Rabu, 23 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Menyiapkan Generasi Tangguh di Era Digital dan Kuat secara Mental

Oleh ilham 3 Menit Min
Menyiapkan Generasi Tangguh di Era Digital dan Kuat secara Mental

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, Fadhlurrahman, menekankan pentingnya perhatian serius terhadap kualitas generasi mendatang dalam ceramah yang disampaikan di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Ahad (12/04).

Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah untuk tidak hanya fokus pada kondisi saat ini, tetapi juga memikirkan kesiapan generasi setelahnya dalam menghadapi tantangan kehidupan. Menurutnya, salah satu indikator utama adalah kedekatan anak dengan agama.

“Jika anak sudah taat kepada Allah, maka kepada orang tua pun akan taat. Sebaliknya, jika kepada Allah saja membangkang, kepada orang tua bisa lebih membangkang,” ujarnya.

Ia mengutip pesan Al-Qur’an agar orang tua takut meninggalkan generasi yang lemah, baik dari sisi iman, ilmu, maupun ekonomi. Namun, ia menegaskan bahwa kelemahan iman dan akhlak jauh lebih berbahaya dibandingkan kelemahan materi.

Fadhlurrahman juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi saat ini, khususnya dampak penggunaan gawai yang berlebihan. Ia menyebut fenomena “doom scroll” sebagai kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial tanpa arah yang jelas. Selain itu, ia mengingatkan bahaya “brain rot” atau penurunan kualitas berpikir akibat konsumsi konten instan yang minim nilai edukatif.

“Anak-anak sekarang lebih banyak terpapar konten singkat yang menghibur tapi tidak mendidik. Bahkan nasihat panjang dari orang tua kalah pengaruh dibanding satu lagu atau video pendek,” jelasnya.

Dalam konteks pendidikan anak, ia mengajak orang tua meneladani konsep pendidikan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, yakni tiga fase penting. Pertama, usia 1–7 tahun, anak perlu diajak bermain sambil diberikan kasih sayang. Kedua, usia 8–14 tahun, anak harus ditanamkan adab dan kedisiplinan. Ketiga, usia 15–21 tahun, anak diajak berdiskusi dengan pendekatan yang lebih lembut dan rasional.

Ia menekankan bahwa pada fase awal, kehadiran orang tua sangat penting, bukan sekadar memberikan fasilitas. Menurutnya, kurangnya interaksi emosional dapat berdampak pada kesehatan mental anak, sebagaimana dijelaskan dalam teori attachment oleh John Bowlby.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya metode kreatif dalam pendidikan, seperti menggunakan lagu-lagu islami untuk mengenalkan rukun iman, rukun Islam, serta kisah Nabi. Cara ini dinilai lebih efektif dibanding sekadar perintah atau hafalan kaku.

Dalam ceramahnya, ia juga mengkritisi pola asuh yang terlalu memanjakan anak. Ia mencontohkan kasus nyata seorang anak yang sejak kecil selalu dilayani dan tidak pernah mengambil keputusan sendiri, hingga akhirnya tidak siap menghadapi kehidupan saat dewasa.

“Anak itu perlu dilatih menghadapi kesulitan agar memiliki mental yang kuat,” tegasnya.

Lebih jauh, Fadhlurrahman menekankan pentingnya pembiasaan ibadah secara konsisten. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Kebiasaan ibadah yang rutin, menurutnya, akan membentuk karakter dan akhlak anak.

Ia juga mengingatkan orang tua agar mengedepankan kelembutan dalam mendidik, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad yang tidak pernah memarahi Anas bin Malik selama bertahun-tahun mendampingi beliau.

Dalam penutupnya, ia menegaskan bahwa kekuatan keluarga menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang saleh dan tangguh. “Jika keluarga kuat, insyaallah anak-anak akan aman. Maka hadirkan diri sebagai orang tua, bukan sekadar memberi fasilitas,” pesannya.

Ceramah tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut peran aktif orang tua dalam mendidik anak, baik dari aspek spiritual, emosional, maupun intelektual, demi melahirkan generasi yang siap menghadapi masa depan.

Tinggalkan Balasan