Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Soal Akidah, Islam Tidak Mengajarkan “Percaya Buta”

Oleh ilham 3 Menit Min
Soal Akidah, Islam Tidak Mengajarkan “Percaya Buta”

MUHAMMADIYAH.OR.ID, DEPOK — Dalam sebuah kajian webinar yang disiarkan IHKAM TV pada Jumat (8/5), Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, Nur Fajri Romadhon, menegaskan bahwa akidah Islam dibangun di atas landasan ilmiah, rasional, dan berbasis dalil.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bagaimana Islam memadukan akal, pengamatan empiris, dan periwayatan yang kuat dalam membentuk keyakinan terhadap Allah, kenabian, dan wahyu.

Menurutnya, proses berpikir ilmiah dalam akidah dimulai dari pengamatan manusia terhadap dirinya dan alam semesta. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Fussilat ayat 53, “Sanurihim ayatina fil afaqi wa fi anfusihim…” sebagai dasar bahwa manusia diperintahkan memperhatikan tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam dan dalam dirinya sendiri.

Nur Fajri mencontohkan bahwa keberadaan alam semesta secara logis menunjukkan adanya pencipta.

“Kalau kita membuka pintu lalu melihat ada paket di depan rumah, otomatis kita menyimpulkan ada yang mengantar. Tidak perlu melihat langsung siapa pengantarnya. Begitu pula alam semesta, sesuatu yang tadinya tidak ada lalu menjadi ada pasti ada yang mengadakan,” ujarnya.

Nur Fajri menilai konsep kausalitas merupakan fitrah berpikir manusia yang tidak mungkin disangkal sepenuhnya. Bahkan, kata dia, orang yang berusaha membantah kausalitas tetap menggunakan logika sebab-akibat dalam bantahannya. Dari kesimpulan adanya pencipta itu, manusia kemudian sampai pada keyakinan tentang Tuhan yang Mahakuasa, Maha Mengetahui, Maha Pengasih, dan Mahabijaksana.

Ia lalu menjelaskan tahapan berikutnya dalam akidah, yakni keyakinan bahwa Tuhan mengutus nabi dan menurunkan wahyu. Menurutnya, kenabian dibuktikan melalui mukjizat, kejujuran para nabi, serta kesesuaian ajaran yang mereka bawa.

Untuk menjelaskan konsep mukjizat, ia memberikan analogi seorang presiden yang meminta rakyat biasa menyampaikan pengumuman penting. Agar masyarakat percaya, presiden tersebut melakukan tindakan khusus yang sebelumnya tidak pernah dilakukan sebagai tanda bahwa orang itu benar-benar utusannya.

“Begitulah mukjizat. Kalau seseorang benar-benar nabi, maka Allah akan mendukungnya dengan tanda-tanda yang tidak mampu dilakukan manusia biasa,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa wahyu Islam sampai kepada umat melalui jalur periwayatan yang sangat kuat dan masif lintas generasi. Al-Qur’an, katanya, diriwayatkan secara mutawatir, sementara hadis-hadis juga dijaga melalui sistem transmisi ilmiah yang ketat oleh para ulama.

Dalam kesempatan itu, Nur Fajri turut mengutip penelitian orientalis dari Leiden University mengenai kesesuaian mushaf Al-Qur’an saat ini dengan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad saw. Ia menyebut penelitian tersebut memperlihatkan bahwa teks Al-Qur’an terjaga secara sangat akurat hingga tingkat kata per kata.

Ia kemudian mengkritik pandangan fideisme, yakni paham yang menolak penggunaan akal dalam persoalan agama dan hanya menekankan “percaya saja” tanpa argumentasi rasional. Menurutnya, akidah Islam berbeda dengan fideisme karena Islam justru mendorong penggunaan akal dan dalil.

“Kalau ada syubhat yang belum bisa dijawab, bukan berarti kita mengatakan agama bertentangan dengan logika. Yang benar adalah kita belajar dan bertanya kepada ulama,” katanya.

Dalam pemaparannya, ia juga menyinggung kritik terhadap filsuf Barat seperti Immanuel Kant yang dianggap membatasi kemampuan akal dalam membahas keberadaan Tuhan. Menurut Nur Fajri, klaim bahwa “akal tidak bisa menjangkau Tuhan” justru menggunakan akal itu sendiri sehingga mengandung kontradiksi.

Selain itu, ia mengingatkan bahaya saintisme, yakni pandangan yang menganggap hanya sains empiris sebagai sumber kebenaran. Ia menyebut saintisme sering kali menghancurkan dirinya sendiri karena klaim “hanya yang bisa dibuktikan sains yang benar” tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Di akhir kajian, Nur Fajri menegaskan bahwa akidah Islam berdiri di atas tiga landasan epistemologis yang saling menguatkan: bukti empiris yang dapat diindra, rasio atau logika, dan periwayatan yang terpercaya. Karena itu, menurutnya, penguatan akidah berbasis ilmu dan argumentasi rasional perlu terus dikembangkan, terutama untuk generasi muda.

“Islam tidak antiakal. Akal, fitrah, dan wahyu justru saling mendukung dalam membimbing manusia menuju keyakinan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan