya, Mahli juga mengingatkan besarnya bahaya syirik sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an.
إِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Ayat tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa syirik merupakan dosa yang sangat besar karena merusak fondasi keimanan seorang muslim.
Karena itu, ia mengajak jamaah untuk terus menjaga ketakwaan, memperkuat keyakinan kepada Allah, dan menjauhi segala bentuk perilaku yang dapat mengarah pada penyekutuan terhadap-Nya.
Menjelang akhir khutbah, Mahli mengingatkan jamaah bahwa kematian dapat datang kapan saja dan kepada siapa saja. Oleh sebab itu, setiap muslim harus berusaha mempertahankan keimanan dan ketakwaan hingga akhir hayat.
Ia mengutip firman Allah:
وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
“Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepada Allah (muslim).”
Mahli menegaskan bahwa salah satu wujud ketakwaan yang paling penting adalah menjaga kemurnian tauhid dan menghindari segala bentuk kesyirikan.
“Semoga Allah menjaga keimanan dan keislaman kita, memberikan kebahagiaan di dunia, serta keselamatan di akhirat,” pungkasnya.






