MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ibadah haji merupakan puncak dari seluruh rangkaian penghambaan seorang muslim kepada Allah Swt. Karena itu, haji tidak cukup dipahami sebagai perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan ruhani yang menuntut kesiapan iman, ketundukan, dan kematangan.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Cecep Taufiqurrohman, dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) yang disiarkan TVMu pada Ahad (14/6).
Menurutnya, Allah menempatkan ibadah haji pada posisi tertinggi dalam rukun Islam bukan tanpa alasan. Seseorang tidak diperintahkan berhaji sebelum menunaikan dan menghayati syahadat, salat, zakat, dan puasa dengan benar. Haji adalah puncak dari seluruh proses pembinaan keimanan dan penyucian jiwa.
“Orang yang belum beres dengan makna syahadatnya, belum beres salatnya, zakatnya, dan puasanya, lalu melompat kepada haji hanya karena memiliki kemampuan finansial, akan sulit menangkap nilai-nilai ruhani yang terkandung dalam ibadah haji,” ujarnya.
Ia mengibaratkan haji seperti salam dalam salat. Sebagaimana salat harus dilakukan secara tertib mulai dari takbiratul ihram hingga salam, demikian pula perjalanan spiritual seorang muslim harus melalui tahapan yang benar. Setiap ibadah dalam Islam mengandung pelajaran ruhani yang saling melengkapi dan membentuk karakter seorang mukmin.
Memurnikan Tauhid Sebelum Berhaji
Cecep menekankan bahwa fondasi utama haji adalah tauhid yang murni. Syahadat tidak cukup hanya diucapkan oleh lisan, tetapi harus diwujudkan dalam pikiran, keyakinan, dan perilaku.
Ia mengingatkan bahwa seseorang yang masih menggantungkan hidup kepada perdukunan, jimat, jabatan, kekayaan, atau gelar, berarti belum sepenuhnya menghayati makna:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.”
Menurutnya, jika tauhid belum tertanam kuat, maka tawaf hanya menjadi aktivitas berjalan mengelilingi Ka’bah, sai hanya menjadi lari-lari biasa, dan wukuf sekadar berpindah tempat tanpa meninggalkan bekas spiritual dalam jiwa.
Karena itu, haji yang mabrur lahir dari proses panjang pembinaan diri melalui ibadah-ibadah sebelumnya. Orang yang mencapai tahap ini akan datang ke Tanah Suci dengan hati yang bersih dan jiwa yang siap menerima cahaya Ilahi.
Dalam paparannya, Cecep juga mengingatkan bahwa haji pada hakikatnya merupakan panggilan dan undangan Allah Swt. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 27:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj [22]: 27)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa haji bukan semata-mata persoalan kemampuan finansial, tetapi juga panggilan Allah kepada hamba-Nya yang dianggap layak menjadi tamu-Nya.
Karena itu, ia mengkritik praktik-praktik yang memaksakan keberangkatan haji dengan cara-cara yang tidak benar, seperti menyalahgunakan jabatan, memotong antrean, atau menggunakan pengaruh demi memperoleh prioritas keberangkatan.
“Haji adalah undangan Allah. Menjadi tamu Allah harus dengan cara yang terhormat, bukan dengan menyikut hak orang lain,” tegasnya.
Lebih lanjut, Cecep menjelaskan bahwa talbiyah merupakan pernyataan cinta dan kepatuhan total kepada Allah.
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ
“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”
Talbiyah, menurutnya, merupakan deklarasi bahwa hanya Allah yang menjadi tujuan hidup seorang mukmin. Tidak ada lagi kepentingan duniawi, kesombongan jabatan, maupun kebanggaan harta yang menyertai perjalanan menuju Baitullah.
Pelajaran Besar dari Setiap Rukun Haji
Cecep kemudian menguraikan makna spiritual setiap rangkaian ibadah haji. Ihram mengajarkan kesetaraan manusia dan mengingatkan bahwa seluruh manusia akan kembali kepada Allah tanpa membawa pangkat maupun kekayaan.
Tawaf mengajarkan bahwa Allah harus menjadi pusat orientasi kehidupan. Ka’bah hanyalah simbol arah ketaatan, bukan objek yang dipertuhankan.
Sementara itu, sai mengajarkan pentingnya ikhtiar dan kerja keras. Keteladanan Siti Hajar menunjukkan bahwa pertolongan Allah datang kepada mereka yang berusaha dengan sungguh-sungguh.
Ia mengutip sabda Rasulullah saw.:
هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
“Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki karena orang-orang lemah di antara kalian?” (HR. Bukhari)
Hadis tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang sering kali ditopang oleh jasa dan pengorbanan orang-orang kecil yang kerap dipandang sebelah mata.
Bagi Cecep, wukuf di Arafah merupakan puncak perjalanan haji sekaligus miniatur kehidupan akhirat. Di tempat itulah manusia diajak merenungkan kelemahan dirinya, memohon ampunan Allah, dan memperbarui komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Arafah juga menjadi tempat Rasulullah saw. menyampaikan Khutbah Wada’, yang menegaskan pentingnya menjaga kehormatan, darah, dan hak-hak sesama manusia tanpa membedakan suku, ras, maupun status sosial.
“Di Arafah kita dilatih untuk mengingat hari ketika seluruh manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar dan mempertanggungjawabkan seluruh amalnya di hadapan Allah,” jelasnya.
Sementara itu, lempar jumrah menurut Cecep bukan sekadar melempar simbol setan, tetapi simbol perlawanan terhadap hawa nafsu dan godaan yang terus menyertai kehidupan manusia.
“Setan yang sesungguhnya bukan berada di dinding jamarat, tetapi ada dalam diri kita yang setiap hari berusaha menyeret manusia kepada keburukan,” katanya.
Karena itu, semangat jumrah harus terus dibawa pulang ke tanah air dalam bentuk komitmen melawan korupsi, keserakahan, ketidakjujuran, dan berbagai bentuk kemaksiatan lainnya.
Haji yang Mabrur untuk Membangun Bangsa
Pada bagian akhir pemaparannya, Cecep berharap seluruh jemaah haji Indonesia kembali ke tanah air sebagai pribadi-pribadi yang telah mengalami transformasi spiritual.
Jika para pejabat kembali dari haji dengan hati yang bersih, mereka akan menjalankan amanah secara jujur. Jika para pengusaha berhaji dengan benar, mereka akan membangun usaha secara berintegritas. Begitu pula rakyat biasa akan kembali menjadi pribadi yang lebih bertakwa dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Menurutnya, makna terdalam haji bukanlah gelar yang disandang setelah pulang dari Tanah Suci, melainkan perubahan moral yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.
“Haji yang mabrur harus melahirkan manusia yang lebih jujur, lebih amanah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih dekat kepada Allah. Jika itu terwujud, maka haji tidak hanya menyelamatkan individu, tetapi juga menjadi kekuatan moral yang memperbaiki bangsa,” pungkasnya.






