Jumat, 25 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Ulama Perempuan ‘Aisyiyah Harus Jadi Penggerak Perubahan Sosial

Oleh ilham • • 2 Menit Min
Ulama Perempuan ‘Aisyiyah Harus Jadi Penggerak Perubahan Sosial

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Aisyah menegaskan bahwa kehadiran ulama perempuan merupakan keniscayaan dalam gerakan dakwah Islam berkemajuan.

Menurutnya, perempuan tidak hanya memiliki hak untuk belajar agama, tetapi juga menjadi penggerak perubahan sosial melalui ilmu, fatwa, dan pendampingan masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam Konferensi dan Silaturahmi Nasional Ulama’ ‘Aisyiyah di Yogyakarta, Senin (18/05).

Dalam paparannya, Siti Aisyah menekankan bahwa tradisi keilmuan perempuan dalam Islam memiliki landasan teologis dan historis yang kuat. Ia mengingatkan bahwa sejak masa Nabi Muhammad SAW, para sahabiyah telah diberi ruang untuk belajar, mengajar, dan mendampingi perjuangan dakwah.

Menurutnya, spirit tafaqquh fiddin sebagaimana disebut dalam Surah At-Taubah ayat 122 menunjukkan bahwa pendalaman ilmu agama tidak boleh berhenti dalam situasi apa pun. Bahkan dalam kondisi perang sekalipun, umat Islam tetap diperintahkan menyiapkan kelompok yang memperdalam ilmu untuk membimbing masyarakat.

Ia juga menjelaskan bahwa konsep ulama dalam Al-Qur’an tidak terbatas pada penguasaan ilmu agama semata. Dalam Surah Fatir, ulama digambarkan sebagai sosok yang memahami berbagai bidang ilmu, mulai dari keislaman, kemanusiaan, sosial, hingga sejarah. Karena itu, menurutnya, ulama perempuan harus mampu hadir menjawab problem nyata masyarakat.

“Perempuan memiliki pengalaman dan perspektif tersendiri dalam menyelesaikan persoalan perempuan dan anak,” ujarnya.

Ia menambahkan, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Ulul Albab atau kalangan cendekiawan mencakup laki-laki maupun perempuan. Karena itu, tidak ada alasan untuk membatasi perempuan dalam pengembangan ilmu dan kepemimpinan keagamaan.

Siti Aisyah kemudian menyinggung sejarah panjang keterlibatan perempuan dalam dakwah Muhammadiyah. Ia menyebut sosok Siti Walidah sebagai teladan ulama perempuan yang aktif membina masyarakat melalui pendidikan dan dakwah.

Menurutnya, sejak awal ‘Aisyiyah memang tumbuh dari tradisi perempuan-perempuan yang belajar langsung kepada para kiai Muhammadiyah dan kemudian mengembangkan dakwah di tengah masyarakat.

Ia juga menyoroti bahwa suara dan pemikiran ulama perempuan hingga kini masih belum banyak menjadi rujukan utama di ruang publik. Karena itu, diperlukan upaya kolektif untuk memperkuat kapasitas, otoritas keilmuan, dan kontribusi sosial ulama perempuan.

“Sering kali ulama perempuan belum cukup diperhitungkan, baik tulisan maupun pandangannya,” katanya.

Dalam konteks kaderisasi, ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah sejak awal telah menyiapkan sistem pendidikan untuk melahirkan pemimpin, ulama, dan pendidik. Tradisi tersebut terus dilanjutkan melalui berbagai lembaga pendidikan kader dan pesantren putri yang dikembangkan ‘Aisyiyah di berbagai daerah.

Siti Aisyah juga memaparkan lima karakter utama ulama ‘Aisyiyah:

  1. Pertama, memiliki kesalehan individual dan sosial yang kuat.
  2. Kedua, mampu menggerakkan masyarakat melalui ilmu dan fatwa.
  3. Ketiga, mendalami disiplin ilmu keislaman seperti tafsir, hadis, dan fikih.
  4. Keempat, menguasai Bahasa Arab dan Bahasa Inggris agar mampu membaca khazanah klasik dan wacana Islam kontemporer.
  5. Kelima, memiliki pandangan wasathiyah atau moderat sesuai prinsip Islam Berkemajuan.

Menurutnya, karakter tersebut penting agar ulama perempuan tidak hanya kuat secara spiritual dan intelektual, tetapi juga relevan dalam menjawab tantangan zaman.

Tinggalkan Balasan