MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Hidup berbangsa dan beragama yang sangat majemuk diperlukan nurani yang jernih dan kejujuran mendalam, terlebih melihat realitas politik yang berkembang di Indonesia akhir-akhir ini.
Pesan itu disampaikan Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal pada Sabtu (4/4) di Gedung Dakwah Muhammadiyah DKI Jakarta dalam Silarturahim Idulfitri 1447 H PWM DKI Jakarta.
Mengulas relasi panas-dingin antara Presiden Sukarno dengan Islam, Fathurrahman menjelaskan, setajam apapun perdebatan dan dialog yang terjadi ketika itu, namun kebesaran jiwa dan pengakuan keislaman menjadi penyatu di tengah ketegangan.
Hubungan baik antara Sukarno dan Ki Bagus Hadikusumo, maupun dengan Buya Hamka menurutnya layak dijadikan contoh oleh elit negeri ini di masa sekarang. Menurutnya, meski ketegangan terjadi antar mereka, tetapi sebagai muslim mereka tetap bersaudara.
Melihat situasi Indonesia masa kini, katanya, hilangnya nurani dan kejujuran menyebabkan Indonesia terbelah. Sedikit perbedaan pandangan politik bisa menjadi suluh yang mudah membakar bangunan persatuan bangsa.
Dalam konteks paham keagamaan, Fathur menyebut, konteks ini masih begitu keras dan perbedaan menjadi sangat lebar karena dipupuk oleh kebencian dari satu kelompok ke kelompok lainnya.
Berkaca dari peristiwa perang di Iran, menurutnya peta paham keagamaan terlihat gamblang. Yakni ada satu kelompok yang sangat membenci Iran, karena latar keagamaannya yang berbeda.
“Tetapi sekarang perhatikan saudara kita selalu terbelah. Sangat sederhana bagi kita, pak. Ketika kezaliman itu terjadi, wacanannya bukan urusan akidah,” kata Fathurrahman Kamal.
Oleh karenanya, dia mengajak kepada mubalig Muhammadiyah untuk melihat situasi dengan nurani dan kejujuran yang jernih. Sebab jika tanpa nurani dan kejujuran, bahkan seorang alim pun akan mengabaikan kezaliman.
Berbekal pengetahuan dan narasi-narasi yang dibangun melalui media sosial, imbuh Fathur, manusia sekarang lebih piawai dan kreatif dalam melakukan kerusakan, baik relasi sosial maupun kerusakan kehidupan lainnya.
“Kita kehilangan insight yang jernih. Bukan kita tidak punya referensi, bukan kita tidak punya rujukan, tetapi hati kita yang kotor,” tuturnya.
Maka Puasa Ramadan yang telah dilewati diharapkan meninggalkan jejak dalam kehidupan muslim. Kebaikan yang dilakukan selama Ramadan diharapkan tidak berhenti di waktu itu, tapi juga diteruskan sampai batas waktu yang tidak ditentukan.






