Kamis, 1 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

‘Aisyiyah Soroti Fenomena Childfree: Pernikahan dan Kehadiran Anak Bagian dari Ibadah dan Amanah

Oleh ilham • • 4 Menit Min
‘Aisyiyah Soroti Fenomena Childfree: Pernikahan dan Kehadiran Anak Bagian dari Ibadah dan Amanah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Fenomena childfree atau pilihan untuk tidak memiliki anak setelah menikah kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Isu ini semakin ramai diperbincangkan di media sosial seiring munculnya berbagai narasi yang mengaitkan childfree dengan kebebasan hidup, stabilitas finansial, hingga anggapan dapat menjaga penampilan dan tetap awet muda.

Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Casmini, menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, pernikahan merupakan bagian dari ibadah yang memiliki tujuan mulia, termasuk melahirkan dan meneruskan generasi.

Hal itu disampaikan Casmini dalam podcast Harmoni Keluarga yang tayang pada Jumat (29/5), ketika membahas fenomena childfree yang belakangan semakin banyak diperbincangkan oleh generasi muda.

Menurut Casmini, fenomena ini cukup mengejutkan karena menunjukkan adanya perubahan cara pandang sebagian masyarakat terhadap pernikahan dan keluarga. Ia menyinggung hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022–2023 yang menunjukkan adanya sejumlah perempuan usia produktif yang menyatakan memilih untuk tidak memiliki anak.

“Ini menunjukkan adanya perubahan pandangan terhadap pernikahan. Padahal salah satu tujuan pernikahan dalam Islam adalah memperoleh keturunan. Dalam kajian fikih, hal ini berkaitan dengan hifz al-nasl, yaitu menjaga keberlangsungan generasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Islam memandang pernikahan sebagai sarana membangun keluarga sakinah sekaligus bagian dari ibadah yang dijalankan sepanjang kehidupan. Karena itu, kehadiran anak tidak semata-mata dipahami sebagai konsekuensi biologis, tetapi juga sebagai amanah yang memiliki nilai spiritual.

Faktor Ekonomi hingga Trauma Masa Kecil

Casmini mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah faktor yang mendorong seseorang memilih childfree. Faktor pertama adalah persoalan ekonomi dan sosial.

Menurutnya, sebagian generasi muda memandang kehadiran anak sebagai tambahan beban finansial, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga biaya pendidikan yang semakin tinggi.

“Sebagian orang berpikir jika memiliki anak maka tanggung jawab ekonominya semakin besar. Mereka melihat biaya hidup dan pendidikan yang terus meningkat sehingga memilih untuk tidak memiliki anak,” jelasnya.

Selain faktor ekonomi, Casmini menilai aspek psikologis juga berpengaruh besar. Pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan, pola pengasuhan yang tidak optimal, konflik orang tua, hingga perceraian dalam keluarga dapat meninggalkan trauma yang memengaruhi cara pandang seseorang terhadap pernikahan dan pengasuhan anak.

“Trauma masa lalu sering kali menimbulkan kecemasan berlebihan terhadap pernikahan. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh konflik bisa merasa takut mengulangi pengalaman yang sama ketika berkeluarga,” katanya.

Faktor lainnya adalah pengaruh media sosial yang dinilai turut membentuk persepsi baru tentang keluarga. Menurut Casmini, berbagai konten yang menampilkan kehidupan tanpa anak sebagai simbol kebebasan dan kenyamanan dapat memengaruhi cara pandang generasi muda.

“Media sosial sering menggambarkan childfree sebagai gaya hidup yang lebih bebas, lebih ringan, dan lebih menyenangkan. Narasi seperti ini kemudian diterima begitu saja tanpa melihat persoalan secara utuh,” ujarnya.

Untuk merespons fenomena tersebut, Casmini menekankan pentingnya penguatan spiritualitas dan literasi keluarga bagi generasi muda, terutama mereka yang berada pada usia menjelang pernikahan.

Ia mendorong adanya edukasi dan pelatihan pranikah yang tidak hanya membahas aspek teknis pernikahan, tetapi juga membangun ketahanan mental dan spiritual calon pasangan suami istri.

“Anak-anak muda perlu mendapatkan pemahaman yang utuh tentang pernikahan dan keluarga. Spiritualitas harus diperkuat agar mereka memiliki resiliensi dalam membangun rumah tangga,” katanya.

Selain itu, ia menilai literasi tentang keluarga juga perlu diperluas agar masyarakat memahami bahwa pernikahan bukan semata-mata urusan pribadi, tetapi memiliki dimensi sosial dan keagamaan yang penting.

Casmini juga mengingatkan pentingnya adaptasi metode dakwah dan pendidikan keluarga di tengah perubahan zaman serta derasnya arus informasi digital.

Pendampingan Psikologis bagi yang Mengalami Trauma

Terkait individu yang memilih childfree karena pengalaman traumatis di masa lalu, Casmini menilai pendekatan psikologis perlu dilakukan sesuai tingkat permasalahan yang dihadapi.

Menurutnya, apabila trauma yang dialami cukup mendalam dan memengaruhi kepribadian seseorang, maka konsultasi dengan tenaga profesional menjadi langkah yang penting.

“Jika traumanya cukup berat, perlu ada pendampingan psikologis. Pengalaman-pengalaman yang selama ini terpendam perlu diungkap dan diproses agar individu memiliki kesadaran serta pemahaman yang lebih sehat tentang dirinya dan kehidupan berkeluarga,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Casmini juga menanggapi anggapan bahwa memiliki anak hanya akan menambah beban hidup dan mengurangi kebebasan pribadi.

Ia menilai cara pandang seperti itu muncul ketika kehidupan keluarga hanya dilihat dari sisi tanggung jawab yang berat, bukan sebagai amanah yang bernilai ibadah.

“Hidup memang penuh tanggung jawab, tetapi dalam Islam tanggung jawab itu adalah amanah. Jika dijalani dengan niat ibadah, maka tidak akan terasa sebagai keterpaksaan,” ujarnya.

Ia bahkan menilai kehadiran pasangan dan anak dapat menjadi sumber dukungan emosional dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Hubungan keluarga yang sehat justru dapat membantu seseorang mengelola stres dan menemukan kebahagiaan dalam keseharian.

Menutup perbincangan, Casmini mengajak masyarakat untuk memandang pernikahan secara lebih utuh dan tidak menjadikannya sekadar tren ataupun pilihan gaya hidup sesaat.

“Menikah bukan sebuah tren, melainkan perjalanan nilai dan ibadah. Kehadiran anak adalah bagian dari perjalanan peribadahan yang insyaallah mengantarkan keluarga menuju keluarga yang sakinah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan