MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANGKALAN – Resmikan Masjid Al Huda Muhammadiyah di Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti minta masjid dijadikan wadah pemersatu dan pendidikan.
Pesan itu disampaikan Mu’ti yang hadir secara langsung di Kabupaten Bangkalan pada (1 /5). Di hadapan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Madura Raya, Mu’ti menyampaikan, antara Muhammadiyah dengan NU bagaikan dua sayap garuda yang membawa Indonesia terbang.
Sebelum agenda peresmian Masjid Al Huda Muhammadiyah ini, Mu’ti terlebih dahulu melakukan kunjungan ke SD Negeri Kajuanak 4 yang pernah roboh pada tahun 2024 lalu. Kedatangan Mu’ti ke SDN Kajuanak ini guna memastikan bahwa sekolah ini akan mendapat program revitalisasi.
“Karena itu kami tadi menyampaikan kepada kepala sekolahnya insyaallah nanti kita bantu empat rehab ruang kelas yang rusak, ditambah dua ruang kelas baru ditambah ruang administrasi, ditambah ruang UKS, ditambah toilet,” ungkap Mu’ti.
Sementara itu, terkait dengan keberadaan Masjid Al Huda Muhammadiyah, Mu’ti berharap masjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah khusus, tapi juga sebagai pusat pendidikan dan peradaban.
Mengajak pada persatuan maka masjid yang dibangun oleh Muhammadiyah, tambahnya, tidak boleh menjadi Masjid Dhirar – yaitu sebuah masjid yang dibangun oleh orang munafik untuk memecah belah umat Islam dan menyaingi Masjid Quba di Madinah saat itu.
Alih-alih menyebut kekuatan masjid ada pada pondasi fisik bangunan, Mu’ti justru menyebut yang utama untuk dikokohkan adalah pondasi iman dan takwa. Jangan sampai masjid sudah berdiri, keimanan dan ketakwaan umat Islam di sekitar masjid justru semakin mengecil.
Tidak hanya sampai di situ, masjid Muhammadiyah khususnya juga harus makmur dan memakmurkan. Artinya yang makmur, ramai, dan gagah arsitekturnya masjidnya saja, tapi kehidupan masyarakat di sekitarnya juga harus makmur. Ini yang disebut sebagai masjid berdampak.
“Selanjutnya itu masjid yang menjadi tempat di mana berbagai persoalan itu diselesaikan di masjid. Tadi disampaikan masjid sebagai pusat peradaban, masjid sebagai pusat kebudayaan. Itu semua penting kita bangun,” kata Mu’ti.
Selain itu, menurut Mendikdasmen RI ini adalah membangun generasi masjid. Jangan sampai masjid itu megah, tapi jemaahnya kosong. Situasi tersebut harus menjadi renungan bersama. Sebab meski membangun masjid itu penting, tapi yang tidak kalah penting adalah membangun generasi masjid.






