MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Nasyiatul Aisyiyah menunjukkan komitmennya untuk menggerakkan budaya literasi digital yang progresif dan berbasis nilai Islam terutama untuk perempuan dan anak.
Komitmen tersebut dilakukan melalui kegiatan Kemah Literasi Nasyiatul Aisyiyah (Katalina) yang digelar di Gedung Muhammadiyah Supeno Yogyakarta pada Sabtu-Ahad (2-3/5).
Katalina menjadi wadah bertemunya pengelola Rumah Literasi Nasyiatul Aisyiyah (Ralina) dan kader Nasyiah pegiat literasi. Melalui Ralina, gerakan tersebut dibangun di berbagai level kepemimpinan, mulai ranting, cabang, daerah, hingga wilayah.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) menegaskan Ralina bukan sekadar tempat berkumpul anak-anak dan taman baca. Lebih dari itu, Ralina adalah tempat bagi siapa saja, secara umum, untuk belajar bersama.
“Ralina diharapkan menjadi ruang aktivitas penguatan kader, belajar bersama, dan ada keterampilan yang dimiliki sebagai hasil dari membaca buku,” ujar Ariati.
Di hadapan peserta yang hadir secara langsung dan daring (hybrid), Ariati juga menyampaikan secara strategis Ralina bisa menjadi bagian dari dakwah kultural NA yang menjangkau akar rumput lebih luas.
Di era post truth, perluasan strategi dakwah secara kultural perlu dilakukan sebagai bentuk penyesuaian, utamanya terhadap generasi Z dan generasi selanjutnya.
“Kita jadikan Ralina pusat dakwah kultural NA, tempat menyemai kader-kader dan perempuan tangguh yang siap tumbuh menghadapi era post truth dan disrupsi, juga tempat anak-anak bermain Bersama. Kita siapkan anak-anak menjadi generasi salih-salihah yang Tangguh dan siap menghadapi berbagai fenomena dan kejadian tak terduga di masanya,” urai Ariati.
Katalina menjadi keberlanjutan dari program “Peningkatan Literasi Kesetaraan untuk Masyarakat dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan” Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen pada akhir 2024 serta Temu Ralina pada pertengahan 2025.
Peserta Katalina akan dibekali pengetahuan dan keterampilan yang aplikatif, di antaranya pemberdayan perempuan melalui rumah baca komunitas, pelatihan penulisan jurnalistik yang adil gender, praktik Menyusun rilis dan berita, penyusunan manajemen konten organisasi, dan coaching clinic kendala pengelolaan media organisasi.
Melalui Katalina, Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah menargetkan terbentuknya jaringan pegiat literasi dan konten kreator Nasyiah se-Indonesia, peningkatan kapasitas penulisan dan pembuatan konten serta pemahaman etika digital, juga tersusunnya rencana aksi literasi digital dan dakwah positif di setiap daerah melalui publikasi karya video, artikel, dan kampanye digital bersama.






