MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Arianti Dina Puspitasari menegaskan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan membangun kehidupan yang adil secara sosial maupun ekologis.
Hal itu disampaikan dalam International Seminar bertajuk “From Grassroots to Policy: Young Women’s Leadership in Advancing Ecolivelihood for Sustainable and Just Societies” yang diselenggarakan PP Nasyiatul ‘Aisyiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (16/5).
Dalam pemaparannya, Arianti mengutip QS Ali Imran ayat 110 tentang umat terbaik yang menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa kualitas keimanan tidak hanya diukur melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kontribusi sosial terhadap manusia dan lingkungan.
“Umat Islam memiliki mandat moral untuk menciptakan sistem kehidupan yang tidak merugikan bumi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep keberlanjutan dalam Islam menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertugas menjaga keseimbangan (mizan), membawa kemakmuran, dan menghindari kerusakan (fasad). Karena itu, praktik ekonomi berkelanjutan bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga bagian dari ibadah dan tanggung jawab keagamaan.
Arianti menambahkan, Nasyiatul ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan muda Muhammadiyah terus mendorong kepedulian lingkungan melalui Gerakan Green Nasyiah. Gerakan tersebut dilakukan dengan meningkatkan kesadaran lingkungan, memperkuat kapasitas anggota, serta membangun kolaborasi di berbagai daerah seperti Solo dan Banyuwangi.
Selain itu, melalui program BUANA dan AKUNA, Nasyiatul Aisyiyah membekali anggotanya dengan keterampilan kewirausahaan, pemasaran produk halal, kepemimpinan, kerja sama tim, hingga komunikasi efektif untuk mendukung pemberdayaan ekonomi inklusif dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.
Sementara itu, Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah, Yayah Khisbiyah menyoroti krisis global yang saling berkaitan, mulai dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan ekologi, hingga ketimpangan sosial dan pengungsian akibat konflik.
“Keberlanjutan bukan hanya tentang memelihara alam, tetapi juga memelihara hubungan antara manusia dan alam semesta, antara komunitas dan keadilan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pengakuan terhadap perempuan akar rumput, khususnya perempuan muda, yang selama ini aktif menjalankan kerja-kerja lingkungan dan sosial meski sering tidak terlihat. Dalam hal ini, Yayah turut menegaskan pentingnya kerja sama berbasis komunitas dalam menghadapi tantangan global. Menurutnya, persoalan dunia tidak cukup diselesaikan melalui diplomasi negara atau negosiasi elite, tetapi memerlukan kolaborasi yang berakar pada kemanusiaan dan pengalaman komunitas.
Melalui LHKI PP Muhammadiyah, lanjutnya, Muhammadiyah juga mengembangkan program pembangunan perdamaian bagi pemuda Palestina melalui Palestinian Peace Building Labs. Program tersebut berfokus pada penyembuhan trauma, dialog, dan penguatan kepemimpinan non-kekerasan di tengah masyarakat terdampak konflik.
“Forum seperti ini sejalan dengan visi Islam Berkemajuan Muhammadiyah yang membuka ruang kolaborasi, kepemimpinan perempuan, dan gerakan sosial lintas batas untuk menciptakan masa depan yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan,” pungkas Yayah. (Bunga)






