Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Iduladha dan Krisis Moral Bangsa: Saatnya Menyembelih Nafsu Kekuasaan

Oleh ilham 3 Menit Min
Iduladha dan Krisis Moral Bangsa: Saatnya Menyembelih Nafsu Kekuasaan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Menjelang Iduladha 1447 Hijriah yang menurut Kalender Hijriah Global Tunggal akan jatuh pada 27 Mei 2026, Anggota Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Aziz, mengajak umat Islam memaknai kurban sebagai momentum menyembelih ego, kerakusan, dan kecintaan berlebihan terhadap kekuasaan serta harta benda.

Pesan itu disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Jumat (22/05). Dalam khutbahnya, Aziz menyoroti kondisi bangsa yang masih dibelit persoalan kesejahteraan, kemiskinan, pengangguran, hingga krisis moral di tengah masyarakat.

“Bangsa kita masih banyak menyisakan masalah kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia yang menjadi cita-cita kemerdekaan masih jauh dari harapan,” ujarnya.

Ia menggambarkan bahwa di tengah penderitaan rakyat, publik justru disuguhi praktik korupsi yang marak, budaya hedonisme yang semakin mengakar, serta meningkatnya kriminalitas seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan perampokan.

Menurutnya, situasi tersebut menunjukkan adanya krisis kemanusiaan dan kemerosotan moral yang harus dijawab dengan semangat pengorbanan. “Berkorban. Inilah kata kunci agar kita bisa keluar dari krisis kemanusiaan moral dan melemahnya perekonomian yang menimpa negeri ini,” katanya.

Aziz menegaskan, selama ini kurban kerap dipahami hanya sebatas menyembelih kambing, sapi, atau unta. Padahal, menurut dia, penyembelihan hewan hanyalah simbol dari makna kurban yang lebih mendalam.

“Makna sesungguhnya adalah bagaimana kita menyembelih ego, sifat rakus, cinta berlebihan terhadap harta dan jabatan atau kekuasaan,” tegasnya.

Karena itu, Iduladha dinilai harus menjadi momentum memperbarui semangat berkorban demi kepentingan agama, bangsa, dan negara, bukan sebaliknya mengorbankan bangsa demi kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.

Dalam khutbahnya, Aziz banyak mengulas keteladanan Nabi Ibrahim AS sebagai figur utama dalam makna kurban. Ia menyebut keteguhan Ibrahim dalam mempertahankan tauhid sebagai pelajaran besar bagi umat Islam, termasuk ketika harus berhadapan dengan ayahnya sendiri yang disebut sebagai pembuat berhala.

Ia mengutip Surah At-Taubah ayat 114 tentang sikap Nabi Ibrahim yang akhirnya berlepas diri dari ayahnya ketika jelas menentang Allah. Menurut Aziz, hal itu menunjukkan keteguhan prinsip tauhid sekaligus kelembutan hati Ibrahim.

“Kata kurban berasal dari bahasa Arab, qoroba yuqoribu qurbanan, yang berarti dekat. Makna kurban berarti menyingkirkan hal-hal yang menghalangi kita mendekat kepada Allah,” ujarnya.

Penghalang itu, lanjutnya, dapat berupa ego, hawa nafsu, cinta kekuasaan, hingga kecintaan berlebihan terhadap harta benda. Dalam konteks inilah kisah penyembelihan Nabi Ismail dipahami bukan sekadar peristiwa historis, melainkan simbol pengorbanan paling puncak.

“Pesan mendasar dan abadi dari Ibrahim adalah sembelihlah anakmu. Artinya sembelihlah segala ego, kerakusan, dan nafsu yang ada di hatimu,” katanya.

Aziz juga menyoroti aspek kepemimpinan dalam kisah Ibrahim dan Ismail. Ia menilai seorang pemimpin dalam Islam sejatinya hadir untuk melayani rakyat, bukan meminta dilayani.

“Seorang pemimpin menurut Islam harus melayani dan mencintai, bukan dilayani,” ujarnya.

Menurut dia, keteladanan Ibrahim melahirkan tradisi kepemimpinan profetik yang kemudian diwariskan kepada para nabi setelahnya. Ibrahim disebut sebagai “abul anbiya” atau bapak para nabi karena dari keturunannya lahir nabi-nabi besar, mulai dari Ismail, Ishak, hingga Nabi Muhammad SAW.

Dalam bagian akhir khutbah, Aziz mengingatkan bahwa semangat berkorban sangat penting terutama bagi para elite bangsa. Ia menilai kehancuran suatu negeri bermula ketika para pemimpinnya berlaku zalim, fasik, dan mengabaikan hukum.

“Kalau kita tidak ada semangat berkorban dan mencintai, lebih-lebih kepada rakyatnya sendiri, bangsa ini akan hancur,” katanya.

Ia juga mengingatkan dimensi sosial dalam ibadah kurban, yakni melayani fakir miskin dan menolong kaum tertindas. Karena itu, ritual kurban tidak boleh berhenti pada aspek seremonial, tetapi harus melahirkan kepedulian sosial dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat luas.

Menutup khutbahnya, Aziz mengajak jemaah menjadikan Iduladha sebagai momentum refleksi untuk memperkuat nilai tauhid, kepemimpinan yang melayani, serta semangat pengorbanan demi kemaslahatan bersama.

Tinggalkan Balasan