MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Royan Utsani menegaskan pentingnya berkunjung kepada orang-orang saleh, serta menjaga kedekatan dengan orang-orang berilmu sebagai bagian dari upaya menjaga iman dan akhlak.
Hal itu disampaikan dalam pengajian di Masjid KH Sudja Yogyakarta pada Kamis (16/04).
Dalam ceramahnya, Royan menjelaskan bahwa bermajelis, bersahabat, berkawan, dan menjalin mahabbah dengan orang-orang baik merupakan sarana penting untuk memperkuat kualitas keislaman seseorang.
Menurutnya, keberadaan majelis ilmu seperti kajian rutin menjadi pengingat bagi manusia agar tetap berada dalam jalan kebaikan.
“Senang itu kalau bergaul dengan orang-orang seperti ini, orang saleh, orang yang secara ilmu dan amal ibadah di atas kita. Karena itu penting sekali untuk menjaga iman dan akhlak kita,” ujarnya.
Ia mencontohkan bagaimana seseorang yang rutin hadir dalam majelis ilmu akan selalu diingatkan pada kebaikan, termasuk dalam urusan ibadah seperti haji, umrah, dan amal saleh lainnya. Dari lingkungan seperti itulah, seseorang akan terdorong untuk terus memperbaiki diri.
Royan kemudian mengaitkan hal tersebut dengan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam Surah Al-Kahfi, surat yang dianjurkan dibaca setiap malam Jumat dan hari Jumat. Ia menjelaskan bahwa kedudukan Surah Al-Kahfi memiliki dalil yang kuat, berbeda dengan sebagian riwayat tentang keutamaan Surah Yasin yang diperselisihkan sebagian ulama.
Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Kahfi: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.’” (QS. Al-Kahfi: 60)
Menurut Royan, kisah ini menunjukkan bahwa Nabi Musa diperintahkan Allah untuk mendatangi Nabi Khidir, seorang hamba saleh yang diberi rahmat dan ilmu khusus oleh Allah. Hal itu menjadi pelajaran penting bahwa sekalipun seorang nabi, tetap harus rendah hati untuk mencari ilmu kepada orang yang lebih mengetahui.
“Kalau ingin bertemu orang saleh, orang berilmu, itu harus dengan usaha. Nabi Musa saja harus berjalan jauh sampai Majma’ Al-Bahrain untuk bertemu Nabi Khidir,” katanya.
Ia juga menyoroti ayat: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65)
Dari ayat tersebut, lahir istilah ilmu laduni, yakni ilmu yang diberikan langsung oleh Allah kepada hamba pilihan-Nya. Meski demikian, Royan menegaskan bahwa manusia tetap wajib menempuh jalan belajar, adab, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Ia menambahkan, silaturahmi kepada orang saleh merupakan sarana pendidikan ruhani. Dalam hal ini, ia mencontohkan kisah Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang mengunjungi Ummu Aiman setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Saat keduanya datang, Ummu Aiman menangis. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab bahwa dirinya menangis bukan semata karena wafatnya Rasulullah, melainkan karena wahyu dari langit telah terputus.
Kisah itu menunjukkan betapa kuatnya hubungan hati para sahabat dengan Rasulullah SAW dan pentingnya menjaga hubungan dengan orang-orang yang memiliki kedekatan spiritual.
Royan juga mengingatkan keutamaan menjenguk orang sakit. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa siapa yang mengunjungi orang sakit atau saudaranya karena Allah, maka malaikat akan mendoakannya dengan kebaikan dan surga.
Menurutnya, sakit adalah salah satu ujian terbesar dalam kehidupan manusia, sebab saat sakit seseorang terhalang melakukan banyak amal saleh yang biasa ia lakukan. Karena itu, menjenguk orang sakit menjadi bentuk empati sekaligus sarana introspeksi diri agar lebih bersyukur atas nikmat sehat.
Selain itu, ia menjelaskan pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang baik. Rasulullah SAW menggambarkan perumpamaan teman yang saleh seperti penjual minyak wangi, sedangkan teman buruk seperti pandai besi.
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.”
Menurut Royan, manusia adalah anak lingkungan. Jika seseorang bergaul dengan orang saleh, maka minimal akan tertular kebaikannya. Sebaliknya, jika terus berada dalam lingkungan buruk, lambat laun akan ikut terbawa arus keburukan.
Ia menyinggung kisah Abu Thalib yang hingga akhir hayatnya tidak memeluk Islam secara terang-terangan, salah satunya karena kuatnya tekanan lingkungan dan teman-teman dekatnya seperti Abu Jahal.
“Al-mar’u ‘alā dīni khalīlih,” katanya mengutip hadis Nabi, bahwa seseorang itu tergantung agama teman dekatnya.






