Setiap kali Ramadan tiba, umat Islam selalu diselimuti suasana peribadatan yang begitu kuat. Masjid-masjid dipenuhi jamaah yang khusyuk membaca Al-Qur’an, berlomba mengkhatamkan 30 juz, memperbanyak sedekah, dan menghidupkan malam dengan qiyamul lail.
Terlebih pada sepuluh malam terakhir Ramadan, atmosfer ibadah terasa semakin pekat. Hampir setiap detik digunakan untuk mendekat kepada Allah SWT.
Suasana berbuka puasa pun menjadi momen yang penuh kehangatan. Pengurus masjid menyediakan hidangan terbaik, masyarakat berbondong-bondong menghadiri kajian, dan semangat kebersamaan tumbuh dengan begitu indah. Ramadan seolah menjadi bulan yang benar-benar mampu menggerakkan umat untuk beribadah secara kolektif.
Namun, pertanyaan pentingnya adalah: mengapa semangat serupa tidak banyak terlihat ketika memasuki sepuluh hari pertama bulan Zulhijah?
Padahal, Rasulullah SAW justru menegaskan bahwa hari-hari tersebut merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh. Akan tetapi, realitasnya masjid-masjid sering kali tidak seramai Ramadan. Puasa sunnah, tilawah Al-Qur’an, maupun qiyamul lail belum menjadi tradisi yang hidup di tengah masyarakat ketika Zulhijah datang.
Dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ» يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: «وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ»
Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini,” yaitu sepuluh hari pertama Zulhijah. Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi SAW menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang berangkat dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun dari keduanya.” (HR. Bukhari).
Hadis ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan sepuluh hari pertama Zulhijah. Amal saleh yang dilakukan pada hari-hari tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah SWT, bahkan melebihi jihad, kecuali jihad yang dilakukan dengan pengorbanan total.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
«مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ»
“Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah untuk digunakan beribadah kepada-Nya daripada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Puasa setiap harinya sebanding dengan puasa satu tahun, dan qiyamul lail setiap malamnya sebanding dengan qiyamul lail pada malam Lailatul Qadar.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi).
Keutamaan ini menunjukkan bahwa sepuluh hari pertama Zulhijah sejatinya memiliki kemuliaan yang sangat besar. Puasa sunnah pada hari-hari tersebut bernilai luar biasa, begitu pula ibadah malamnya. Ini adalah kesempatan emas yang sering kali luput dari perhatian umat.
Karena itu, sudah saatnya umat Islam menghidupkan kembali syiar sepuluh hari pertama Zulhijah. Masjid-masjid perlu diramaikan dengan tilawah Al-Qur’an, dzikir, puasa sunnah, qiyamul lail, dan kajian keislaman. Keluarga, tetangga, serta kader-kader Muhammadiyah dapat diajak bersama-sama membangun tradisi ibadah yang hidup dan menggembirakan.
Sebagaimana Ramadan memiliki atmosfer spiritual yang kuat, Zulhijah pun seharusnya menjadi momentum kebangkitan ibadah umat. Jangan sampai hari-hari terbaik yang begitu dicintai Allah justru berlalu dalam suasana biasa-biasa saja.
Zulhijah bukan sekadar bulan kurban, tetapi juga bulan penghambaan. Di dalamnya terdapat peluang besar untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat ketakwaan, dan menghidupkan kembali semangat kolektif umat dalam mendekat kepada Allah SWT.






