MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Sholahuddin Zuhri, mengajak umat Islam untuk mengisi kehidupan dengan amal saleh dan tidak terjebak dalam penyesalan yang sia-sia.
Pesan tersebut disampaikan dalam pengajian Ahad pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Ahad (7/6).
Dalam kajiannya yang mengangkat tema penyesalan, Sholahuddin menjelaskan bahwa perasaan menyesal merupakan bagian dari sifat manusia. Namun, seorang mukmin tidak boleh larut dalam penyesalan karena kehidupan dunia berjalan sesuai ketetapan Allah Swt.
Ia mengutip firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 140, “Wa tilkal ayyamu nudawiluha bainan nas” (hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia). Menurutnya, ayat tersebut mengajarkan bahwa kehidupan akan selalu mengalami pergantian antara senang dan susah, berhasil dan gagal, lapang dan sempit.
“Tidak perlu terlalu kecewa ketika menghadapi kesulitan dan tidak perlu berlebihan ketika mendapatkan kesenangan. Semua itu adalah bagian dari pergiliran kehidupan yang Allah tetapkan,” ujarnya.
Sholahuddin menegaskan bahwa selama seseorang masih memiliki keimanan dan kedekatan dengan Allah, tidak ada alasan untuk tenggelam dalam penyesalan. Ia mengingatkan pentingnya mensyukuri karunia Allah yang sering kali luput disadari, seperti kesehatan, kesempatan hidup, dan kemampuan beribadah.
Mengutip Surah Yunus ayat 58, ia menjelaskan bahwa kegembiraan seorang mukmin semestinya bersumber dari karunia dan rahmat Allah, bukan semata-mata dari harta atau berbagai pencapaian duniawi.
“Sering kali kita begitu gembira ketika memperoleh materi, tetapi lupa bergembira atas nikmat Allah yang jauh lebih besar, seperti kesehatan, iman, dan kesempatan beramal,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Sholahuddin juga mengingatkan bahwa penyesalan terbesar terjadi ketika seseorang tidak memanfaatkan kesempatan hidup yang telah diberikan Allah. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Fathir ayat 37 yang menegaskan bahwa manusia telah diberi umur yang cukup untuk berpikir, merenung, dan memperbaiki diri.
Menurutnya, umur merupakan amanah yang harus diisi dengan karya dan amal kebajikan. Karena itu, setiap orang perlu terus melakukan evaluasi diri mengenai apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dipersembahkan kepada Allah selama hidupnya.
“Orang yang berakal adalah orang yang terus bertanya kepada dirinya sendiri, usianya sudah berapa, sudah berbuat apa, dan apa yang akan dilakukan untuk mengisi kehidupannya,” ungkapnya.
Sholahuddin kemudian mengingatkan bahwa kehidupan dunia pada hakikatnya bersifat sementara. Ia menyebut dunia sebagai “ilusi kenyataan”, sesuatu yang tampak nyata namun pada akhirnya akan ditinggalkan manusia. Karena itu, harta, jabatan, dan berbagai kenikmatan dunia tidak boleh menjadi tujuan utama kehidupan.
Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 46 bahwa harta dan anak hanyalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal saleh yang kekal merupakan bekal terbaik di sisi Allah.
“Yang benar-benar menjadi milik kita bukanlah harta atau kedudukan, melainkan amal dan dosa yang kita bawa menghadap Allah,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa penyesalan di akhirat banyak dialami oleh orang-orang yang mengabaikan petunjuk Rasulullah saw. dan terpengaruh oleh lingkungan yang buruk. Oleh karena itu, memilih teman, lingkungan, dan pergaulan yang baik menjadi bagian penting dalam menjaga keimanan.
Menurutnya, seseorang harus meningkatkan kualitas diri agar dapat berada dalam lingkungan yang sehat dan saling menguatkan dalam kebaikan.
“Berhati-hatilah dalam memilih pergaulan. Jangan sampai kita menyesal karena mengikuti lingkungan yang menjauhkan dari petunjuk Allah,” pesannya.
Pada bagian akhir kajian, Sholahuddin mengajak jamaah untuk tidak menunda amal saleh. Ia mengutip hikmah dari kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari yang menyebut bahwa menunda amal dengan alasan menunggu waktu luang merupakan tanda kelemahan jiwa.
Ia juga mengibaratkan ilmu sebagai api yang harus terus dijaga agar tetap menyala melalui amal dan dakwah. Menurutnya, ilmu yang tidak diamalkan akan kehilangan pengaruhnya, sedangkan ilmu yang diamalkan akan terus berkembang dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Menutup pengajian, Sholahuddin mengutip pesan pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, bahwa kehidupan hanya berlangsung sekali sehingga harus dimanfaatkan untuk meraih keselamatan di akhirat.
“Hidup hanya sekali. Karena itu, hidup harus berarti. Jangan sampai ketika kesempatan sudah berakhir, yang tersisa hanyalah penyesalan,” pungkasnya.






