Jumat, 9 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

FOMO Bisa Menjadi Penyakit Hati yang Menggerus Kualitas Diri

Oleh ilham • • 4 Menit Min
FOMO Bisa Menjadi Penyakit Hati yang Menggerus Kualitas Diri

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, Nur Fajri Romadhon, mengingatkan generasi muda agar mewaspadai fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang kian marak di era media sosial.

Menurutnya, FOMO bukan sekadar tren psikologis, melainkan dapat berkembang menjadi penyakit hati yang berdampak pada kesehatan mental, bahkan fisik, apabila tidak dikelola dengan baik.

Pesan tersebut disampaikan dalam kajian interaktif yang digelar di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (20/6). Dengan gaya santai dan penuh humor, Nur Fajri mengajak peserta memahami fenomena FOMO dari perspektif psikologi, sosiologi, dan ajaran Islam.

Pada awal pemaparannya, ia mengaku pernah merasakan sendiri kecemasan akibat takut tertinggal informasi ketika menunggu kepastian penjemputan menuju sebuah acara. Pengalaman itu, menurutnya, membuat ia semakin memahami bagaimana perasaan tidak nyaman yang dialami banyak anak muda ketika merasa tertinggal dari orang lain.

“Perasaan takut ketinggalan itu memang tidak nyaman. Kita terus mengecek pesan, menunggu kabar, dan merasa gelisah ketika tidak mendapat informasi yang kita harapkan,” ujarnya.

Menurut Nur Fajri, FOMO banyak dialami kelompok usia 18 hingga 34 tahun karena fase tersebut merupakan masa yang penuh ketidakpastian. Banyak anak muda belum mengetahui secara pasti masa depan mereka, mulai dari persoalan pendidikan, pekerjaan, hingga jodoh.

“Usia muda adalah masa penuh ketidakpastian. Belum jelas lulus kapan, bekerja di mana, atau siapa jodohnya. Dalam situasi seperti itu, orang menjadi lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kecenderungan tersebut juga berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Mengutip pemikiran para ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Khaldun, manusia secara naluriah ingin menjadi bagian dari komunitasnya. Karena itu, ketika melihat orang lain menikmati sesuatu yang sedang tren, muncul dorongan untuk ikut serta agar tidak merasa tertinggal.

Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua FOMO bersifat buruk. Dalam kadar tertentu, keinginan untuk tetap terhubung dengan lingkungan sosial adalah sesuatu yang wajar. Persoalan muncul ketika FOMO berkembang menjadi rasa iri, rendah diri, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.

Untuk menjelaskan hal tersebut, Nur Fajri mengangkat kisah Qarun dalam Surah Al-Qashash. Ia menggambarkan Qarun sebagai sosok yang gemar memamerkan kekayaan dan menganggap keberhasilannya semata-mata hasil kecerdasannya sendiri.

Ketika Qarun tampil dengan segala kemewahannya, sebagian masyarakat terpesona dan berkata: “Aduhai, seandainya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (Yā laita lanā mitsla mā ūtiya Qārūnu innahu lażū ḥaẓẓin ‘aẓīm) (QS. Al-Qashash: 79).

Menurut Nur Fajri, respons masyarakat terhadap Qarun menggambarkan gejala FOMO yang masih banyak ditemukan saat ini. Orang melihat kesuksesan orang lain, lalu merasa hidupnya kurang berarti.

“Ketika melihat orang sukses, ada yang kemudian sedih dan berkata, ‘Aku tidak akan bisa seperti dia.’ Dari sinilah muncul berbagai persoalan psikologis,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa FOMO yang berlebihan dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari overthinking, gangguan tidur, kecanduan hiburan digital, hingga perilaku-perilaku yang menjauhkan seseorang dari nilai-nilai agama.

Dalam perspektif Islam, Nur Fajri menilai FOMO yang berlebihan dapat dikategorikan sebagai penyakit hati. Ia mengaitkannya dengan konsep hasad atau dengki yang dibahas para ulama klasik.

Mengutip definisi Ibn Qayyim al-Jawziyyah, hasad adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua FOMO identik dengan hasad. Banyak orang yang justru melampiaskan FOMO dengan merendahkan diri sendiri dan terus-menerus menyalahkan dirinya.

Padahal, Islam melarang sikap semacam itu. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 11: “Janganlah kalian mencela diri kalian sendiri.”

Menurutnya, seorang Muslim tidak boleh terjebak dalam sikap pesimis dan merasa rendah. Bahkan ketika mengalami kegagalan, Islam mengajarkan optimisme dan harapan.

Ia kemudian mencontohkan bagaimana Allah menghibur kaum Muslimin setelah Perang Uhud melalui firman-Nya: “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 139)

Menurut Nur Fajri, ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak menghendaki umatnya tenggelam dalam kesedihan berkepanjangan.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya lingkungan pergaulan yang sehat. Salah satu cara mengatasi FOMO adalah memiliki lingkaran pertemanan yang saling menguatkan dan memberikan energi positif.

Ia mencontohkan bagaimana Khadijah binti Khuwailid memberikan dukungan kepada Nabi Muhammad ketika pertama kali menerima wahyu. Saat Nabi merasa cemas dan takut, Khadijah tidak memperburuk keadaan, melainkan mengingatkan berbagai kebaikan yang dimiliki beliau sehingga kembali tumbuh rasa percaya diri.

“Ketika seseorang sedang merasa tidak mampu, tugas sahabat dan orang-orang terdekatnya adalah menghadirkan optimisme, bukan menjatuhkan,” katanya.

Lebih lanjut, Nur Fajri menyebutkan tiga langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan FOMO. Pertama, membangun lingkungan pertemanan yang sehat dan suportif. Kedua, memperbaiki orientasi hidup dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad saw.:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ

“Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan selalu tampak di depan matanya.”

Sebaliknya, orang yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidup akan memperoleh ketenangan batin dan rasa cukup dalam hidupnya.

Adapun langkah ketiga adalah mengubah FOMO menjadi motivasi positif. Ia menyebutnya sebagai “FOMO yang sehat”, yakni ketika seseorang terdorong melakukan kebaikan karena melihat keberhasilan orang lain.

“Kalau teman-teman sudah sidang skripsi, kita ikut semangat menyelesaikan skripsi. Kalau teman-teman aktif dalam kegiatan positif, kita ikut termotivasi. Kesuksesan orang lain dijadikan inspirasi, bukan alasan untuk bersedih,” ujarnya.

Di akhir kajian, Nur Fajri juga menganjurkan praktik digital fasting atau puasa digital. Menurutnya, terlalu sering melihat pencapaian dan kemewahan orang lain di media sosial dapat memperparah FOMO.

Ia mengutip firman Allah dalam Surah Thaha ayat 131: “Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia.”

Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk lebih banyak mensyukuri nikmat yang dimiliki daripada terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.

“Jangan sampai FOMO membuat kita kehilangan ketenangan. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan sumber kegelisahan. Dengan begitu kita bisa tumbuh menjadi generasi Muslim yang berkualitas,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan