Selasa, 6 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

‘Aisyiyah Gelar Konferensi Nasional Perdana Ulama Perempuan di Yogyakarta

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
‘Aisyiyah Gelar Konferensi Nasional Perdana Ulama Perempuan di Yogyakarta

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menggelar Konferensi dan Silaturahmi Nasional I Ulama ‘Aisyiyah di SM Tower Malioboro Yogyakarta, Senin (18/05). Forum yang untuk pertama kalinya diselenggarakan ini mempertemukan ulama perempuan ‘Aisyiyah dari seluruh Indonesia, baik secara luring maupun daring, untuk membahas berbagai isu keumatan dan kebangsaan dari perspektif Islam berkemajuan.

Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah menyebut konferensi tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kontribusi ulama perempuan di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks.

Mengusung tema “Konstruksi Pemikiran Ulama ‘Aisyiyah, Respons terhadap Isu Keumatan dan Kebangsaan”, kegiatan ini diikuti peserta dari 38 Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah se-Indonesia. Sebagian peserta hadir langsung di Yogyakarta, sementara lainnya mengikuti secara daring.

Ia menilai perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat menghadirkan tantangan baru bagi dunia keulamaan. Di sisi lain, masyarakat juga dihadapkan pada berbagai persoalan seperti krisis moral, polarisasi sosial, ketimpangan ekonomi global, hingga fenomena generasi muda yang mulai kehilangan pegangan hidup dan menjauh dari agama.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut hadirnya ulama perempuan yang mampu memberikan panduan keagamaan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“Forum ini adalah ruang silaturahmi intelektual untuk melahirkan gagasan strategis dan langkah konkret bagi peran ulama ‘Aisyiyah dalam kehidupan berbangsa,” ucap Salmah yang kemudian membuka acara konferensi ini secara resmi.

Sementara itu, Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Aisyah menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi bagian dari roadmap pengembangan ulama ‘Aisyiyah menuju lahirnya ulama perempuan yang tidak hanya berperan sebagai muballighat, tetapi juga mujtahidah yang mampu merumuskan keputusan hukum atas berbagai persoalan umat.

Ia menyebut forum tersebut akan membahas sejumlah tema strategis yang disusun berdasarkan hasil survei dan kebutuhan masyarakat kontemporer.

Salah satu pembahasan utama ialah tafsir tematik tentang perempuan yang mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an terkait kesetaraan laki-laki dan perempuan, kesehatan reproduksi, serta peran publik perempuan yang bebas kekerasan dan berlandaskan nilai rahmah.

Selain itu, peserta juga membahas fikih perempuan berkemajuan dengan pendekatan Manhaj Tarjih Muhammadiyah yang integralistik. Pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan pemahaman hukum Islam yang tidak parsial dan tidak meminggirkan perempuan.

Tema lain yang turut menjadi perhatian adalah pengembangan konsep maqasidus syariah, dari sekadar perlindungan menuju pemberdayaan atau tanmiah. Konsep tersebut mencakup perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, harta, kehormatan, hingga lingkungan hidup.

Siti Aisyah juga memaparkan lima karakter utama ulama ‘Aisyiyah:

  1. Pertama, memiliki kesalehan individual dan sosial yang kuat.
  2. Kedua, mampu menggerakkan masyarakat melalui ilmu dan fatwa.
  3. Ketiga, mendalami disiplin ilmu keislaman seperti tafsir, hadis, dan fikih.
  4. Keempat, menguasai Bahasa Arab dan Bahasa Inggris agar mampu membaca khazanah klasik dan wacana Islam kontemporer.
  5. Kelima, memiliki pandangan wasathiyah atau moderat sesuai prinsip Islam Berkemajuan.

Menurutnya, karakter tersebut penting agar ulama perempuan tidak hanya kuat secara spiritual dan intelektual, tetapi juga relevan dalam menjawab tantangan zaman.

Kegiatan Konferensi Ulama Perempuan ‘Aisyiyah Pertama

Berdasarkan jadwal kegiatan, konferensi berlangsung sepanjang hari dan dibagi dalam sejumlah sesi tematik. Sesi pertama membahas kemuliaan laki-laki dan perempuan dalam perspektif Al-Qur’an, termasuk isu kesetaraan dan perlindungan terhadap perempuan serta anak.

Sesi berikutnya mengangkat tema kesehatan reproduksi perempuan, busana muslimah berkemajuan, hingga persoalan keluarga sakinah dan perlindungan perempuan dalam rumah tangga. Adapun pada sesi sore, pembahasan diarahkan pada peran publik perempuan dalam membangun peradaban berkemajuan, termasuk isu kepemimpinan, profesi, dan kontribusi perempuan di ruang sosial-politik.

Konferensi ditutup dengan sidang pleno yang merumuskan simpulan tafsir tematik perempuan berkemajuan dan fikih perempuan berkemajuan sebagai bagian dari penguatan pemikiran ulama ‘Aisyiyah ke depan.

Dalam sambutannya, Siti Aisyah juga menyampaikan bahwa PP ‘Aisyiyah tengah merancang pembentukan asosiasi atau korps ulama ‘Aisyiyah sebagai ruang diskusi dan pengembangan keilmuan berkelanjutan.

“Ke depan diharapkan ulama ‘Aisyiyah dapat menjadi pemberi fatwa, solusi, konsultan, dan peneliti bagi umat dan bangsa,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan